Filsafat Pilihan

Ratna, Argumen Setan, dan Jalan Menuju Kebenaran

11 Oktober 2018   19:08 Diperbarui: 11 Oktober 2018   19:16 777 1 1

Masalah ujaran kebohongan yang digelindingkan oleh Ratna Sarumpaet (RS) membelah seantero Indonesia Raya. Semua elemen masyarakat memperbincangkan dengan hangat masalah ini sebagai bagian dari keterbukaan dan kebebasan menyampaikan pendapat di alam demokrasi Indonesia. Argumen pro dan kontra pun bermunculan menghiasi diskursus masyarakat, mulai dari tingkat akar rumput sampai para wakil rakyat. 

Tidak pelak lagi muncul kecaman dan hujatan yang mengarah pada pribadi RS (dan kelompok tertentu). Sebaliknya, RS sendiri memilih diam dan membiarkan kelompok tertentu bekerja keras melakukan pembelaan diri di depan publik melalui berbagai media.

 Akan tetapi, menurut saya, tanggapan emosional terhadap masalah ini kurang memberikan edukasi politik dan diskursus public yang signifikan di dalam demokrasi Indonesia modern. Aspek yang terlupakan dari peristiwa itu ialah hilangnya telaah ilmiah terhadap argumentasi RS ketika menjelaskan alasan dirinya melakukan pembohongan. 

Dari semua pengakuan RS, salah satu butir pengakuan yang menarik ialah pernyataannya bahwa ada "setan" yang "merasuki" dirinya sehingga melakukan pembohongan. Dalam keterangan Pers di kediamannya di Kawasan Kampung Melayu Kecil V, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (3/10), RS menyatakan demikian: 

 "Jadi tidak ada penganiayaan, itu hanya cerita khayal entah diberikan oleh setan mana ke saya, dan berkembang seperti itu" (huruf tebal dari penulis)

Pernyataan RS mengenai "setan" ini mengingatkan kita akan filsuf prancis, Ren Descartes (1629-1649) dengan argumentasinya mengenai "setan jahat". Untuk membahas argumentasi itu kita perlu melihat konteks lahirnya filsafat Descartes.

RS dan Subyektivitas yang Terkoyak

Descartes sendiri merupakan Bapak rasionalisme modern karena ia membangun system filsafatnya atas dasar subyektivitas atau kesadaran diri. Terobosan ini dilakukannya dengan memutuskan hubungan dengan otoritas tradisi dan teologi yang diemban oleh filsafat Abad Pertengahan, bahkan ia mengkritik secara mendasar system-sistem filsafat yang diajarkan oleh para gurunya. 

Prinsip tertinggi dalam fiosafat Descartes adalah rasio atau kesadaran atau pemikiran. Karena itu tak heran apabila filsuf Jerman, G.F.W. Hegel (1770-1831) mengatakan bahwa melalui Descarter kita menyaksikan kelahiran kembali filsafat Barat dan melaluinya pula kita memasuki sebuah rumah filsafat baru yang dibangun atas dasar pemikiran atau rasio.

 Di balik pembangunan kembali rumah filsafat yang baru itu, Descartes sebenarnya ingin menggapai sebuah system filsafat yang absolut atau yang tak dapat diragukan lagi. 

Berdasarkan pengalamannya, Descartes menemukan bahwa semua yang dipelajarinya sejak di bangku pendidikan sangat mengecewakan. Dalam bukunya yang berjudul Discourse on the Method (1637), Descartes mengungkapkan bahwa sumber kekecewaan itu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri. Berbagai disiplin ilmu pengetahuan, termasuk filsafat, memiliki ahli-ahli terkemuka, namun tak satupun yang dapat memberikan kepastian mengenai apa yang diajarkan. 

Semua itu meninggakan keragukan dalam diri Descartes, sehingga ia menulis demikian:"Saya menemukan diri saya sendiri dipenuhi sedemikian banyak keraguan dan kekeliruan sehingga saya berpikir bahwa saya tidak memperoleh apapun dalam usaha saya untuk menjadi orang terdidik, kecuali hanya meningkatkan pengakuan atas ketidaktahuan saya." 

Descartes sendiri kemudian melimpahkan kesalah itu kepada filsafat. Mengapa filsafat yang harus salah apabila tidak ada kepastian dalam matematika, misalnya? Ia menjawab bahwa karena filsafat adalah induk dari semua ilmu pengetahuan. Dengan menggunakan analogi pohon, Descartes mengatakan:

"Dengan demikian, keseluruhan filsafat itu seperti sebuah pohon. Akarnya adalah metafisika, dahannya fisika, dan ranting yang muncul dari dahan itu adalah semua ilmu lainnya, yang dapat direduksi kepada tiga ilmu utama, yakni kedokteran, mekanika dan moral atau etika." 

Bagi Descartes, kelemahan itu harus diatasi dari dalam diri filsafat itu sendiri sebagai sumber ilmu pengetahuan sehingga bangunan baru ilmu pengetahuan dapat membawa kepastian bagi semua orang.

Dalam kasus RS, kita bisa melihat sebuah pemikiran yang hamper parallel. Kita semua tahu bahwa RS bukanlah pemain baru dalam pentas public Indonesia Raya. Ia dikenal luas sebagai aktris, seniman dan aktivis. Kehandalan RS terletak pada subyektivitas atau kedasaran-diri yang menolak berafiliasi dengan kejahatan apapun -- social, ekonomi, politik, agama -- yang mendevaluasi kemanusiaan dan keberadaban manusia dan public Indonesia. 

Sebagai wanita modern, RS tampil di ruang public melawan otoritas Orde Baru yang lalim. Ia memiliki segudang pengalaman ketidakpercayaan terhadap produk ilmu dan filsafat yang diajarkan oleh otoritarian di masa lampau. Dengan subyektivitas atau kesadaran penuh, RS bersama rekan-rekan aktivis mencoba membangun sebuah tatanan berpikir yang pasti. 

Dalam keragu-raguan, RS mencoba malawan semua produk pengetahuan dan filsafat yang diinjeksikan ke dalam otak masyarakat dan membangun sebuah rumah filsafat (pandangan hidup, cara hidup) yang baru dan pasti bagi semua orang.

Apakah RS berhasil membangun rumah filsafat yang baru sebagaimana diidamkannya? Ternyata tidak. RS malah menyalahkan "setan" sebagai penyebab turur wicaranya. RS akhirnya sadar dan mengakui kebenaran perkataan Descartes bahwa orang banyak sering dalam berpikir dan menilai sesuatu. Pikiran atau kesadaran tidak selamanya bisa membawa kita kepada kepastian dan kebenaran. 

Tidak cukup bahwa RS dan kelompok afiliasinya memiliki subyektivitas atau kesadaran diri. Yang paling penting ialah apakah pikiran atau kesadaran itu dapat diwujudnyatakan secara tepat dalam hidup bersama. Di sinilah letak keretakan subyektivitas RS dan kelompok afiliasinya. Rumah filsafat baru bagi Indonesia Raya sudah roboh berantakan sebelum berhasil dibangun sebagai rumah bersama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3