Sulistyo
Sulistyo Buruh Dagang

Buruh Dagang

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Bencana Kesehatan di Papua Menggugah Perhatian Bersama

14 Januari 2018   19:42 Diperbarui: 14 Januari 2018   19:47 1209 3 1

Di tengah hiruk pikuk pemberitaan dimulai meriahnya pesta demokrasi (Pilkada 2018) yang berlangsung di beberapa daerah, kitapun terhenyak dengan munculnya berita bencana kesehatan yang terjadi di Papua. Beberapa bulan terakhir tercatat sejumlah anak-anak seusia bawah lima tahun (balita) dinyatakan meninggal akibat campak dan gizi buruk.

Seperti terpetik berita bahwa: sebanyak 24 anak meninggal akibat kejadian luar biasa campak disertai gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua dalam empat bulan terakhir. Jumlah korban bisa bertambah karena Pemerintah Kabupaten Asmat masih melakukan pendataan (Headline, Harian Kompas, Edisi 13 Januari 2018, halaman 1).

Headline disertai gambar/foto peristiwa berukuran besar atau hampir memenuhi setengah halaman yang disajikan Harian Kompas tersebut, dengan caption: Barnabas Berpit (3 tahun) dirawat di ruang Hight Care Unit RSUD Agats, Kabupaten Asmat, karena menderita campak dan gizi buruk, Januari 12/1). Sepanjang Januari ini, RSUD Agats melayani 34 pasien rawat jalan dan 29 pasien rawat inap penderita campak.

Ditampilkannya foto peristiwa berukuran besar dalam headline ini juga menunjukkan bahwa peristiwa itu masuk pada kategori lain dari biasa atau tergolong pada Kejadian Luar Biasa (KLB) sekaligus sebagai berita yang dianggap penting, mendesak/segera dipublikasikan sehingga menggugah perhatian semua kalangan, untuk diketahui dan ditindak lanjuti.

Terkait peristiwa yang mengenaskan ini, beberapa hal yang perlu mendapatkan prioritas dalam penanganan dan pencegahan lebih lanjut di kemudian hari. Perihal layanan dasar di bidang kesehatan menjadi faktor utama yang pastinya perlu mendapat perhatian.

Vaksinasi campak terhadap balita di daerah tersebut sangat dimungkinkan tidak berlangsung secara optimal. Penyakit campak yang sesungguhnya bukan tergolong sulit diatasi, namun apabila tidak serius dicegah sejak awal (melalui vaksinasi) maka peristiwa yang merenggut nyawa terutama anak-anak di usia balita akan terjadi.

Faktor penyebab lain seperti terbatasnya jumlah fasilitas kesehatan bagi masyarakat (Puskesmas) di Asmat, atau walaupun ada -- tetapi tidak mampu menjangkau wilayah yang cukup luas dengan kondisi geografis yang sulit dilewati. Hal ini menjadi persoalan yang juga perlu dipertimbangkan untuk upaya peningkatan layanan kesehatan, seiring dengan perkembangan jumlah penduduk yang terus bertambah. Layanan kesehatan proaktif sejenis Puskesmas Keliling (mobiling) menjadi salah satu pilihan yang layak dilakukan.

Hal yang juga terkait kasus campak tersebut, masalah kekurangan gizi atau gizi buruk anak-anak. Dalam jangka pendek, penambahan gizi terutama bagi anak-anak di Asmat layak dilakukan, baik di sekolah-sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal warga.

Sedangkan untuk jangka panjang, perlu kiranya diefektifkan lembaga-lembaga sosial setempat atau sejenis Kelompok PKK yang secara rutin melakukan pertemuan atau membahas kesehatan termasuk perlunya gizi bagi anggota keluarga. Ini cukup penting karena gizi buruk akan menambah parah setiap penyakit yang diderita seseorang.

Bencana atau krisis kesehatan yang kini terjadi di Kabupaten Asmat, Papua pastinya sangat menyentuh, menggugah kita semua untuk ikut perduli. Pemerintah dalam hal ini dengan segala sarana dan prasarananya nampak sudah berupaya menangani kasus campak dan gizi buruk tersebut.

Kitapun perlu menaruh perhatian dan peduli. Paling tidak dalam ikut serta menyoroti dan menyebarluaskan informasi (khususnya lewat media sosial) tentang masalah atau peristiwa berupa kasus campak dan gizi buruk ini -- jangan sampai mengundang dampak negatif yang bisa memperkeruh suasananya.