Mohon tunggu...
Mahmudati Amaliyah
Mahmudati Amaliyah Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

sedang mempelajari hidup

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Choice is a Magic Word

7 Juni 2010   14:52 Diperbarui: 26 Juni 2015   15:41 98 0 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Choice is a Magic Word
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

[caption id="attachment_160800" align="alignnone" width="400" caption="jalan: pilih mana, kanan, atau kiri?"][/caption]

Suatu hari, ada seorang petani yang menemukan sebuah telur elang di dekat kandang ayamnya. Karena ia tidak tahu bahwa itu adalah telur elang, ia meletakkannya bersama dengan seekorinduk ayam yang sedang mengerami telurnya. Setelah telur elang tersebut menetas, elang kecil tersebut hidup bersama dengan ayam-ayam lain di kandang ayam. Ia hidup, makan, mencari cacing seperti layaknya seekor ayam karena ia mengira bahwa dirinya adalah seekor ayam.

Suatu saat, ia melihat seekor elang terbang melayang di angkasa dengan gagahnya. Elang kecil itu terpana, “Wow, siapakah itu?”. Ayam-ayam pun menjawab, “Itu elang, sang penguasa langit, raja dari segala burung”. “Luar biasa, sayapnya mengembang di langit dengan gagah, seandainya saja aku bisa terbang…”.“Ah, tak mungkinlah kau bisa terbang, kau hanyalah seekor ayam, seperti kita. Kita mahluk bumi, sedangkan dia mahluk angkasa”.

Dia yakin akan perkataan teman-temannya, sehingga dia hidup, bersikap seperti ayam, dan akhirnya mati sebagai seekor ayam.

Banyak manusia yang menjalani hidupnya dalam ketidaksadaran. Mereka tidak sadar akan banyaknya pilihan dalam hidupnya. Cerita tadi memperlihatkan ketidaksadaran elang terhadap pilihan hidupnya. Kalau ia menyadari bahwa ia terlahir sebagai seekor elang, pasti ia dapat menggapai angannya untuk bisa terbang.

Tapi itulah pilihan, pilihan dapat kita miliki dalam segala situasi dan kondisi. Walaupun dalam takdir tidak terdapat sebuah pilihan, namun kita dapat memilih nasib kita. Kita tidak dapat memilih untuk terlahir sebagai laki-laki atau perempuan. Tapi kita dapat memilih, mau menjadi laki-laki atau perempuan bagaimanakah kita. “Sesungguhnya Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu berusaha untuk mengubahnya”. Baik dan buruk merupakan pilihan kita.

Setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing. Apabila Anda memilih sebuah pilihan dengan penuh keterpaksaan, ini hanya akan membuat Anda merasa tersiksa dan Anda akan merasa dikontrol orang lain. Anda akan melaksanakan pilihan itu dengan rasa tak berdaya. Tapi, jika Anda memilih sebuah pilihan itu dengan penuh kesadaran, maka Anda akan merasa bahwa Anda adalah pengontrol sepenuhnya diri Anda.

Pilihan dapat menjadikan Anda seorang pemimpin, karena ketika Anda menyadari bahwa Anda mempunyai pilihan, serta merta Anda dapat mengontrol diri sendiri. Pilihan dapat mengubah wayang menjadi dalang, dalang menjadi wayang, subyek menjadi obyek, obyek menjadi subyek, powerless menjadi powerfull, powerfull menjadi powerless.

Tidak memilih pun merupakan sebuah pilihan.

So, anda memilih untuk memilih, atau memilih untuk tidak memilih?

Pikirkanlah dan bersiaplah menghadapi segala konsekuensi.

Ditulis dengan kehati-hatian setelah sehari sebelumnyamenulis artikel dengan judul sama tanpa kehati-hatian sehingga terkena Mozilla Cracker : )

Berhati-hatilah apabila Anda suka menulis langsung di website daripada dari aplikasi writer!

terinspirasi oleh Anugerah A dengan segala kegelisahannya

Jombang, 06 Juni 2010 dan Surabaya, 07 Juni 2010.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan