Mohon tunggu...
Minami
Minami Mohon Tunggu...

@maharsiana

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Sekolah Itu Candu, Inikah Solusinya?

17 Maret 2010   00:46 Diperbarui: 26 Juni 2015   17:23 1336 0 1 Mohon Tunggu...

Melihat judul di atas jangan diartikan bahwa sekolah tempat peredaran candu, meski sekarang marak terjadi di sana. Jangan pula ditafsirkan sebagaimana ungkapan Karl Marx bahwa agama itu candu, sangat jauh berbeda pengertiannya. Judul tulisan ini saya serupakan dengan judul buku fenomenal karangan Roem Topatimasang, buku yang melahirkan perang batin saya sejak lama. Buku terbitan Pustaka Pelajar itu telah menginsipirasi kami  dulu - anak-anak SMA nan polos- untuk turut serta menyumbang buah pikiran semampunya. Sebuah buku yang sangat mencerahkan, hampir selalu dijadikan rujukan acara bedah buku di sekolah-sekolah. Dan yang pasti, belum terpikir oleh satu orang pun sebelumnya.

[caption id="attachment_94207" align="alignleft" width="180" caption="Penulis buku "Sekolah Itu Candu" (foto google)"][/caption]

Penulisnya, Roem Topatimasang hanyalah seorang pria kampung asli Masamba, Makassar yang dilahirkan pada 20 Mei 1958. Saat mudanya dia memilih hijrah ke Pulau Jawa dan terdampar di Bandung Jawa Barat lalu drop out dari Sekolah Guru (IKIP Bandung, 1980). Setelah keluar dari penjara –dia aktivis mahasiswa angkatan 78- Roem mulai aktif di dunia pendidikan dan pengorganisasian masyarakat. Di tengah-tengah menjadi guru jalanan selama 30 tahun di Jawa dan terutama di Indonesia Timur, dia masih menyempatkan menulis, memproduksi foto dan film. Semuanya didedikasikan untuk sebuah upaya transformasi sosial, bukan dengan cara revolusi. Tanpa revolusi pun, Roem tetap saya nilai sebagai seorang tokoh pembebas. Sayang, dia tidak pernah diangkat menjadi Menteri Pendidikan.

***

Jika saat ini kita ditanya, apakah yang ada dalam benak kita jika mendengar istilah sekolah, pelajar, mahasiswa, guru, dosen, pencabulan, tawuran, atau bentrokan berangkali? Tepat, semua itu bercampur baur dalam satu istitusi bernama sekolah. Stigma sosial bahwa istitusi dan hasil produknya juga belum menunjukkan pergerakan yang positif. Beberapa istilah tersebut seolah saling terkait antara satu dengan lainnya. Meski statistiknya tidak banyak, namun karena pemberitaan media yang gencar, akhirnya stigma itu melekat hingga sekarang.

Apa permasalahannya? Yang pasti bukan dana, titik. Sejak tahun 2005 hingga 2010 ini, pertumbuhan anggaran pendidikan untuk seluruh kementrian sangat mencengangkan. Jika 2005 anggaran yang tersedia hanya Rp 33,40 triliun atau 8,1 persen dari APBN, untuk tahun 2010 ini mencapai Rp 209,54 triliun atau sesuai ambang batas yang ditetapkan undang-undang yakni 20 persen dari total APBN. Dana itu termasuk juga untuk bantuan ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di seluruh pelosok negeri. Lihat tulisan saya sebelumnya Grafik Anggaran Pendidikan 2005–2010. Untuk anggaran pendidikan di Kementerian Pendidikan Nasional saja mencapai Rp 51,8 triliun. Terbesar dibanding kementerian lain. Lihat di sini.

Mengapa saya berani mengatakan anggaran pendidikan tidak berbanding lurus dengan mutu pendidikan? Sangat kentara, kualitas pendidikan Indonesia berada di urutan ke-160 dunia dan urutan ke-16 di Asia. Bahkan secara rata-rata, Indonesia masih berada di bawah Vietnam, apalagi jika dibandingkan dengan Malaysia atau Singapura.

Proses pendidikan yang tidak tertata dengan baik juga menjadi penyebab outputnya juga kurang berkualitas. Menurut laporan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk bidang pendidikan, United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), yang dirilis pada tanggal 29 November 2007 menunjukkan peringkat Indonesia dalam hal pendidikan turun dari 58 menjadi 62 dari 130 negara di seluruh dunia. Indikasinya, Education Development Index (EDI) Indonesia adalah 0.935, di bawah Malaysia (0.945) dan Brunei Darussalam (0.965). Lihat.

Persoalan kesiapan Sumber Daya Manusia pengelola dana itu juga dipertanyakan. Sejauh pantauan saya berkunjung ke daerah-daerah, kucuran dana yang melimpah dari APBN untuk lembaga-lembaga pendidikan di sana berupa Dana Alokasi Umum (DAU) untuk APBD, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan dana-dana yang jumlahnya diluar perkiraan pejabat Pemda, sangat mengecewakan pengelolaannya. Silahkan pembaca cari di google, penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dan berita penahanan kepala Dinas Pendidikan beserta jajarannya terkait kasus tersebut saya rasa sangat mudah ditemukan.

Yang jelas, justru karena gelontoran uang tersebut, banyak kepala sekolah menjadi tidak tenang. Hidupnya selalu menjadi incaran empuk pihak Kejaksaan Agung, maklum setiap Kejaksaan Negeri di tiap kabupaten/kota ditargetkan minimal tiga kasus korupsi harus diungkap. Kebijakan yang dikeluarkan Jaksa Agung Hendarman Supanji ini cukup aneh, “Kasus kok dicari-cari”, begitu komentar orang-orang daerah yang sering saya jumpai. Sebagai contoh simpel penyimpangan itu misalnya dana BOS dipakai untuk membeli seperangkat televisi beserta jaringan teve kabelnya. Hmmmm...

***

Memang tidak mudah mengelola sebuah institusi bernama sekolah.

Istilah sekolah selalu dilekatkan kepada suatu sistem, suatu lembaga, suatu organisasi besar dengan segenap kelengkapan perangkatnya. Istilah ini dulunya belum dikenal oleh manusia, karena sebelum istilah ini terlembaga laupun sudah terlembaga manusia belum membutuhkan kehadirannya. Dalam sejarah, ketika manusia sudah tidak mampu dan memiliki waktu untuk mentransformasi nilai-nilai hidup dan pengetahuan kepada anak-anak mereka, maka manusia mulai membutuhkan bantuan dari manusia lain. Bantuan ini kemudian termanifestasi dalam scola in loco (lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah, sebagai pengganti ayah dan ibu) yang sebelumnya berbentuk scola matterna (pengasuhan ibu sampai usia tertentu). Demikianlah Roem memulai tulisannya dalam buku Sekolah Itu Candu.

[caption id="attachment_94208" align="alignright" width="300" caption="Sebuah buku usang yang 'menyengat' (foto koleksi)"][/caption]

Dalam epilog untuk buku ini, Roem menulis tentang Sukardal -tokoh rekaan- yang berdialog dengan seorang profesor mengenai sekolah. Mereka pun berdiskusi dengan beberapa warga mengenai apa yang akan mereka jadikan sekolah. Di akhir pembicaraan Sukardal mengajak warga lain untuk pergi ke sekolah dimana mereka bisa menyilangkan jenis labu untuk menghasilkan labu baru. Ya, sekolah itu adalah lahan pertanian karena Sukardal memang seorang petani. Petani yang bersekolah dengan bergelut bersama realitas dan mendapatkan pengetahuan dari sana, bukan sebaliknya mendapatkan pengetahuan di kelas dan juga mendapatkan pengetahuan bahwa realitas acapkali bertentangan dengan apa yang diajarkan di kelas. Maka tak salah, dalam salah satu tulisannya Roem menuliskan bahwa sekolah itu candu yang membius masyarakat, membuat orang terlena dengan kenyataan yang sudah parah.

Pada halaman-halaman sebelumnya kita diajak untuk memikirkan kembali kondisi pendidikan (baca: persekolahan) kita. Walaupun ditulis pada tahun 1998, tulisan-tulisan Roem masih memiliki relevansi dengan kondisi kekinian. Ditulis dengan bahasa ringan namun akhirnya dahi kita berkerut juga. Apalagi melihat beberapa referensi yang dijadikan sebagai rujukan dan inspirasi dalam penulisan buku ini.

***

Apa kita hanya akan berpangku tangan dan menghujat institusi sekolah tanpa memberi solusi?

Sangat naif seandainya kita hanya mengumpat dan mencerca para pendidik, pihak sekolah, atau pun pembuat kebijakan. Banyak solusi yang sebenarnya bisa menjadi referensi bagi mereka guna mengoptimalkan dana rakyat sebesar Rp 51,8 trilun itu, belum yang berada tersebar di seluruh kementerian yang mencapai Rp 209,54 triliun.

Alexander Sutherland Neill, seorang psikolog asal Skotlandia, hidup antara tahun 1883-1973, pernah mengarang sebuah buku yang menurut saya sangat mencerahkan. Sebuah jawaban atas buku Roem di atas. Edisi Bahasa Indonesianya yang berjudul Summerhill School: Pendidikan Alternatif yang Membebaskan saya rasa bisa dijadikan rujukan atau studi kasus untuk Kementerian Pendidikan Nasional yang kini dinahkodai Bapak Menteri Muhammad Nuh.

[caption id="attachment_94211" align="alignright" width="150" caption="Buku pencerahan untuk sebuah pembebasan dalam pembelajaran (foto google)"][/caption]

Buku itu mengisahkan tentang sebuah sekolah percobaan lepas dari kungkungan kurikulum dan ujian nasional yang selalu menjadi momok bagi peserta didik. Bermula dari sekolah percobaan, kini sekolah yang memberikan kebebasan penuh pada anak tersebut menjadi sekolah pembuktian. Awalnya dari ide yang sangat sederhana, bagaimana membuat sekolah yang cocok dengan anak-anak, bukannya anak-anak yang harus cocok dengan sekolah.

Sekolah yang didirikan Alexander Sutherland Neill pun membebaskan anak-anak untuk menentukan apa yang mereka mau. Mereka membuang jauh-jauh ketertiban, arahan, anjuran, pengajaran moral, dan pengajaran agama. Sayangnya untuk kategori terakhir ini, perlu dikaji ulang jika ingin diterapkan di Indonesia mengingat mayoritas penduduknya masih memegang teguh keyakinan beragama, baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan lainnya.

Di sekolah ini, anak-anak bebas memilih pelajaran yang akan mereka ikuti. Bahkan bagi anak yang baru masuk ke sekolah "sesukamu" itu, mereka bebas bermain sepanjang waktu, berhari-hari, bahkan bertahun-tahun.

"Kami dianggap berani dengan ide ini, padahal tak dibutuhkan keberanian apa pun," ujar Neill. Yang dibutuhkan hanyalah keyakinan penuh bahwa anak-anak adalah makluk yang baik dan bukan makhluk jahat. "Kami meyakini sepenuh hati," tambah Neill. Keyakinan Neill tak pernah surut, sejak sekolah didirikan hingga saat ini.

Neill sangat memahami, butuh waktu bagi anak untuk menjadi dirinya sendiri setelah begitu tertekan dari sekolah "normal". Panjang pendek masa penyembuhan ini tergantung pada seberapa besar kebencian yang ditanamkan oleh sekolah "normal" ke dalam diri mereka. Seorang anak TK yang pindah ke Summerhill akan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan baru di sekolah tersebut. Tetapi makin bertambahnya umur anak, semakin lama waktu penyembuhan yang mereka lakukan. Bisa jadi mereka bersumpah tidak akan pernah mau lagi mengikuti pelajaran "terkutuk" yang selama ini mereka dapatkan dari sekolah lamanya.

Bagi Neill, pelajaran bukanlah sesuatu yang penting. Aktivitas belajar tidalah sepenting kepribadian dan karakter. Jack, salah satu siswanya, tidak lulus masuk ujian perguruan tinggi karena dia membenci buku. Tetapi ketidaktahuannya tentang pelajaran tidak menghalangi hidupnya. Jack tumbuh menjadi seorang yang sangat percaya diri.

Tes yang dilakukan di kelas pun sangat iseng. Pertanyaannya, di manakah Pulau Buru, obeng, demokrasi dan kemarin? Tak butuh jawaban. Tetapi anak yang baru saja masuk tidak memberikan jawaban seperti jamaknya anak-anak yang sudah lama di Summerhill. Bukan mereka bodoh, tetapi karena sudah terbiasa dalam rimba keseriusan, padahal bagi anak-anak yang sudah lama di Summerhill, justru keisengan ini yang dinantikan.

Anak Didik Bermasalah

Masih adanya tawuran antar siswa bahkan mahasiswa seperti yang selama ini sering kita saksikan, menyisakan satu pertanyaan. Ada apa dengan mereka, siapa yang harus disalahkan dengan kondisi itu. Pihak sekolah kah, pihak keluarga kah, lingkungan siswa kah, atau anak didik itu sendiri?

Bagi Neill, memaksakan pelajaran pada anak, sama saja memaksakan pekerjaan yang tidak menyenangkan buat anak. Tak bisa disangkal, banyak anak bermasalah di Summerhill. Mereka yang berkali-kali dikeluarkan dari sekolah, pribadi yang penuh kebencian atau pemberontakan. Neill tidak menyangkal kalau seorang anak sebetulnya tumbuh dengan egonya. Tetapi ia yakin, ego yang dipelihara dengan baik, akan memiliki apa yang disebut dengan kebaikan. Tetapi ego yang dikekang hanya menghasilkan kejahatan. Anak-anak yang dianggap jahat sejatinya ia sedang berusaha mencari kebahagiaan. Rumah dan sekolah seringkali menjadi sumber ketidakbahagiaan dan sikap antisosial. Kebahagiaan yang tak mereka rasakan sejak kanak-kanak hanya akan membuka celah bagi kebahagiaan palsu yang didapat dari kegiatan merusak, mencuri, atau menghajar orang.

Kejahatan dan hukuman tidak akan pernah mengatasi kejahatan dan kenakalan anak. Ketika seorang muridnya mencuri, menurut Neill, yang dicuri anak itu adalah kebahagiaan. Sebetulnya ia ingin mendapatkan perhatian dan kebahagiaan. "Saya tidak menghukumnya," ujar Neill. Ia justru memberinya hadiah, kadang uang atau apa pun. "Buat apa memarahi mereka, mereka akan sadar dengan sendirinya," ujar Neill. Dan resep ini sangat manjur. Anak-anak yang bermasalah menurutnya adalah anak yang tidak bahagia. Dia berperang dengan dirinya sendiri, konsekuensinya dia berperang dengan seluruh dunia.

Kebebasan pula yang menghilangkan rasa takut pada anak-anak. Anak-anak kecil di Summerhill tidak ada yang takut dengan petir atau gelap. Jadi kebebasan juga mengubah anak yang semula penakut menjadi pemberani dan teguh pendirian.

Jika ada anak yang ketahuan mencuri, ia hanya diminta mengembalikan apa yang sudah diambilnya. Hukumannya pun ditentukan oleh anak-anak sendiri. Sekolah ini memang dikelola bersama, guru dan siswanya. Swakelola istilah mereka. Dari hukuman-hukuman ini, mereka sadar bahwa mencuri itu merugikan. "Mereka adalah para realis cilik. Mereka tidak akan mengatakan bahwa Tuhan akan menghukum pencuri," ujar Neill. Seminggu sekali mereka mengadakan rapat bersama untuk membahas semua kejadian dalam keseharian mereka. Hukuman, ketidaksetujuan, dan ide dibahas secara demokratis. Guru tidak campur tangan. Semuanya diselesaikan sendiri oleh anak-anak.

Sejak didirikan hingga saat ini, sudah banyak alumni Summerhill School yang berhasil, entah apa pun pekerjaan yang mereka lakukan.

Dalam konteks Indonesia, sekolah yang membebaskan ini tentu sangat diperlukan. Anak-anak yang sangat putus asa dan tertekan dengan sekolah, butuh "penyembuhan". Sangat tidak masuk akal melihat anak-anak putus asa bahkan mengakhiri hidup mereka karena permasalahan sekolah. Terlebih ketika anak-anak sangat tertekan dengan Ujian Nasional dan ketentuan-ketentuan yang "menggantung" hidup dan masa depan mereka. Sekolah tanpa kita sadari sudah menjadi penjara. Dan orang tua pun berlomba-lomba memasukkan anak ke dalam penjara.

***

Epilog

Suatu hari Soe Hok Gie pernah menulis dalam catatan hariannya, “Apakah yang lebih tidak adil, selain mendidik sebagian kecil anak-anak orang kaya dan membiarkan sebagian besar rakyat miskin tetap bodoh. kalau perlu turunkan sedikit mutu pendidikan yang penting pendidikan merata untuk semua golongan..."

Dia menulis cathar itu setelah mendebat pendapat seorang pakar pendidikan di kampusnya yang mangatakan bahwa peningkatan biaya pendidikan adalah sesuatu yang mutlak untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Secara ketokohan, Gie tidak bisa dipungkiri lagi, bahkan kisahnya pernah difilmkan di layar lebar. Masalah kesetaraan pendidikan di atas, secara pribadi saya sepakat dengannya, “Lebih baik bodoh ramai-ramai, daripada kepintaran hanya dinikmati segelintir elit negeri ini, apalagi jika kelebihannya itu hanya untuk membodohi masyarakat kebanyakan.”

Insititusi sekolah, baik sekolah rendah maupun sekolah tinggi, bukanlah ajang lifestyle, pamer laptop dan henpon terbaru, pamer mobil bapaknya, pamer fashion termahal, dan segala pertunjukan kemewahan lainnya. Sekolah adalah wadah peserta didik menikmati masa mudanya, bukan sarana kebebasan apalagi penjara kebebasan berkreasi.

[caption id="attachment_94210" align="alignleft" width="196" caption="Sampul buku pencerahan untuk peserta didik (foto google)"][/caption]

Sewaktu SMA, kurang lebih satu dekade lalu, di sekolah kami ngetrend diskusi tentang metode pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan. Makalah kelompok kami yang mengulas hal sederhana -bukan hal berat seperti pencegahan narkoba, bahaya merokok, dan sejenisnya- malah pernah menjadi satu-satunya makalah yang dipresentasikan di depan kelas. Kata sang guru, sebentar lagi adalah masa kuliah yang tentu perlu kajian cara belajar yang “baik” jadi topik ini akan lebih berasa. Sekolah adalah masa di mana otak dan kreatifitas yang perlu ditonjolkan, mengkritisi situasi politik, ekonomi, sosial dan kemasyarakatan menggunakan penalaran logis. Untuk apa tawuran, kasihan orang tua yang melihat kita. Ekspektasi mereka akan kita tentu bukan untuk melihat hal-hal seperti itu.

Buku yang pernah menjadi fenomenal pada waktu itu berjudul “Quantum Learning” sebagai pegangan bagi anak didik dan pasangannya pegangan bagi pendidik yaitu “Quantum Teaching”. Kini, pendalaman metode andragogi itu bisa dinikmati hasilnya. Sekolah kami yang “mewah = mepet sawah” dalam hal prestasi tidak mau kalah dengan sekolah lain yang berlabel Sekolah Berstandar Internasional maupun rintisannya (RSBI), semoga tidak hanya tarifnya yang bertaraf internasional. Tiap tahun, hampir 90 persen lulusannya dapat menembus perguruan tinggi terbaik negeri ini. Barangkali faktor ini yang membuat orang tua saya yang di Jakarta mengirim saya ke sekolah ini. Sekolah “mewah” yang sangat membebaskan dengan tarif jauh dibawah standar internasional.

Silahkan berkunjung ke situs “gerakan pembebasan” almamater kami di http://sma1purworejo.sch.id/

Indikasi nyata masyarakat mulai melek pendidikan adalah membludaknya pendaftar sekolah-sekolah alam dan sekolah terpadu. Pernah saya lihat di televisi, orang tua antri panjang mendaftarkan anaknya untuk menjadi siswa sebuah sekolah alam di bilangan Bintaro, mengantri sampai dini hari. Pemandangan mengagumkan, sayang sekolah itu masih belum terjangkau masyarakat kebanyakan. Ada benarnya kata Butet putri Bunda Pipiet, “Jangan pernah mau jadi orang miskin di negeri ini.”

Salam Pembebasan

Tulisan terkait : Grafik Anggaran Pendidikan 2005 - 2010

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x