Sucahya Tjoa
Sucahya Tjoa

Saya seorang pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis. http://sucahyatjoa.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Apakah Kebijakan Tarif Baru Trump Akan Memicu Perang Dagang Dunia?

14 Maret 2018   21:06 Diperbarui: 15 Maret 2018   10:02 708 1 0
Apakah Kebijakan Tarif Baru Trump Akan Memicu Perang Dagang Dunia?
gsmbasics.com.ng

Pemerintah Trump di AS mengumumkan bahwa mereka  akan menaikkan tarif impor baja dan aluminium, sedangkan Uni Eropa mengungkapkan bahwa mereka akan mengumumkan daftar tarif pembalasan sebesar 25% lebih banyak untuk produk AS tertentu, yang akan melibatkan hingga 3,5 miliar USD.

Apakah perang dagang benar-benar akan melanda dunia?

Terlepas dari apakah perang dagang akan terjadi atau tidak antara Uni Eropa dan AS, yang jelas Trump telah "menarik pelatuk untuk perang tarif" itu berarti "proteksionime perdagangan AS telah memasuki tahap implementasi                                                                        nyata."

Jadi apakah itu berarti AS benar-benar akan menutup pintu globalisasi? Lalu apakah itu globalisasi?

Globalisasi adalah dimana orang-orang dari berbagai belahan dunia bekerja sama. Mereka membeli dan menjual barang satu sama lain, dan mereka berkunjung bahkan tinggal di negara-negara masing-masing.

Dengan AS telah menandatangani rencana tarif membuat seluruh dunia menjadi nervous.

Pada sore hari 8 Maret, waktu setempat di AS, Presiden AS Donald Trump menandatangani sebuah dekrit di Gedung Putih: bea masuk dikenakan pada baja dan aluminium dari semua negara, namun Meksiko dan Kanada untuk sementara dibebaskan.

CNBC AS melaporkan bahwa kecuali dua anggota Amerika Utara yang dibebaskan, "Gedung Putih akan memberi kesempatan kepada negara-negara lain untuk memberi alasan mengapa mereka tidak diikut-sertakan dalam perkecualian."

Dibandingkan dengan sikap keras seminggu yang lalu, pemerintah Trump sepertinya telah mereda.

Dalam tweeternya Trump megatakan: "Industri baja dan Aluminium kita (dan banyak lainnya) telah hancur oleh kebijakan perdagangan dan kebijakan yang tidak adil selama bertahun-tahun dengan negara-negara dari seluruh dunia. Kita tidak boleh membiarkan negara kita, perusahaan dan pekerja dimanfaatkan lagi. Kita ingin kebebasan, keadilan dan Smart Trade!"

trump-tweeter-1-5aa92ba8caf7db4f6b549f22.png
trump-tweeter-1-5aa92ba8caf7db4f6b549f22.png

Sumber: twitter.com/realDonaldTrump

Pada hari Rabu pagi, 1 Maret, waktu setempat, Presiden AS Donald Trump memulai dengan tweet diatas ini yang membuat Gedung Putih kacau.

Hari itu, Trump mengumpulkan para pemimpin dari 15 perusahaan baja dan aluminium utama AS, dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih untuk mendengarkan pendapat mereka. Selama pertemuan ini, Trump mengatakan bahwa perusahaan baja dan aluminiumTariff  selalu diperlakukan tidak adil, dan bahwa dia akan membenahi kembali industri baja dan aluminium AS dengan menaikkan tarif impor baja dan aluminium.

Trump mengatakan: dia akan menaikan tarif 25% untuk baja, dan 10% untuk aluminium, dan akan untuk jangka waktu yang lama.

twitter Trump
twitter Trump

"Trump Memicu Perang Tarif/ Trump Pulls the Trigger on a Tariff War" (Trump to Impose Sweeping Steel and Aluminum Tariffs/Trump Mensweeping Tarif Baja dan Aluminium) menurut "New York Time"

Namun siapakah yang akan paling terpengaruh oleh AS menaikkan tarif impor baja dan aluminium ini? Mari kita lihat dua set data di bawah ini:

Data dari Departemen Perdagangan AS menunjukkan bahwa dalam sepuluh bulan pertama tahun lalu, enam negara yang mengekspor baja paling banyak ke AS berada dalam urutan: Kanada, Brasil, Korsel, Meksiko, Turki dan Jepang, sementara baja dari Cina hanya sekitar 3% dari total baja impor AS.

Sumber: www.nytimes.com
Sumber: www.nytimes.com

Data dari Asosiasi Aluminium AS menunjukkan bahwa dari Januari hingga November tahun lalu, Kanada, Rusia, Uni Emirat Arab, Tiongkok, dan Bahrain merupakan lima sumber utama produk aluminium impor AS.

Sebuah laporan di "Financial Times" mengatakan bahwa AS mengimpor sedikit baja atau aluminium langsung dari Tiongkok, karena itu tindakan apa pun yang AS ambil akan menjadi pukulan bagi sekutu militernya seperti Kanada, Jerman, Jepang dan Korsel.

Protes Dari Banyak Pihak

Begitu berita ini disiarkan, tidak hanya terjadi protes luas dari konsumen industri baja dan aluminium AS sendiri, negara dan wilayah di Asia, Eropa, dan Amerika Utara juga mengancam untuk melakukan pembalasan.

Jean-Claude Juncker, Presiden Komisi Uni Eropa menyatakan: "Eropa harus membalas, dan kami akan melakukannya."

Emmanuel Macron, Presiden Prancis menyatakan: "Menurut pendapat saya, menerapkan tindakan sepihak yang bertentangan dengan prinsip-prinsip perdagangan internasional untuk mencari solusi jangka pendek tidak akan bermanfaat."

Justin Trudeau. PM Kanada menyatakan: "Dan kami akan terus berunding dengan semua tingkatan di pemerintahan di AS dalam beberapa hari mendatang ini, sehingga mereka mengerti bahwa proposal ini tidak dapat diterima."

"Wall Street Journal" yang berbasis di AS menerbitkan sebuah laporan yang mengatakan bahwa keputusan tersebut juga dianggap kontroversial dalam pemerintahan Trump, karena beberapa penasihat seniornya telah menyatakan pandangan mereka menentang untuk hal ini.

Menurut informasi, sebelum membuat keputusan ini, sebuah diskusi intensif telah terjadi di Gedung Putih. Menurut Reuters, seorang sumber yang memiliki akses langsung ke diskusi ini mengatakan bahwa karena sikap pemerintah berayun kanan-kiri (bolak-balik), Gedung Putih telah "kacau" sepanjang malam.

"The New York Times" mengatakan bahwa pertemuan dengan 15 eksekutif perusahaan baja dan aluminium ini "diatur dengan tergesa-gesa."

Mengapa Trump tiba-tiba  mempublikasikan sikapnya ini?

Saat berkampanye dalam pemilihan presiden lalu, Trump telah berjanji untuk memperkuat perlindungan pada industri baja AS. Dia telah mengatakan berkali-kali dan juga janji-janji ini yang membantunya memenangkan pemilihan.

"The Wall Street Times" mengatakan bahwa Trump berharap untuk memperkuat basis politiknya di masa pertengahan pemilihan (midterm) Kongres yang akan dilangsungkan musim gugur tahun ini.

Namun pada 13 Maret ini, akan berakhir pemilihan khusus untuk DPR di pusat baja Pennsylvania. Media percaya bahwa Trump berharap untuk menggunakan kebijakan perdagangan proteksionis ini untuk menunjukkan upayanya untuk menciptakan lapangan kerja bagi pendukungnya.

Tampaknya panji yang disebut "fair trade" tapi bukan "free trade" ini telah dikibarkan Trump untuk memaksimalkan untuk keuntungan AS melalui friksi.

Namun menurut perhitungan para ahli, perhitungan tidaklah sangat tinggi. Pengimporan plat baja AS hanya berkisar antara 2-3 milyar USD, aluminium alloy antara 1-2 milyar USD, jadi kenaikan tarif 10% hanya memberikan pemasukan sebesar 100 juta USD,  bagi ukuran negara seperti AS sungguh sangat kecil.

Analis dan pengamat melihat, ini bukan perang dagang yang komprehensif, tapi secara politis ini hanyalah sebuah pertunjukan yang hebat, jadi setengahnya untuk perdagangan, dan setengahnya hanyalah manuver politik.

Saat ini, Trump secara sepihak menerapkan semua jenis kebijakan yang disebut proteksionisme perdagangan. Misalnya, dia mengatakan ingin menaikkan tarif untuk Tiongkok atau eksportir baja dan aluminium lainnya (termasuk Tiongkok), namun karena ini semua sepihak, maka hal ini akan melanggar perjanjian perdagangan bebas.

Sebagai tambahan, "fair trade" yang diusulkan Trump ini adalah istilah yang sangat aneh, dan sesuatu yang bertentangan dengan globalisasi.

"Era Trump" baru berjalan satu tahun, dan Trump telah menerapkan janjinya untuk melaksanakan konsep tata kelola "America First" agar "menjadikan AS hebat lagi."  Dia telah membatalkan TPP, menandatangani larangan imigrasi, menaikkan tarif tinggi untuk produk yang masuk ke AS, dan mundur dari "Perjanjian Paris (iklim)," melanggar tradisi AS pasca Perang Dunia II yang hidup melalui globalisasi satu demi satu.

Banyak pihak yang mau tidak mau bertanya, sejak P.D. II, AS telah menjadi promotor dalam proses globalisasi, telah mendapatkan manfaat yang sangat besar darinya. Tapi kini, mengapa AS ingin menarik diri dari globalisasi? Apakah AS benar-benar menderita karena globalisasi?

Sejak Presiden AS Trump mengumumkan pada 1 Maret bulan ini,  dia akan menerapkan tarif tinggi pada baja dan aluminium impor AS, hal ini telah menimbulkan oposisi dari banyak negara di seluruh dunia, dan lebih dari itu, bahkan di dalam Partai Republik AS sendiri juga terjadi perselisihan, dan perselisihan ini semakin meningkat.

Pertama-tama, lawan-lawannya adalah pengguna besar produk baja dan aluminium yaitu industri otomotif dan industri energi AS. Industri-industri ini sebanar yang besarnya sangat melampaui dari industri baja baik dalam nilai output maupun jumlah pekerja, dan industri, dan mereka inilah yang Trump tadinya berupaya dengan bekerja keras untuk memasukkan dalam timnya selama kampanye.

Steven Armstrong, Chief Operating Officer Ford Motors Eropa mengatakan: "Kami ingin memastikan bahwa kita dapat melakukan perdagangan lintas batas seperti yang kita lakukan hari ini, jadi saya berharap bahwa pada akhirnya, ketika semua diskusi selesai, kita tidak akan menghadapi beban tambahan pada saat bisnis kita sedang bergerak ke depan."

Dalam Kongres AS sendiri, banyak juga anggota Kongres yang tidak senang dengan pengumuman Trump tentang keputusan ini dengan tanpa komunikasi yang memadai dengan Kongres. Di Partai Republik khususnya, Ketua DPR Paul Ryan dengan jelas menyatakan keberatannya terhadap keputusan Trump, tapi Trump tetap bersikap keras terhadap hal ini.

Dalam wawancaranya Trump dengan reporter TV antara lain terjadi dialog sebagai berikut:

Reporter: "Paul Ryan mengatakan bahwa dia khawatir dengan perang dagang, apakah Anda akan menurunkan tarif?"

Trump: "Tidak, kita tidak mundur. Meksiko ... kita sudah mengalami kesepakatan yang sangat buruk dengan Meksiko, kesepakatan yang sangat buruk dengan Kanada, dengan apa yang disebut NAFTA. Pabrik kita telah pada meninggalkan negara kita, pekerja kita telah meninggalkan negara kita, selama bertahun-tahun, NAFTA telah menjadi bencana."

Jadi serangkaian tindakan Trump telah membuat masyarakat internasional merasa bahwa posisi AS tidak sama seperti dulu lagi. Dulu, AS adalah salah satu promotor utama globalisasi, namun kini telah menjadi penghalang.

Ini adalah pukulan besar bagi seluruh operasi ekonomi dunia, dan begitulah yang terjadi di dunia luar. Di dalam AS, semua orang mungkin lebih peduli dengan garis besar kampanyenya, yaitu "America First."

Setelah menjadi presiden, Trump mengeluarkan sebuah perintah eksekutif resmi yang mengharuskan perusahaan AS membeli dari perusahaan AS dan mempekerjakan orang Amerika. Jadi, dia adalah contoh klasik seorang nasionalis ekonomi, yang menentang globalisasi.

Dalam kenyataannya, selama 50 tahun terakhir, AS tidak hanya menjadi promotor globalisasi langsung, namun juga merupakan penerima manfaat terbesar dari globalisasi.

Sejarah Globalisasi

Dunia akademis percaya bahwa proses globalisasi paling awal dapat ditelusuri kembali melampaui zaman terkini ke "Age of Discovery" antara abad ke-15 dan ke-17. Seiring rute baru ini ditemukan, pertukaran budaya dan perdagangan antara Timur dan Barat berkembang pesat, dan kolonialisme dan liberalisme mulai meningkat. Pada masa inilah Eropa berkembang dengan pesat dan memperkuat fondasinya untuk melampaui kemakmuran Asia.

Setelah kemenangan di P.D. II, AS mengambil alih globalisasi dari Eropa, dan yang utama dengan membentuk sistem Bretton Woods.

Inti dari sistem Bretton Woods adalah bahwa USD akan dikaitkan dengan emas, dan semua mata uang lainnya akan dikaitkan dengan USD. Pertemuan ini juga menyebabkan terbentuknya Bank Dunia dan IMF.

Sistem Bretton Woods diyakini sebagai langkah paling penting menuju globalisasi sejak Age of Discovery.

Pada 1970-an, terjadi defisit perdagangan dan defisit keuangan sehingga menyebabkan AS tidak dapat menjamin proporsi tetap antara USD dan emas.

Pada 15 Agustus 1971, Presiden AS Richard Nixon mengumumkan bahwa pemerintah AS akan mengakhiri kewajibannya untuk pertukaran emas ke pasar dengan harga 35 USD per ons.

Namun, walaupun USD yang telah dipisahkan dari emas, menggunakan posisi solidnya sebagai "hegemon" untuk terus memastikan bahwa AS akan memperoleh keuntungan dari globalisasi ekonomi.

Setelah sistem Bretton Woods dan USD telah dipisahkan dari emas, semuanya diukur berdasarkan basis USD ini, di dasar globalisasi keuangan.

Apa yang AS lakukan? Karena mereka kekurangan uang, mereka mencetak lebih banyak. Mereka mencetak lebih banyak uang, tapi tidak memiliki cadangan emas untuk memback up uang kertas mereka.

Tapi AS bisa membeli apapun yang diinginkannya di seluruh dunia, dan keuntungan semacam ini disebut sebagai "seigniorage" di dunia keuangan. Mencetak mata uang dan melumasi (taxing) seluruh dunia, memungkinkannya memperoleh "seigniorage".

Setiap tahun, dengan seigniorage sendiri memungkinkan AS menghasilkan keuntungan 3 sampai 5 triliun USD dari seluruh dunia.

Minyak Menjadi Solusi AS

Untuk mempertahankan posisi USD dan juga memastikan keamanan energi dan keuangan AS, pemerintah AS mulai menggunakan perdagangan minyak internasional sebagai terobosan untuk mencari solusi.

Menurut tim diplomatik mantan Menlu AS, Henry Kissiger, pertama, mereka mengadakan serangkaian negosiasi dengan keluarga kerajaan Arab Saudi dan mencapai kesepakatan pada 1974.

Isi utama dari kesepakatan tersebut adalah: di satu sisi, AS akan menjual senjata militer ke Arab Saudi, dan juga menjamin keamanan wilayah Arab Saudi dan memastikan tidak akan diserang oleh Israel. Tapi sebagai gantinya sebagai hadiah ini, semua minyak ekspor Saudi Arabia harus dihargai dan diperdagangkan dalam USD.

Dengan dominasi USD ditambah dengan penempatan militer AS secara global, AS mengibarkan bendara "globalisasi" setinggi-tingginya dengan mengekspor nilai dan budaya Amerika.

Rangkaian globalisasi yang dipimpin AS dan telah mendapat branded atau cap AS yang sangat penting diatasnya, seperti ideologi Amerika, hegemoni militer AS, keseluruhan sistem ekonomi dan mata uang internasional yang dipimpin oleh USD, dan lonjakan budaya global dipimpin oleh film-film Hollywood AS, dengan budaya pop dan budaya mainstream. Yang lebih penting lagi adalah keseluruhan sistem global dibangun di atas fondasi nilai-nilai Barat yang Amerikanisasi.

Dan dalam kerangka globalisasi ini, topik yang paling penting adalah melakukan reformasi bergaya Amerika terhadap negara-negara berkembang, sehingga AS sekali lagi menciptakan simbol otoritas - "Konsensus Washington".(mungkin termasuk juga menbentuk elit politisi dan teknokrat Indonesia, terutama sejak menjelang orba?).

Pada tahun 1989, negara-negara Amerika Latin mengalami krisis utang di "Backyard/halaman belakang Amerika" dan sangat membutuhkan reformasi ekonomi domestik. Institut Ekonomi Internasional AS mengundang para periset dari IMF, Bank Dunia, Bank Pembangunan Antar-Amerika, dan Departemen Keuangan AS, serta perwakilan dari negara-negara Amerika Latin untuk mengadakan simposium di Washington D.C.

John Williamson seorang peneliti di Institut Ekonomi Internasional AS, mengusulkan sepuluh langkah kebijakan untuk reformasi ekonomi di negara-negara Amerika Latin yang telah disepakati di dalam institusi tersebut di atas yang dikenal sebagai "Konsensus Washington".

Pihak yang berkepentingan kelompok ekonomi AS tampaknya telah dengan alasan demi "kepentingan bersama" melalui kelompok-kelompok internasional ini dan didorong ke dunia luar. Di belakang mereka adalah kepentingan AS, dan para ekonom yang mengarahkan untuk kepentingan ini, jadi ketika berhadapan dengan kelompok asing, ada banyak yang disembunyikan dan tipu daya. AS mendorong hal ini dari balik layar, namun kelompok internasional yang tampaknya mendorongnya adalah memberi resep obat-obatan bagi negara-negara berkembang, dan sepertinya ada sesuatu yang harus dipelajari dan renungkan oleh setiap orang. (Renungkan pada saat-saat krismon di Indonesia pada tahun 1998).

Dipromosikan oleh elit Amerika, antara tahun 1970an dan 1990an, banyak negara-negara yang menerapkan kebijakan "Konsensus Washington", termasuk Chile, Meksiko, Argentina, Brasil, Rusia, Polandia, dan negara-negara Eropa Timur lainnya.

Data historis dari negara-negara ini menunjukkan bahwa hampir semua negara yang menerapkan kebijakan "konsensus Washington" mengalami inflasi, sebagian besar terjadi peningkatan hutang luar negeri, penurunan output, dan mengalami masalah ekonomi serius lainnya.(Bagaimana dengan Indonesia?).

Pada saat itu, negara-negara Amerika Latin memiliki beberapa krisis, namun akibatnya banyak aset yang dimiliki oleh banyak negara Amerika Latin semuanya digadaikan ke bank-bank besar di Eropa dan Amerika Serikat.

World Trade Organization ( WTO )

Bergabung dengan WTO juga memberi memori kelompok yang dimiliki Tiongkok pada tahun 1990an. Selama 15 tahun terjadi negosiasi yang berliku-liku dan berbelit-belit dari tahun 1986 sampai 11 Desember 2001, Tiongkok, yang baru saja mulai menyentuh pintu "globalisasi," dengan cerdik dan hati-hati menghindari segala jenis perangkap.

Dalam berbagai negosiasi yang terjadi antara Tiongkok dan AS di masa lalu, Amerika benar-benar mengatakan kepada Tiongkok apa yang harus mereka lakukan, bahwa Tiongkok harus membuka pasarnya, karena Tiongkok memiliki pasar terbesar, jadi pada saat itu, AS meneteskan air liur tentang hal itu, dan benar-benar ingin mengalirkan modal ke Tiongkok.

Saat itu Tiongkok tampaknya cukup berhati-hati, dengan mengatakan mereka ingin mengambil langka satu per satu. Modal finansial sebenarnya sangat spekulatif. Tiongkok tahu itu sangat spekulatif, jadi Tiongkok harus menunggu sampai semua lembaga keuangan, konsumen, dan investor Tiongkok sudah terbiasa dengan hal-hal ini, baru pada akhirnya Tiongkok secara bertahap membuka pasarnya.

Tiongkok Lolos Dari Perangkap Globalisasi AS

Dalam 16 tahun sejak Tiongkok bergabung dengan WTO, ekonomi Tiongkok telah sukses besar. Saat ini, Tiongkok adalah ekonomi terbesar kedua di dunia, negara dengan perdagangan terbesar di dunia, menjadi negara untuk tujuan nomor satu bagi investor asing, dan investor outbound terbesar kedua dunia.

Perusahaan Tiongkok tidak hanya tidak gagal secara kompetitif mereka, bahkan telah melonjak. Namun fokus pada AS sendiri, keunggulan tradisional industri manufakturnya mulai menurun.

Selama kampanye, Trump dengan berani mengklaim bahwa dia akan membawa pekerjaan manufaktur kembali ke AS melalui kebijakannya, dan akan memangkas "globalisasi" yang mengorbankan pekerja dan kepentingan AS, yang membuatnya mendapatkan dukungan dari pekerja kerah biru kelas rendah, memenangkannya pemilihan.

Mengapa situasi seperti ini bisa terjadi? Sebenarnya, pertama-tama, hal itu merupakan masalah AS sendiri. Di masa lalu, AS mendapat banyak manfaat dari globalisasi, namun manfaat tersebut tidak dirasakan dan merata secara luas. Terutama hanya Wall Street, Silicon Valley, elite teknologi dan elit budaya yang mengambil uang itu.

Tidak saja negara dan masyarakat AS saja yang tidak punya uang. Jadi jika semua orang Amerika membingkai akun mereka, akan terlihat daftar aset mereka yang sebenarnya yang sesungguhnya tumbuh di AS, namun distribusinya di dalam aset ini sangat tidak masuk akal, jadi pada dasarnya situasinya sekarang sesungguhnya globalisasi itu bermanfaat, tapi distribusinya yang bermasalah.

Dan AS tidak benar-benar bersedia menghadapi masalah alokasi yang sulit ini di negaranya, tapi malah menggeser kesalahannya, dan karena itu telah membentuk beberapa konsekuensi de-globalisasi, seperti perang dagang. Tapi metode pengalihan tanggung jawab dan konflik semacam ini benar-benar mencerminkan kegelisahan AS saat ini.

Pertumbuhan Dan Perkembangan Tiongkok Mencengankan Barat

Tiba-tiba, sebuah negara maju non-Barat, yang bukan bagian dari peradaban Barat dan tidak memiliki sistem demokrasi Barat atau berbagi nilai-nilai Barat memimpin globalisasi. Ini adalah hal yang mengerikan bagi Barat. Pada titik ini, kecemasan, kebingungan, dan kecurigaan muncul di Barat.

Jadi pada 2016, hal ini yang dijadikan kartu untuk dimainkan oleh kandidat presiden AS. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah bagian dari pecundang era globalisasi masa lalu, dan dibutuhkan untuk membentuk kembali globalisasi, dan bahkan akan bersiap membentuk kembali babab globalisasi baru untuk sementara menarik diri darinya, sehingga babab baru globalisasi ini tetap dipromosikan dan dikembangkan sesuai keinginan AS.

Tahun 2016 sudah setahun dimana pers/media meyakini dengan peristiwa Black Swan. Dari Brexit hingga kampanye kepresidenan AS, globalisasi mulai menghadapi tren de-globalisasi.

Pada saat yang sama, Tiongkok secara aktif meluncurkan Inisiatif "Belt and Road", yang dipandang oleh media Barat sebagai sebuah pertarungan antara globalisasi dan de-globalisasi.

Apa perbedaan jalur globalisasi Tiongkok dan AS? Apakah dalam hal ini ada permainan zero-sum?

Selama beberapa hari terakhir ini, sebuah "perang dagang" telah menjadi topik hangat media dunia, dan mereka khawatir dan bahkan marah.

Tapi apakah Presiden Trump benar-benar memiliki kekuatan untuk membuat seluruh sistem perdagangan dunia runtuh, dan kemudian kembali berfokus pada kepentingan AS dalam sebuah pergeseran "tata kelola yang hebat keluar dari kekacauan besar"?

Banyak pakar percaya sulit untuk melawan perang dagang di era globalisasi. Pertama-tama, Anda tidak akurat, karena semua negara memiliki ekonomi yang sangat mengandalkan pasar (highly-marketized economy), dan kebijakan telah terfilter dan akan membuat pasar miring, jadi Anda tidak tahu siapa yang akan berakhir dengan kerugian.

Kedua, kepentingan setiap negara sangat terjalin satu sama lainnya. Saat bertikai dengan lawan, beberapa kekuatan itu akan menghantam kembali dengan membahayakan dirinya sendiri.

Baru-baru ini, beberapa ekonom terkenal AS mengatakan ketika diwawancarai oleh salah satu wartawan bahwa tindakan ini tidak akan membantu mengembalikan pekerjaan manufaktur ke AS.

Adam Posen, Presiden Institut Peterson untuk International Economics, AS mengatakan: "Tak satu pun dari keputusan ini akan membawa pekerjaan tertentu kembali, jadi jika kita mengubah kesepakatan dan tiba-tiba AS memiliki lebih banyak manufaktur atau pabrik, sebagian besar akan berbentuk robot modal (captial robots)  yang diperluas, tidak akan ada banyak pekerjaan baru."

Jadi, bisakah Trump, yang begitu cerdik dalam "Art of the Deal," benar-benar memulai perang dagang, dan menutup pintu AS menuju globalisasi dengan mengatas-namakan agar bisa membuat lebih banyak pekerjaan dan proteksionisme perdagangan?

Meskipun rencana tarif pemerintah Trump telah ditandatangani, hal itu tidak akan segera dilaksanakan dan masa penyangga atau tegang waktunya 15 hari yang diberikan berdasar konstitusi AS.

Beberapa analis percaya bahwa langkah ini dimaksudkan untuk menggunakan tarif sebagai tawar menawar untuk menekan mitra dagang Amerika Utara, sehingga memaksa Kanada dan Meksiko untuk membuat konsesi dalam negosiasi NAFTA.

Pada 25 Januari lalu, Trump merilis beberapa "berita besar" dalam sebuah wawancara eksklusif dengan media AS: jika sebuah kesepakatan dibuat, AS mungkin akan bergabung kembali dengan TPP.

Trump mengatakan: "Ada yang bertanya kepada saya tempo hari, apakah saya akan bergabung kembali dalam TPP? Inilah jawaban saya: saya akan memberi Anda sebuah "cerita besar." Saya akan kembali ke TPP jika kita melakukan kesepakatan jauh lebih baik dari yang kita miliki sebelumnya. NAFTA adalah kesepakatan yang mengerikan, kami perlu menegosiasikan ulang. Saya bisa menghentikan NAFTA, saya mungkin tidak. Kita lihat saja apa yang akan terjadi."

Wartawan: "Apakah anda terkejut saya menanyakan ini?"

Trump menjawab: "Ya, sedikit ."

Prinsip umumnya adalah menarik diri dari kelompok ini agar bisa mendapat kemajuan atau keuntungan lebih, dengan menerapkan tekanan untuk membuat konsesi. Jika pihak lain membuat konsesi, maka dia akan kembali. Jadi, terus terang, kita mungkin bisa mengatakan bahwa dia (Trump) akan terlibat dalam "globalisasi selektif." Dia menginginkan globalisasi, namun hanya bagian yang bermanfaat bagi AS.

Perbedaan Globalisasi a la AS dan Tiongkok

Dibandingkan dengan globalisasi AS, versi globalisasi Tiongkok tampaknya semakin mendapat dukungan di kalangan masyarakat. "Belt and Road" adalah gagasan Tiongkok, namun kini banyak negara telah bergabung karena dipandang bisa membantu semua pihak. Kini telah lebih dari 100 negara yang mendukung, dan diantaranya telah menandatangani 50 kesepakatan.

Dengan globalisasi "Belt and Road" diharapkan kita bisa menjalani hidup lebih bahagia saat kita bekerja sama. Itu sebabnya negara-negara ingin bergabung dengan "Belt and Road."

"Belt and Road" Intiative merupakan prototipe globalisasi a la Tiongkok, dengan gagasan koordinasi bersama, bergabung bersama dalam pembentukan dan saling sharing. Semua pihak bisa berbagi keuntungan dari investasi ini.

Charles Blum, Mantan Asisten Perwakilan Dagang di Gedung Putih mengatakan: "Terkadang kita berbicara tentang globalisasi, sepertinya itu hanya untuk perusahaan besar, perusahaan multinasional besar, mereka mendapatkan semua keuntungannya. Itu adalah masalahnya di Amerika, ini adalah masalah di negara-negara tetangga kita, di Meksiko, ada banyak tekanan balik terhadap globalisasi semacam itu. Konsep ini (Belt and Road) jauh lebih menarik, dan jauh lebih relevan dengan kebutuhan nyata orang di seluruh dunia."

Ada laporan yang megatakan sampai hari ini, Tiongkok telah menandatangani kesepakatan antar pemerintah mengenai membangun "Belt and Road" bersama dengan lebih dari negara-negara dan kelompok. Berdasarkan kerangka inisiatif, investasi di negara-negara afiliasi telah melampaui 50 miliar USD, dan serangkaian proyek besar telah dimulai, menciptakan hampir 200.000 pekerjaan.

Sebuah laporan mengenai hasil  kerja pemerintah Tiongkok selama Kongres Rakyat Nasional ke-13 tahun ini juga dengan jelas menunjukkan bahwa pemerintah akan mempromosikan liberalisasi dan kenyamanan perdagangan dan investasi.

Tiongkok dengan tegas mempromosikan globalisasi ekonomi, mempertahankan perdagangan bebas, dan berharap dapat bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk mendorong perundingan multilateral, untuk menyelesaikan negosiasi untuk kesepakatan kemitraan ekonomi komprehensif regional sebelumnya., Mempercepat pembangunan Perjanjian Perdagangan Bebas Asia Pasifik dan Masyarakat Asia Timur.

Tiongkok mengavokasi untuk menggunakan konsultasi yang adil untuk menyelesaikan sengketa perdagangan, menentang proteksionisme perdagangan, dan dengan teguh akan mempertahankan hak dan kepentingan hukumnya sendiri.

Tiongkok sedang mencari versi inklusif, sementara AS berbicara tentang "America First." Tiongkok mencari sebuah versi terbuka, sementara AS mencari keterbukaan yang ditandai oleh kepentingan AS.

Tiongkok mencari "pengembangan utama/development first," untuk mengembangkannya terlebih dahulu, dan mencari globalisasi berdasarkan konsep pembangunan ekonomi dan pengembangan berbasis masyarakat, sementara AS memprioritaskan ideologi dan demokrasi.

Konsep globalisasi yang dipromosikan oleh Tiongkok berpusat di sekitar orang-orang, dengan orang-orang sebagai intinya; itu adalah globalisasi berdasarkan kerakyatan.

Pada titik ini dalam perkembangan dunia, sebuah dasar status quonya: Barat selalu menjadi yang terbesar dalam menerima manfaat dalam globalisasi. Sumber daya yang digunakan oleh Barat jauh melebihi rata-rata global, dan kualitas hidup Barat yang tinggi, sebagian besar merupakan hasil pembagian kerja industri globalisasi.

Saat ini, mayoritas dari 500 perusahaan teratas di dunia adalah perusahaan-perusahaan Barat, namun banyak penduduk Barat tidak memiliki rasa mendapatkan imbalan ini, dan bahkan merasa mereka hidup lebih miskin dan lebih buruk lagi.

Akar penyebabnya adalah distribusi keuntungan globalisasi yang tidak merata. Ini harus menjadi fokus reformasi negara-negara Barat, bukan kesalahan pada globalisasi.

Di masa lalu, keuntungan adalah tujuan tertinggi yang dimiliki orang. Namun, logika bertahan hidup di masyarakat modern mengingatkan kita bahwa jika kita tidak dapat membuat lebih banyak orang memiliki kehidupan yang lebih baik, akan sulit bagi kita untuk memiliki masa depan yang lebih lama.