Hijau

Pembangunan Berkelanjutan Melalui Pendidikan Lingkungan

9 November 2017   21:26 Diperbarui: 9 November 2017   21:28 730 0 0

Apa yang perlu kita lakukan untuk melindungi lingkungan, apakah itu daur ulang, mengurangi konsumsi daya kita dengan mengganti perangkat elektronik, dengan berjalan kaki dalam perjalanan singkat daripada naik bus, kita mungkin sebagian besar tahu itu. Dalam beberapa realita ada insentif untuk memasang sumber daya terbarukan di rumah dan bisnis kita. Perlindungan lingkungan merupakan perhatian utama masa depan umat manusia. Ini mendefinisikan bagaimana kita harus mempelajari dan melindungi ekosistem, kualitas udara, integritas dan keberlanjutan sumber daya kita dan berfokus pada elemen yang memberi tekanan pada lingkungan.

Kesehatan terancam oleh masalah pada lingkungan tersoroti, menjadi perhatian besar. Masalah lingkungan terdapat perilaku lingkungan yang tidak bertanggung jawab dan acuh tak acuh. Oleh karena itu, tahap yang paling penting dari perjuangan untuk mengatasi masalah lingkungan adalah sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan lingkungan. Pandangan tradisional tentang tujuan pendidikan lingkungan adalah untuk membantu masyarakat mengembangkan opini positif terhadap lingkungan dan untuk melindungi lingkungan dengan mempelajari nilai lingkungan. Namun, saat ini, terlihat dalam literatur pendidikan lingkungan bahwa belajar tentang lingkungan, di dalam lingkungan alam dan melalui pengalaman, secara bertahap menjadi lebih penting.

Meskipun tampaknya kelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan sama, ada beberapa cara di mana mereka menyimpang dalam tujuan mereka. Keduanya memiliki tujuan keseluruhan yang sama untuk melestarikan sumber daya alam dan menciptakan lebih banyak proyek dan praktik hemat energi, namun keduanya ada kemungkinan menemukan ketidaksepakatan mengenai apa prioritas tindakan tersebut. Memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana keduanya berbeda dan hal yang sama dapat membantu mengetahui bagaimana menavigasi berurusan dengan keduanya.

Tujuan kelestarian lingkungan adalah melestarikan sumber daya alam dan mengembangkan sumber daya alternatif sekaligus mengurangi polusi yang membahayakan lingkungan. Hal ini untuk kelestarian lingkungan, keadaan masa depan. Banyak proyek yang berakar pada kelestarian lingkungan akan melibatkan penanaman kembali hutan, melestarikan lahan basah dan melindungi kawasan alami seperti cagar alam.

Pembangunan berkelanjutan adalah suatu isu besar terkini dalam agenda politik di lingkup internasional, nasional, dan lokal yang menjadi suatu bagian terpenting bagi dunia saat ini. Misalnya pemerintah Jerman yang mempertimbangkan Environmental Education( EE ) atau edukasi mengenai lingkungan dan Learning for Sustainable Development( LSD ) atau pembelajaran mengenai pembangunan berkelanjutan sebagai suatu instrument kebijakan komunikatif, untuk mempromosikan bagaimana pembangunan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan di masyarakat sosial.

Pembuat kebijakan di seluruh dunia mencari cara untuk menggunakan strategi pendidikan dan komunikasi untuk menciptakan dunia yang lebih berkelanjutan daripada prospek yang ada sekarang. Mereka sering mendapati diri mereka terjebak antara perubahan instrumental (perilaku perubahan) dan penggunaan strtegi emansipasi (manusia). Studi ini menyoroti perbedaan nyata ini dengan menyelidiki empat kasus teladan yang mewakili kedua orientasi dan campurannya. Salah satu hasil dari penelitian ini adalah bahwa pembuat kebijakan lingkungan pendidikan dan juga profesional pendidikan lingkungan pertama-tama perlu merenungkan tantangan perubahan yang dipertaruhkan. Baru pada saat itulah mereka dapat menentukan jenis pendidikan, partisipasi, komunikasi, atau campuran mana yang paling sesuai, jenis hasil apa yang dapat dikejar, dan sistem pemantauan dan evaluasi mana yang terbaik untuk dipekerjakan.

Tujuan utama dari focus instrumental adalah menyadari adanya target/ hasil kebijakan, tanggungjawab terletak pada orang yang memberikan dana/ pemerintahan, basis tanggung jawab adalah kepada pemerintah mengarah kepada warga negara. Sedangkan dari fokus emansipasi adalah menyertakan stakeholder, meningkatkan kualitas dalam proses, dan belajar untuk bisa lebih kolaboratif terhadap pihak lain.

Terdapat dua pendekatan yang berbeda yang dilakukan untuk memutuskan suatu kebijakan. Pendekatan instrumental secara garis besar memberikan pengetahuan terhadap permasalahan yaitu permasalahan ekologis atau lingkungan, sedangkan pendekatan emancipator lebih bertujuan untuk menciptakan perubahan jangka panjang, yang mementingkan adanya dukungan publik, perjanjian, dan keterlibatan.

Pendekatan emancipatory membutuhkan proses pembelajaran terhadap lingkungan secara fisik dan sosial. Komitmen secara jangka panjang dibutuhkan. Pendekatan emancipator juga mementingkan adanya akomodir persepsi dan pengetahuan dari para aktor yang terlibat. Tidak seperti pendekatan emancipatory, pendekatan instrumental sangat dipengaruhi oleh bagaimana menjangkau target grup dalam jangka besar dan bervariasi dan lalu diukur. Obyektif yang disusun dalam pendekatan ini berdasarkan kuantitatif.

Pendekatan instrumental dan emancipatory salah satu menguatkan pada policy perspective dan sebagian pada education perspective. Sehingga terdapat kesempatan yang berbeda pada strategi monitoring dan evaluasi. Ada perbedaaan pendekatan instrumental dengan pendekatan emancipator dalam melakukan strategi monitoring dan evaluasi.

Dalam pendekatan instrumental, salah satu pertimbangan pentingnya pengetahuan merupakan faktor yang mempengaruhi adanya kepedulian dan peningkatan serta proses perubahan tingkah laku yang terjadi. Dalam pendekatan instrumental, pengetahuan berperan sebagai salah satu pertimbangan mendasar yang mempengaruhi kepedulian dan perubahan tingkah laku. Sedangkan dalam pendekatan emancipatori, pengetahuan berada untuk memfasilitasi perubahan secara impilisit, yang akhirnya membentuk adanya pengetahuan yang baru.

Referensi

Wals, A. E. J., Geerling-Eiff, F., Hubeek, F., Kroon, S. van der & Vader, J. (2008). "All mixed up? Instrumental and emancipatory learning toward a more sustainable world. Considerations for EE policymakers." Applied Environmental Education and Communication, 7: 55-65.