Mohon tunggu...
Julianda BM
Julianda BM Mohon Tunggu... Administrasi - ASN pada Pemerintah Kota Subulussalam, Aceh

Penulis buku "Eksistensi Keuchik sebagai Hakim Perdamaian di Aceh". Sudah menulis ratusan artikel dan opini. Bekerja sebagai ASN Pemda. Masih tetap belajar dan belajar menulis.

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan

Menanti Keseriusan Pemerintah Mengatasi Krisis Beras

23 Februari 2024   18:26 Diperbarui: 23 Februari 2024   18:27 92
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi beras. Foto: KOMPAS.COM/Muchamad Dafi Yusuf

Oleh: Julianda BM

Nasi putih, makanan pokok yang menemani setiap hidangan di Indonesia, kini seakan menjelma menjadi barang mewah. 

Harganya yang terus meroket membuat banyak keluarga menelan ludah pahit. 

Di tengah hiruk pikuk kehidupan, bayang-bayang krisis beras menghantui, memicu kekhawatiran dan keraguan akan masa depan pangan bangsa.

Data Badan Pangan Dunia (FAO) menunjukkan bahwa harga beras global telah mencapai level tertinggi sejak tahun 2008. 

Di Indonesia sendiri, harga beras medium di berbagai daerah telah menembus Rp 10.000 per kilogram, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Berbagai faktor menjadi penyebab krisis beras ini, mulai dari perubahan iklim yang mengganggu produksi padi, hingga fluktuasi nilai tukar rupiah dan gejolak geopolitik global. 

Namun, di balik kompleksitasnya, akar permasalahan ini terletak pada kurangnya keseriusan pemerintah dalam menangani masalah pangan.

Sejak lama, sektor pertanian di Indonesia terabaikan. Kurangnya investasi, infrastruktur yang tidak memadai, dan akses yang terbatas terhadap teknologi modern membuat petani terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan ketidakefisienan.

Pemerintah memang telah meluncurkan berbagai program untuk meningkatkan produksi padi, seperti program Upaya Khusus Padi, Jagung dan Kedelai (Upsus Pajale) dan program Kartu Tani. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun