Mohon tunggu...
Mahsus  Effendi
Mahsus Effendi Mohon Tunggu... Penulis - Saya gabut, maka saya membaca.

What a man is a man who does not make the world better

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Apakah Makna Kecantikan di Dalam Filsafat?

18 Februari 2021   15:53 Diperbarui: 19 Februari 2021   22:49 2839
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Photograph: Bettmann/Corbis

Filsafat Estetika dalam Menilai Sebuah Objek yang Indah

Bagaimanakah sesuatu atau seseorang itu bisa dikatakan indah atau cantik? Apakah sama ketika seseorang mengatakan "Bunga itu cantik" dengan "wanita itu cantik"? apakah benar hanya kecantikan wanita saja yang dikatakan relatif? Bagaimana dengan ketampanan seorang pria?  Dimanakah letak perbedaan konsep kecantikan atau keindahan pada setiap objek yang kita pandang? Pada kesempatan kali ini penulis ingin menerangkan bagaimana konsep keindahan atau kecantikan dilekatkan pada objek yang kita lihat.

Immanuel Kant merupakan seorang filosof Jerman yang eksis pada Abad Pencerahan (17-18 M) yang cukup serius dalam menjelaskan persoalan ini, melalui karya tulisnya yang berjudul Critique of Aesthetic Judgment. Menurutnya, bahwa apa yang dinilai dari sebuah kecantikan adalah persoalan kesenangan, yang sama sekali subjektif (menurut pandangan pribadi). Kant menolak hal itu, kecantikan tidak hanya terhenti pada pangkal perasaan, ada sesuatu yang jauh lebih luhur didalam kecantikan daripada hanya yang disandarkan pada perasaan.

Secara subjektif, keindahan atau kecantikan adalah sesuatu yang tanpa melalui proses perenungan, jadi seseorang tidak lagi memerlukan proses perenungan atau proses berpikir secara mendalam untuk menerima sinyal kecantikan. Kecantikan dan keindahan mengalir secara kodrati, dan dapat diterima secara langsung oleh setiap orang yang memandang objek tersebut.

St Thomas Aquinas memberikan pendapatnya mengenai kecantikan secara subjektif, ia berkata bahwa yang indah adalah yang "menyenangkan hati kita ketika dilihat". Sesuatu yang "menyenangkan hati" disini tentunya bukan hasil dari pertimbangan akal, melainkan sepenuhnya adalah sinyal yang diterima langsung oleh perasaan. Kembali pada pendapat Aquinas diatas, bahwa segala hal yang dapat memberikan kesenangan secara psikis (lebih tepatnya), adalah sesuatu yang dapat kita katakan indah atau cantik.

Seorang penulis bernama Naomi Wolf, yang menulis buku The Beauty Myth, ia berpendapat bahwa ada banyak sekali wanita yang merasa khawatir dengan penuaan diri. Entah apakah mereka takut ditinggalkan oleh kecantikannya, atau karena takut dengan hilangnya masa produktif mereka (yang sebetulnya tidak dapat dihindari) yang dapat menyebabkan berkurangnya intensitas kasih sayang pasangan mereka.

Keindahan atau kecantikan secara subjektif sangat sukar ditemukan barometernya, karena kecantikan menurut perseorangan tidak hanya disandarkan pada kesenangan hati, ternyata juga banyak diintervensi oleh banyak hal diluar penilaian individu. Misalnya, penilaian seseorang terhadap kecantikan juga dikaitkan kepada persoalan sosial-budaya, lingkungan sosial dll. Boleh saja, seseorang atau sesuatu itu dinilai indah oleh orang-orang di daerah A, namun belum tentu tolak ukur penilaian tersebut juga berlaku pada orang-orang di daerah B atau daerah lainnya.

Artinya adalah, kecantikan dan keindahan secara subjektif juga dapat dikabulkan oleh hal-hal diluar individu itu sendiri. Begitupula juga berlaku pada ketampanan seorang pria, pada setiap tatanan masyarakat memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai apakah seorang pria tersebut dikatakan tampan atau tidak. Oleh sebab itu, persoalan keindahan secara subjektif sangat kabur untuk bisa kita pahami secara mendetail.

Sekarang mari kita ketahui bagaimana konsep keindahan atau kecantikan secara objektif. Kant cukup serius untuk bisa membuktikan bahwa keindahan atau estetika dapat berdiri sendiri sebagai sebuah pengetahuan. Menurut para filosof, keindahan atau kecantikan dapat ditemukan dalam objek yang memenuhi bentuk, keseimbangan, dan proporsi.

Bagaimana suatu bentuk, keseimbangan, dan proporsi dapat menentukan penilaian kita terhadap suatu keindahan atau kecantikan? Apakah ketiganya adalah suatu syarat yang absolut untuk memenuhi keindahan menurut filsafat? Adakah suatu objek yang tidak memerlukan persyaratan diatas? Temukan jawabannya pada tulisan saya berikutnya. :)

Sumber :

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun