Mohon tunggu...
Lingkungan

Metana : Gas Penghancur Perisai Bumi dan Pemanfaatannya sebagai Energi Terbarukan #3

19 Agustus 2017   22:25 Diperbarui: 24 Agustus 2017   11:33 759 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Metana : Gas Penghancur Perisai Bumi dan Pemanfaatannya sebagai Energi Terbarukan #3
20161016-080106-1-599d5f895221142ce16d3ac2.jpg

Jika anda pernah melewati wilayah Bandung, cobalah melaju ke arah jalan penghubung Kabupaten Sumedang - Bandung di mana anda akan menemui wilayah bukit dan pegunungan di sebelah kiri jalan. Lalu belokkan kendaraan anda ke arah Utara setelah Pasar Ujung Berung memasuki desa bernama Ciporeat. Teruslah menyusuri jalanan aspal yang masih terbilang layak karena tidak terlalu jauh dari pusat perkotaan. Naik dan turun berputar mengelilingi bukit. Bau mulai menyengat, air selokan berwarna kehijauan. Jangan menyerah ! Seandainya anda terus menelusurinya, anda akan menemukan banyak peternakan sapi rumahan yang tidak kalah baiknya dari Pangalengan. Disini anda dapat membeli susu sapi secara langsung fresh from the ovendengan harga yang sangat murah tentunya.

Pagi tadi, tepatnya 19 Agustus 2017. Delapan Orang anggota Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (Himatek) ITB berkunjung ke desa tersebut. Bukan untuk membeli susu, melainkan ada misi khusus yang telah dilakukan empat tahun terakhir ini. Sembilan buah reaktor telah ditanamkan dalam kurun waktu tersebut. Hari ini dilakukan survei dan pengecekan lapangan untuk penanaman reaktor beberapa bulan mendatang.

Saya menganggapnya hanya sebuah septic tankuntuk menampung ternak-ternak sapi masyarakat desa di sana. Pandangan saya waktu itu bertahan selama berbulan-bulan. Proyek ini tidak ada bedanya dengan septic tank manusia. Pengalaman ini saya dapatkan ketika pada tanggal 12 Oktober 2016 lalu melalui live-in di desa binaan Himatek tersebut. Namun kini saya sadar, benda yang saya anggap septic tank ini telah memberikan kontribusi terhadap dunia !

Gambar : Penanaman Reaktor Biogas oleh HIMATEK ITB.

Pencemaran air di desa tersebut menjadi isu utama yang menggerakkan massa Himatek untuk melakukan sebuah aksi nyata di tengah masyarakat. Bukan karena limbah tekstil dengan berbagai warna nyentrik yang menyelimuti permukaan perairan dan kandungan logam beratnya yang dapat membunuh ekosistem, melainkan hanya kotoran sapi yang membuat sumber mata air dari atas berubah menjadi kehijauan dan berbau. Lembaga lingkungan hidup Amerika Serikat, Environmental Protection Agency (EPA) melalui National Water Quality Inventory Report to Congress pada tahun 2004 menjelaskan bahwa 40% aliran air sungai telah tercemar dengan penyebab utamanya berasal dari sektor agrikultur. Pada praktisnya, terlihat jelas bahwa pencemaran ini nyata dan banyak masyarakat menganggap remeh bahwa kotoran sapi tidak berpengaruh begitu besar karena merupakan bahan organik.

500 juta ton dari kotoran sapi dihasilkan setiap tahunnya. Dengan area yang terbatas dalam satu kandang di peternakan, tentu akan membuat kotoran padat dan urin dari sapi berkonsentrasi tinggi. Dengan keberadaan limbah-limbah organik yang tidak terkontrol tersebut, secara kasat mata sudah terlihat dengan pencemaran air permukaan. Lebih dari itu, pencemaran air dalam tanah menjadi masalah yang lebih besar. Kotoran peternakan membawa nutrisi seperti Nitrogen, Fosfor dan Potassium. 

Meskipun terlihat menguntungkan karena menjadi kandungan utama dalam pupuk, penambahan zat tersebut dapat mengganggu ekosistem. Nitrogen dan Fosfor di aliran permukaan dan bawah tanah sejatinya berasal dari kotoran peternakan. Dengan kadar yang berlebih, zat-zat ini dapat menyebabkan bloomingalga yang dapat berpengaruh terhadap kadar oksigen terlarut dalam air sehingga ikan dalam perairan tersebut terancam mati.

Foto : Dokumentasi pribadi

Bagi manusia, tingginya kadar nitrat dalam air bukan hanya berakibat kepada perubahan rasa air namun dapat menyebabkan methemoglobinemia atau blue baby syndrome. Selain itu, bakteri patogen E. Coli, Cryptosporidium, dan Coliform yang dibawa oleh kotoran peternakan memiliki kemungkinan untuk menyebabkan 40 jenis penyakit terhadap manusia

Masalah berantai dari sektor peternakan sudah lama diamati oleh para aktivis lingkungan. Selain pencemaran di air, gas yang dihasilkan dari proses biologis ini telah menjadi bom waktu bagi warga dunia. Metana yang tidak terkontrol menyebabkan efek rumah kaca yang dampaknya lebih luas dari sekedar pencemaran air.

Foto : Dokumentasi pribadi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN