Sulistyo
Sulistyo Buruh Dagang

Buruh Dagang

Selanjutnya

Tutup

Hijau

Saatnya Menangani Limbah Elektronik

13 Oktober 2017   15:34 Diperbarui: 13 Oktober 2017   15:59 896 2 3

Di jaman modern yang ditandai percepatan di bidang tekonologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menjadikan aktivitas kehidupan manusia di berbagai tempat membutuhkan sarana dan prasarana serba elektronik. Salah satu dari kebutuhan tersebut diantaranya dengan semakin banyaknya jual beli produk-produk berupa alat komunikasi seperti gadget atau gawai dengan berbagai jenis, model maupun sarana penunjangnya.

Tentunya disatu sisi kemajuan TIK telah menjadikan manusia sangat terbantu dalam melakukan segala aktivis sehari-hari, apalagi terhubung jaringan internet - informasi dalam bentuk apapun telah tersedia, interaksi antar pengguna mudah dan relatif murah untuk bisa diakses sesuai kebutuhan.

Mengingat begitu pentingnya informasi dan komunikasi sebagai penunjang pembangunan, selanjutnya negara-negara yang tergabung dalam organisasi telekomunikasi dunia atau International Telecommunication Union(ITU) berkomitmen untuk menyediakan pelayanan dan  mewujudkan tersedianya akses layanan telepon di seluruh wilayah regional Asia Pasifik, disusul kemudian mewujudkan tersedianya akses layanan internet diseluruh wilayah regional Asia Pasifik.

Komitmen tersebut telah dicantumkan dalam Deklarasi Tokyo Tahun 2003, Deklarasi Genewa Tahun 2003, dan Deklarasi Tunisia Tahun 2005 (Wolrd Summit on Information Society Declaration).

Dengan telah ditandatanganinya deklarasi tersebut, diharapkan pembangunan infrastruktur telekomunikasi diarahkan untuk mendukung meratanya penyediaan akses layanan telekomunikasi baik layanan telepon maupun internet di wilayah perkotaan dan di wilayah perdesaan khususnya daerah rural.

Adanya deklarasi bersama ini merupakan salah satu faktor penyebab bahwa dunia telekomunikasi dengan berbagai perangkatnya memacu tumbuhnya produk-produk teknologi informasi hingga perkembangannya semakin pesat.

Hal yang kasat mata, di sekeliling kita berada telah banyak terlihat betapa akrabnya manusia berkegiatan tidak terlepas dari pemanfaatan gadgets (gawai), terutama komputer, dari yang sederhana hingga yang canggihpun kini ditemui. Teknologi yang terus berinovasi juga telah menghasilkan produk-produk muthahir seperti hadirnya smartphone dilengkapi fitur-fitur dan pilihan aplikasinya yang semakin lengkap.

Itu semua menunjukkan bahwa jaman sudah berkembang dan berubah, kini kehidupan sudah serba elektronik, maksudnya kehidupan manusia dalam berkarya, bekerja, berinteraksi, berelasi, dan bergiat di bidang apapun semakin praktis dan efisien karena ditunjang kehadiran teknologi dan infrastruktur yang memadai.

Saatnya penanganan limbah

Membahas persoalan teknologi informasi dan komunikasi memang sangat luas aspek yang berkait dengannya. Mulai dari regulasi, pembangunan ifrastruktur, kelembagaan, pemerataan akses, pemanfaatan dan sebagainya.

Hal penting yang tak dapat disepelekan yaitu terkait dengan limbah yang dihasilkan akibat masifn ya produk-produk yang dikategorikan barang elektronik ini sehingga kumpulan barang bekas yang sudah tidak dipakai lagi menjadi masalah tersendiri.

Terutama soal pembuangan limbah yang asal-asalan sangat berdampak buruk bagi lingkungan dan merusak sumber daya alam di masa depan. Volume limbah barang elektronik khususnya gatget/gawai yang paling banyak ditemui merupakan masalah serius sehingga keperdulian sangat diharapkan demi kebersihan, kesehatan maupun keselamatan kehidupan dari lingkungan kumuh di perkotaan atau daerah padat penduduk.

Gejala semakin tingginya pengguna/pemilik gatget yang terus meningkat dari waktu ke waktu seiring dengan tawaran produk terkini seperti gencarnya promosi/iklan di hampir seluruh penjuru -- ikut mengindikasikan bahwa limbah elektronik akan menumpuk di kemudian hari.

Untuk mengantisipasi sekaligus mencari solusi harus dipikirkan sejak sekarang. Misalnya perlunya penyediaan tempat-tempat sampah elektronik. Seperti yang ada sekarang, ditemui penyediaan tempat sampah yang hanya diperuntukkan sampah organik, non-organik, plastik, sedangkan penyediaan khusus sampah elektronik jarang ditemui.

Disamping itu juga kalau saat ini sudah ada bank sampah plastik hingga ke wilayah RT/RW, kenapa sampah atau limbah elektronik tidak?

Masih ada pilihan lain yang tentunya bisa membantu bagi mereka yang berjual-beli barang bekas (barkas) untuk mereparasi barang elektronik yang masih bisa digunakan orang lain.

 Yang tidak kalah pentingnya adalah keperdulian masing-masing pemerintah daerah (yang mengurusi lingkungan hidup) untuk serius mengelola limbah elektronik, memfasilitasi dan menyusun mekanisme kerja mulai dari pengumpulan, pengangkutan hingga proses akhir terkait penanganan limbah elektronik tersebut.

Bersamaan dengan hal itu, sosialisasi tentang bahaya limbah elektronik perlu dilakukan oleh semua pihak dibawah naungan pemerintah daerah masing-masing dengan melibatkan pihak berkompeten seperti produsen barang elektronik/gagtget, distributor, agen, LSM lingkungan hidup, warga dan lembaga terkait.

Sudah saatnya penanganan limbah elektronik sebelum membawa dampak yang membahayakan lingkungan hidup. Kapan lagi kalau tidak dipikirkan dan dimulai dari sekarang?