M. Ali Amiruddin
M. Ali Amiruddin PNS

Ingin tetap menulis seperti bayi yang belajar merangkak kemudian berlari

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan featured

Golput Bukan Golongan Putih, tapi....

6 April 2014   14:08 Diperbarui: 12 Januari 2019   22:49 301 12 5
Golput Bukan Golongan Putih, tapi....
tribunnews

Berbicara tentang pernak-pernik pemilihan umum sepertinya tidak akan ada habisnya. Dari model kampanye, model stiker, baliho, model kemasan cendera mata yang serba unik, ada pula yang berkaitan dengan penyebutan kata Golput. Sebagaimana diketahui dan santer dibicarakan, golput artinya golongan putih meski kadang abu-abu.

Kalimat dan plesetan seringkali menjadi tenar dan mengikat erat di pikiran masyarakat. Tak hanya istilahnya yang aneh, tapi kesan yang sangat memalukan justru menjadi cerminan politik yang benar-benar tak pantas dibiarkan. Seperti kata mbah Urip, salah satu tetangga setelah terjadi perbincangan dengan beliau kemarin (5/4). Ketika beliau mengatakan "pemilu iki okeh seng golput." Dengan bahasa jawa yang kental seperti tanpa tersurat makna lain.

Tapi setelah saya menanyakan kembali maksudnya apa kog banyak yang golput kan dilarang. Beliau menjawab "golput kui Golongan Pencari Uang Tunai". Seketika itu saya menjadi tertawa-tawa bahwa hakekatnya orang kecil pun sebenarnya tahu hakekat golongan putih tapi dalam konteks yang berbeda.

Golput dengan pemaknaan sebagai masyarakat yang ogah memilih ternyata diplesetkan dengan istilah lain yaitu Golongan Pencari  Uang Tunai. Plesetan ringan tapi cukup mengena. Sebenarnya sederhana tapi cukup panas ditelinga jika mendengarnya.

Bagaimana bisa ya golongan putih menjadi golongan pencari uang tunai? Coba saja Anda amati sendiri di negeri ini siapa sebenarnya sosok golput ini.

Penyebutan sosok golput sebagaimana pengertian mbah Urip tadi hakekatnya semakin menunjukkan belang-belang dari sosok yang katanya golongan putih. Golongan yang "katanya" kecewa karena pemerintah yang tidak mengerti aspirasi rakyat ternyata dengan pernyataan tersebut semakin memperkuat dugaan saya bahwa para golput itu marah-marah pada pemerintah karena tidak mendapatkan angpau yang besar. Bahasa lainnya mereka yang menyuarakan golput boleh jadi karena kecewa karena tidak mendapatkan lahan basah karena sosok yang diunggulkan tidak lulus seleksi KPU.

Tak hanya karena tidak lulus KPU menurut versi para politisi, karena para golputer ini tidak "kecipratan" uang panas karena gagal mentas di pemilihan umum karena partai politiknya tidak lulus uji electoral threshold karena memang partai kecil. Atau karena mimpi mendapatkan proyek dari si "anu" harus kandas lantaran jagonya terjungkal tatkala pemilu. Aneh bukan?

Fenomena golput jika dicermati sebenarnya bukan muncul dari kalangan "wong cilik" tapi sebuah strategi politik untuk mengerem simpati masyarakat terhadap sosok partai penguasa pada masanya. Kebetulan golkar merupakan partai penguasa yang dianggap lalim dengan perolehan suara 100% meskipun cara-cara yang digunakan tidak patut. Ada banyak kecurangan baik di TPS maupun sampai penetapan di KPU pusat penuh dengan intrik dan taktik curang.

Maka wajar saja partai kecil maupun oposisi  (PPP dan PDI) tak ingin kalah taktik. Maka muncullah istilah golongan putih. Golongan yang tidak mau memilih golkar.

Bukti tersebut ternyata pelan-pelan terbukti, tatkala mereka mengatakan sebagai golongan putih ternyata dibalik nama tersebut justru tersirat makna yang dalam bahwa mereka tak mau memilih jika tidak dapat hasilnya. Dengan kata lain saya tidak milih kalau nggak dapet apa-apa. Dan bahasa kasarnya lagi Sampeyan mau dipilih? Terus Wani Piro?

Sebuah buntut kekecewaan yang mendalam yang mengakibatkan kemunduran sikap berdemokrasi secara sehat karena image negatif bahwa percuma saja milih ujung-ujungnya dia-dia lagi yang menang.

Sewaktu Golkar mendominasi suara, PDI dan PPP pun kecewa. Namun kekecewaan mereka bukannya membubarkan diri tapi justru membuat gerakan anti memilih (golput). Dan terbukti berhasil. Sampai saat ini ide golput masih saja mengemuka. Nah, pemerintah dan parlemen mayoritas pun mulai klimpungan dengan aksi golput ini karena demokrasi tak kan sukses tanpa adanya pemilih. Dan dapat berdampak reses politik. Makanya dibuatlah undang-undang tetang "kewajiban memilih" agar siapa saja yang mengajak golput dapat tertangkap karena termasuk delik makar. Tindakan menghasut dan mempengaruhi masyarakat untuk tidak memilih.

Apalagi paska kekalahannya melawan Demokrat, PDIP mengeluarkan ultimatum untuk menjadi partai oposisi. Oposisi sementara karena suaranya tidak mendominasi. Tapi saat ini ketika dirasa PDIP memiliki suara yang kuat, akhirnya mereka pun bangkit lagi dan mengatakan jangan golput. Memilihlah karena kau pasti memilihku. Sebuah ambiguitas sikap dalam politik yang terkadang terlihat senewen.

Fakta ini tidak hanya menjadi citra buruk politik di Indonesia, masyarakat yang tak tahu menahu urusan politik pun akhirnya terkontaminasi virus golput "wani piro" ini.

Dampaknya yang muncul adalah malaikat-malaikan kebaikan yang memanggul uang sogokan. Memberikan suara karena mendapatkan lembaran-lembaran rupiah. Politik transaksional. Jual beli suara menjadi kewajiban dalam politik kekinian.

Dampaknya lagi pemilu hanyalah bagian terburuk dari citra demokrasi yang mendulang suara bukan karena nurani pemilih tapi karena uang yang mereka dapatkan. Semakin banyak uang diberikan kepada pemilih, maka akan semakin banyak suara yang didapatkan.

Kalau semakin banyak pemilih yang bermental golput ini, sejatinya negara ini akan semakin terpuruk dan diambang kehancuran karena para wakil rakyat yang terpilih adalah sosok-sosok manis tapi memiliki mental yang buruk. Mental korupsi dengan jargon konyol siapa yang beruang maka dialah yang menang.

Salam