Mohon tunggu...
Luna Septalisa
Luna Septalisa Mohon Tunggu... Administrasi - Pembelajar Seumur Hidup

Nomine Best in Opinion 2021 dan 2022 | Penulis amatir yang tertarik pada isu sosial-budaya, lingkungan dan gender | Kontak : lunasepta@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

Soal Pilihan Ganda, Masalah yang Dihadapi Para Guru dan Alternatifnya

3 Oktober 2023   05:00 Diperbarui: 3 Oktober 2023   17:35 523
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi siswa mengerjakan soal pilihan ganda-sumber: Andy Barbour from pexels

Maudy Ayunda, artis cerdas yang sempat menempuh pendidikan di Oxford University (S1) dan Stanford University (S2), sempat jadi sorotan beberapa waktu lalu. Penyebabnya adalah ide untuk menghapus soal pilihan ganda jika ia menjadi menteri pendidikan. 

Pro kontra bermunculan. Tak sedikit dari yang kontra mengkritik Maudy karena dianggap tidak paham kondisi di lapangan, terutama yang dialami oleh para guru di Indonesia. 

Ulangan, ujian, tes atau apapun nama dan bentuknya, sejatinya adalah instrumen untuk menilai pemahaman siswa atas pelajaran yang sudah disampaikan. Soal pilihan ganda adalah jenis soal yang paling lazim dan banyak digunakan dalam ujian atau tes, terutama di tingkat pendidikan dasar dan menengah. 

Soal pilihan ganda juga dapat ditemukan dalam tes masuk perguruan tinggi, baik negeri (jalur SBMPTN) maupun swasta (jalur Computer Based Test atau CBT). 

Kenapa Soal Berjenis Pilihan Ganda Begitu Populer Digunakan? 

Alasan utamanya, tentu saja karena kepraktisan. Hal ini berkaitan dengan dua masalah yang kerap dihadapi oleh para guru di Indonesia, yaitu beban mengajar dan administrasi yang banyak

Satu orang guru, terutama di sekolah negeri, dapat mengajar lebih dari satu kelas setiap harinya. Belum lagi, jumlah siswa dalam satu kelas di sekolah negeri itu banyak. Bisa 30-40 siswa. 

Bayangkan, kalau guru tersebut harus mengajar 3 kelas saja dalam sehari. Itu artinya ia harus mengajar sekitar 90-120 siswa per hari. Kecuali, kalau ia guru sekolah swasta elit atau sekolah internasional yang jumlah siswa satu kelasnya bisa tidak lebih dari 20 orang. 

Bagaimana kalau guru tersebut mau memberikan ulangan harian kepada 3 kelas yang diajarnya? Mengingat koreksi soal esai akan memakan waktu lebih banyak, bukankah lebih praktis memberikan soal pilihan ganda?

Soal pilihan ganda yang hanya diminta untuk memilih satu jawaban yang paling tepat, kalau kunci jawaban bilang "A", berarti yang benar "A". Kunci jawaban bilang "B", berarti selain "B" salah dan seterusnya. Sementara soal esai, meski hanya 5 nomor, jawaban setiap siswa lebih bervariasi. Poin yang diberikan untuk setiap nomor berbeda. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun