Mohon tunggu...
Sosbud Pilihan

Waspada Banjir Prasangka Mendekati Pemilu 2019

12 Februari 2019   14:59 Diperbarui: 12 Februari 2019   15:18 0 1 1 Mohon Tunggu...
Waspada Banjir Prasangka Mendekati Pemilu 2019
Dokpri

Musim hujan belum reda menerpa beberapa wilayah di Indonesia. Fenomena banjir dan banjir bandang kian santer kita dengar. Ibarat musim kancah perpolitikan kita pun tengah masuk dalam musim penghujan. 

Hujan informasi tentang kepentingan baik individu maupun golongan yang berusaha saling "Menjual diri maupun Pencitraan" dalam meraup pundi-pundi suara nantinya di Pemilu 2019. 

Mulai banyak kita lihat kicauan informasi yang belum tentu kebenarannya berkembang hampir di semua media. Ditambah makin derasnya upaya saling menjatuhkan antara tokoh maupun masa pendukung salah satu kontestan politik dengan lawan politiknya. Penilaian negatif kepada orang lain atau sekelompok orang akibat latar belakang seseorang (Prasangka) makin banyak kita temui.

Seperti yang dikutip dalam media sosial Facebook atas nama akun Putra Asmara yang menyampaikan bahwa K.H. Ma'ruf Amin sebagai ban serep serta Ahok yang baru bebas dari kasus penistaan agama dan masuk dalam kader PDIP. Dua buah prasangka yang dimunculkan dalam "Jualan murahan politik" untuk menyerang salah satu bakal calon kontestan politik.

Semua yang diujarkan hanya sebuah prasangka belaka yang sangat diragukan kebenarannya nanti. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa proses pergantian calon wakil presiden tidak semudah mengganti ban serep mobil. 

Sangat sedih saya mendengarnya jika tokoh agama kita dianggap sebagai Ban Serep semata oleh akun Putra Asmara. Sebuah kedangkalan pemikiran yang melupakan etika moral kepada yang lebih tua apalagi kepada tokoh agama. 

"Orang beriman akan lebih santun dalam berujar", pepatah itu wajib kita junjung sehingga kita tidak terbenam dalam derasnya banjir prasangka yang mengabaikan moral dan etika. Setiap orang berhak berubah dan menjadi lebih baik belajar dari kesalahannya. Karena setiap orang pasti punya hilaf dan salah jangan mudah berprasangka.

Lebih cerdas melihat lebih dalam mendengar dari pada berujar, sebuah modal kita dalam melihat setiap jualan politik yang diumbar di media. Agar kita menjadi pribadi yang cerdas menyikapi dan tepat dalam memilih di Pemilu 17 April 2019 nanti.