Mohon tunggu...
Mahawikan Akmal
Mahawikan Akmal Mohon Tunggu... Pelajar MIPA SMA Labschool Jakarta

Pelajar (masih belajar dan akan terus belajar). Mengamati dan menganalisis isu-isu kesehatan, lingkungan, pendidikan, dan fenomena alam. Antusias film dan sejarah

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Badai Naga Penyembur Api (Cumulonimbus Flammagenitus)

18 Oktober 2020   18:10 Diperbarui: 18 Oktober 2020   18:30 85 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Badai Naga Penyembur Api (Cumulonimbus Flammagenitus)
Thetimes.co.uk

Cumulonimbus flammagenitus (CbFg) atau pyrocumulonimbus (Pyrocb) adalah sistem awan yang tercipta akibat suatu anomali keadaan di suatu permukaan bumi. Biasanya, sistem awan ini terbentuk akibat karhutla (kebakaran hutan dan lahan), ataupun letusan gunung berapi (WMO, 2017). Api dapat memanaskan udara dengan sangat intens sehingga memicu gerakan yang naik dengan cepat di atas api, seperti arus naik dalam badai petir, yang dapat mencapai kecepatan lebih dari 100 mil per jam (Berardeli, 2019).

PyroCb hasil kebakaran hutan dapat menyuntikkan polusi asap dan emisi pembakaran biomassa lainnya ke dalam stratosfer bawah. Sebelumnya, peneliti berpikir bahwa hanya letusan gunung berapi yang dapat menyebabkan hal seperti ini (Fromm, 2010).

(Diagram yang menunjukkan bagaimana awan pyrocumulonimbus terjadi. Via: Australia Bureau of Meteorology, Victoria)
(Diagram yang menunjukkan bagaimana awan pyrocumulonimbus terjadi. Via: Australia Bureau of Meteorology, Victoria)

Awan pyroCb terbentuk ketika massa udara yang sangat panas naik menuju lingkungan atmosfer yang tidak stabil, yang memungkinkan udara panas bergerak lebih tinggi lagi. Ini menciptakan arus udara kuat yang menyedot partikel asap, uap air, abu, dan puing-puing hangus. 

Dalam proses terciptanya pyroCb, uap air yang terbawa ke atmosfer dapat terkondensasi, dengan begitu memungkinkan untuk menciptakan curah hujan. Namun, hujan yang diakibatkan oleh awan ini jarang terjadi (Varghase, 2020). Air hujan yang jatuh akan langsung menguap karena panas yang terbawa oleh arus udara panas yang ada di bawahnya.

*untuk melihat video proses terjadinya PyroCB


PyroCb dapat menciptakan sistem badainya sendiri. Awan ini dipenuhi oleh muatan negatif yang dapat menghasilkan badai petir, membawa puing-puing, abu, dan bara api yang menghujani daratan di bawahnya. 

Bahkan, sistem badai yang timbul dapat menciptakan tornado api. Dengan begitu, tentunya pyrocumulonimbus dapat menimbulkan lebih banyak api yang tersulut dan akhirnya membuat kebakaran baru di tempat lain.

Melalui kekuatannya, awan ini pun dijuluki "Fire Breathing Storm System" oleh NASA. Tidak mengherankan, pyroCb bisa menjadi sangat berbahaya. Pada 7 Februari 2009, terjadi kebakaran hutan paling mematikan dalam sejarah Australia (Black Saturday). 

Tornado api mendekati rumah saat kejadian Kebakaran Corona pada 15 November 2008 di Yorba Linda, California via weather.com
Tornado api mendekati rumah saat kejadian Kebakaran Corona pada 15 November 2008 di Yorba Linda, California via weather.com
Peristiwa kebakaran yang terjadi melahirkan setidaknya tiga pyroCb yang membawa bara api sejauh 18 mil (30 kilometer) dari sumbernya dan memicu petir yang menyulut api tambahan sejauh 62 mil (100 kilometer) dari sumber api (Duncombe, 2020). Pada akhirnya, kebakaran ini secara kolektif membakar 1.737 mil persegi (4.500 kilometer persegi) dan merenggut 173 nyawa.

Tidak hanya itu, Sebuah pyroCb yang terbentuk akibat Carr Fire dekat Redding, California pada tahun 2018 menciptakan pusaran tornado api berkekuatan EF3 (EF atau Enchanced Fujita Scale merupakan skala kekuatan sebuah tornado, skala dari 0-5). Peristiwa lahirnya tornado api dari suatu system PyroCb dinamakan pyro-tornadogenesis. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN