Mohon tunggu...
Listhia H. Rahman
Listhia H. Rahman Mohon Tunggu... Ahli Gizi

❤ Master of Public Health (Nutrition), Faculty of Medicine Public Health dan Nursing (FKKMK), Universitas Gadjah Mada ❤ Bachelor of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Diponegoro University ❤Kalau tidak membaca, bisa menulis apa ❤ listhiahr@gmail.com❤

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Mengenang Pierre Tendean dalam Sebuah Buku

5 Oktober 2020   20:47 Diperbarui: 6 Oktober 2020   09:20 1919 35 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengenang Pierre Tendean dalam Sebuah Buku
Sang Patriot: Kisah Seorang Pahlawan Revolusi | dokpri

"Jangan macam-macam. Mungkin rasa kebangsaanku lebih tebal dibandingkan anda yang mengaku asli Indonesia."

Begitu dikutip dari buku Sang Patriot: Kisah Seorang Pahlawan Revolusi di halaman 72. Sebuah pernyataan dari seorang prajurit yang kini bukan lagi "mungkin", tetapi memang sudah terbukti memiliki rasa kebangsaan yang begitu tebal bagi bangsa ini, Indonesia.

Bagian Masa Lalu yang Tidak Akan Pernah Dilupakan

Sejak tahun 1945, tanggal 5 Oktober menjadi salah satu tanggal penting bagi kita. Hari lahirnya Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). 

Di usianya yang kini sudah 75 tahun, tidak ada salahnya jika kita mengenang perjalanan masa lalu yang menjadi bagian dari sejarah Indonesia. Salah satunya tentang perjalanan singkat dari seorang prajurit TNI yang tiada lagi kini raganya, namun meninggalkan pelajaran tentang mencintai tanah air yang sesungguhnya dan tidak akan kita lupa jasa-jasanya. 

Namanya Pierre Andries Tendean atau Pierre Tendean. Pierre yang dibaca Pi-yer.

Melangkah mundur ke 55 tahun lalu, itulah masa di mana HUT TNI dilangsungkan pada suasana paling menyedihkan di usia kemerdekaan kita yang begitu muda.

Perayaan yang sejatinya penuh suka cita menjadi duka dan air mata, karena hari tersebut merupakan hari  pemakaman jenazah para pahlawan revolusi korban di Kalibata. Termasuk Pierre Tendean, ajudan Jenderal Nasution, yang turut menjadi salah satu korban.

Insiden salah tangkap, yang sebenarnya bisa ia akui saat itu, namun tidak pernah terjadi. Pierre Tendean yang rela mengorbankan nyawanya demi keselamatan sang Jenderal atau lebih luas lagi demi bangsa dan negara yang begitu cinta.

Di usia yang muda, masih dua enam tahun. Beliau gugur sebagai bunga bangsa yang harumnya abadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x