Mohon tunggu...
Lukman Hakim
Lukman Hakim Mohon Tunggu... Mahasiswa - Communication

Menulis bukan karena tugas.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Nasib Kuli di Kala Pandemi: Kehilangan Proyek hingga Kerja Serabutan

17 Oktober 2021   14:35 Diperbarui: 17 Oktober 2021   14:42 31 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Merebaknya kasus pandemi Covid-19 sejak Desember tahun 2019 hingga saat ini merupakan masa kelam bagi semua orang, terlebih bagi mereka yang kehilangan pekerjaannya. Tentu merupakan realita yang menyesakkan apabila harus kehilangan pekerjaan dan diberhentikan secara paksa. Oleh karena keadaan, banyak yang harus rela kehilangan mata pencaharian sehari-hari untuk mencukupi kehidupan dan kebutuhan keluarga mereka.

Hal inilah yang dialami oleh Ahmad Riyadi(23), seorang kuli bangunan warga Desa Ujungwatu Kec. Donorojo Kab. Jepara. Pada Minggu (10/10/2021), ia menuturkan bahwasanya adanya pandemi berdampak signifikan terhadap pendapatan dan proyek-proyek yang sedang atau akan digarap. “Sebelum ada pandemi, saya itu pergi merantau ke Jakarta dan Bogor. Banyak proyek yang saya kerjakan di sana. Sebelum dipulangkan, saya sedang merampungkan satu proyek besar. Namun setelah ada pandemi, saya akhirnya diberhentikan dan disuruh pulang dulu sambil menunggu kondisi normal kembali,” tuturnya.

Ditambahkan Riyadi, saat ia pergi  merantau baik ke DKI Jakarta ataupun ke Kota Bogor, ia biasanya mengerjakan proyek-proyek besar, seperti pembangunan gedung, hotel, bahkan mall. Dari proyek-proyek yang dikerjakan tersebut, ia bekerja dari jam 07.00 sampai 16.00 WIB. Jika ditambah dengan lembur ia harus bekerja lagi dari pukul 19.00 sampai 22.00 WIB. 

Dalam seminggu, ia bisa bekerja selama enam hari dengan sistem borongan maupun harian. Sedangkan upah yang diperoleh sebesar 120.000 rupiah per hari. Jika ditambah dengan lembur, ia akan memperoleh 240.000 rupiah per hari. Jadi dalam seminggu, ia bisa mengumpulkan uang minimal 720.000 rupiah. “Saya biasanya kirim uang ke orang rumah dua minggu sekali dan paling minim itu 500.000 rupiah,” ungkapnya.

Nasib yang sama juga dialami oleh Roni(27), seorang kuli rumahan asal Kecamatan Donorojo Kabupaten Jepara. Ia mengaku bahwa dulunya ia sempat menganggur dikarenakan tidak ada yang memesan jasanya lagi hingga kemudian beralih profesi menjadi kerja serabutan. “Saya dulu sempat frustasi karena beberapa minggu nganggur tidak ada kerjaan. Kalau sudah begitu saya hanya bisa menunggu tetangga menawarkan jasa saya, walaupun bukan bidang saya. Misalnya disuruh ngangkut pasir, memotong kayu, hingga bajak sawah. Semua tawaran saya kerjakan asal bisa dapat pemasukan,” ujar Roni.

Roni menambahkan jika sebelum pandemi, dalam satu bulan minimal ia bisa mengerjakan satu proyek pembangunan rumah. Namun setelah adanya pandemi, ia hanya bisa mengandalkan tawaran-tawaran dari para tetangga. Dari tawaran-tawaran yang didapat itu upahnya juga tidak tentu tergantung dari jasa apa yang mereka tawarkan. “Setelah beberapa minggu nganggur itu untungnya hampir setiap hari ada tetangga yang menawarkan jasa ke saya. Meski upah yang diberikan tidak seberapa yang penting masih cukup buat makan sehari-hari anak istri,” tambahnya.

Disinggung tentang bantuan dari desa, Roni mengaku hanya satu kali mendapat bantuan sosial berupa karung beras seberat 10 kg. “Selama pandemi ini, saya hanya sekali mendapat bantuan dari desa. Bantuan itu berupa beras 10 kg, itu saja, setelahnya tidak ada lagi bantuan dating ke rumah,” ungkap Roni. Meski demikian, ia tetap bersyukur masih mendapatkan bantuan sosial dari pihak setempat.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan