Sulistyo
Sulistyo Buruh Dagang

Buruh Dagang

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Tradisi Kupat Lebaran, Pengakuan Atas Kesalahan

14 Juni 2018   16:13 Diperbarui: 14 Juni 2018   23:43 684 10 3

Kupat atau lebih lengkapnya tertulis ketupat menjadi barang yang hampir ditemui di beberapa tempat di saat-saat lebaran tiba. Khususnya di Jawa dan sekitarnya bahkan kini merambah di berbagai wilayah juga ditemui hidangan ketupat mengiringi suasana bahagia di Hari Raya Idul Fitri setiap tahunnya.

Kulit ketupat yang terbuat dari anyaman daun muda kelapa atau nyiur berbentuk segi empat agak pipih ini berisikan beras secukupnya, dimasak (rebus) kemudian disajikan sebagai pengganti nasi yang dipadatkan dan dihidangkan bersama lauk secukupnya. Untuk melengkapi hidangan tradisional ini biasanya juga disertakan kuah berupa kuah santen (santan) dan dinikmati dalam suasana lebaran.

Ketupat yang sudah siap dimakan/dinikmat dalam suasana saling berbagi dari rumah ke rumah dan biasanya disuguhkan, diantar oleh mereka yang berasal dari urutan silsilah kekerabatan bagi yang lebih muda lantas dikirimkan untuk kerabat yang lebih tua. Ada pula sebagai balasan tentunya yang lebih tuapun mengirimkan sajian ketupat yang sama.

Secara kasat mata jika dilihat dari bentuknya, makanan tradisional ini (ketupat) tidak jauh berbeda rasa dengan apa yang dinamakan lontong yaitu sebagai bentuk praktis karbohidrat yang dipadatkan, direbus dan dibungkus oleh dedaunan.

Namun demikian yang menarik untuk dicermati sekaligus dipahami bahwa kenapa ketupat yang menjadikan populer disaat-saat lebaran tiba -- tentunya ada maksud dan tujuan sehingga mengandung arti maupun makna tersendiri.

Nah dari berbagai cerita para sesepuh, termasuk orang tua penulis (almarhum) yang berasal dari generasi jaman dulu, dipilihnya ketupat sebagai suguhan yang dinikmati dan dibagikan manakala setiap lebaran tentunya terdapat simbol-simbol tertentu yang merupakan bagian dari budaya rakyat dan selama ini masih berlaku serta mendukungnya.

Dilihat dari asal kata ketupat atau dalam bahasa Jawa disebut Kupat, ini mengandung arti "mengaku lepat" (= mengaku dirinya punya salah). Dalam arti lain dimaksudkan bahwa setiap manusia dalam pergaulan sehari-hari, baik sengaja maupun tidak disengaja mungkin pernah berbuat/berperilaku salah sehingga melalui simbol kupat itulah disampaikan.

Demikian pula terkait hal tersebut, hidangan ketupat yang disertai lauk dan santen (bersantan) juga mengandung makna ini menandakan bahwa kata "santen" dalam kultur Jawa dapat diartikan sebagai "pangapunten" (= minta maaf).

Maka dari itu, bilamana hidangan ketupat berlauk dan bersantan ini dibagikan kepada orang lain selanjutnya secara simbolis mengandung makna bahwa di saat momentum lebaran tiba -  tradisi yang sudah turun temurun hingga sekarang masih banyak dilakukan. Dalam pemahaman lebih luas dan menyeluruh, mengirimkan ketupat lebaran sama halnya dengan telah melakukan pengakuan atas kesalahan sehingga mohon dimaafkan.

Itulah sekilas berbagi tulisan yang bisa penulis sumbangkan semoga menjadi tambahan wawasan dalam memaknai ketupat lebaran. Pada kesepatan ini pula, tak lupa penulispun secara ikhlas mengucapkan Mohon Maaf Lahir dan Batin di Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1439 H -- terutama tertuju kepada seluruh sahabatku Kompasianer dan para pembaca Kompasiana yang budiman dimanapun berada. Salam hangat untuk semuanya.