Mohon tunggu...
Linda Wahjudi CHt
Linda Wahjudi CHt Mohon Tunggu... Hipnoterapis

lahir di kota Pasuruan, 30 Agustus 1963

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Saya Harus Bagaimana?

14 Januari 2021   12:27 Diperbarui: 14 Januari 2021   12:29 42 11 0 Mohon Tunggu...

Minggu sepuluh Januari sekitar pukul setengah delapan waktu Indonesia Bagian Barat masuk sebuah pesan di whatsapp group, berita tetang kematian salah satu teman komunitas saya. Kematian yang mendadak yang mengagetkan kami semua. Sebut saja namanya Ningsih. Dan seketika itu juga ramailah group whatsaap dengan tangisan kesedihan dan sharing-sharing cerita pengalaman dari kami-kami yang pernah mengalami kebaikan Ibu Ningsih.

Ibu Ningsih adalah seorang perempuan yang energik dan selalu terlihat segar. Dandanannya selalu keren dan elegan. Dia adalah pribadi yang ramah dan baik hati, serta tidak pernah membeda-bedakan diantara kami teman-temannya.

Selain itu Ibu Ningsih kami kenal sebagai orang yang sangat dermawan dan ringan tangan dan kaki, alias suka menolong. Orangnya tidak pernah 'ribet' dengan hal-hal kecil yang terjadi, selalu menjadi jalan keluar untuk tantangan yang dialami oleh temannya maupun komunitasnya. Dan hebatnya dia tidak hanya terlibat di satu komunitas kemanusiaan, tetapi beberapa komunitas kemanusia, yang salah satunya adalah komunitas pemerhati penderita kanker yang ia dirikan bersama beberapa temannya.

Ibu Ningsih setiap pagi selalu mengikuti Misa pagi di sebuah kepela kecil, dan selalu mengambil duduk deretan bangku ke-dua di sebelah kanan, persis di samping saya, baik sebelum pandemi covid maupun sesudahnya. Seusai mengikuti misa pagi, biasanya dia langsung pergi untuk adorasi (sebelum ruangan itu ditutup untuk umum), tidak hanya itu beberapa teman yang pernah rekreasi dan sekamar dengannya, melihat langsung betapa dia sangat rajin berdoa rosario, baik sebelum tidur maupun ketika bangun dini hari.

Dia adalah sosok yang juga mengajari saya bagaimana menjaga diri di masa pandemi covid seperti ini, dia selalu menyemprot semua barang yang hendak ia sentuh dan bangku yang hendak ia duduki. Ia juga rajin olahraga dengan bimbingan seorang personal trainer di rumahnya. Dari olah raga yang ringan sampai yang berat seperti tinju muathai pun ia lakukan. Semua itulah yang membuat tubuhnya tetap langsing dan sehat. Serta awet muda dan segar.

Makanya berita tentang kematiannya akibat terserang covid 19, sungguh menyisakan misteri bagi saya. Karena ibu Ningsih yang saya kenal adalah ibu yang taat, cermat dan selalu gembira dalam menjalani hidupnya sehari-hari. Berada dekat dengannya, membuat kita akan tertular aura positifnya, ramah dan baik, kebaikannya selalu memancar dari seluruh dirinya.

Mungkin sebulan dia absen misa pagi, dan saya sama sekali tidak curiga apa-apa, saya hanya pikir mungkin dia keluar kota, atau benar-benar menjaga dirinya. Hingga kabar itu tiba di handphone saya, yang membuat saya gemeteran dan tidak enak tidur. Bukan karena saya tidak ikhlas atau menyangsikan tentang kebaikan Tuhan, tetapi saya menjadi sedikit 'bias' dan 'goyah', hidup itu harus bagaimana ya? Orang yang demikian cermat dan apik, bisa juga kena. Orang yang begitu rajin berdoa minta perlindungan Tuhan, bisa juga kena. Dan kaki-ku pun terasa sedikit 'lunglai' dan dengan bibir bergetar aku mengatakan "Tuhan, aku berserah kepada-Mu, jadilah padaku seturut kehendak-Mu."

Manusia berusaha dan melakukan yang terbaik, dan Tuhan yang menjadikan semuanya itu menjadi berkat kebaikan. Selamat jalan Ibu Ningsih, engkau sudah memberikan yang terbaik yang engkau punya, dan Tuhan akan tersenyum penuh cinta menyambutmu. Bagi manusia mungkin ini adalah sebuah kemalangan, tapi bagi Tuhan dan ibu Ningsih mungkin ini adalah sukacita sorga.

Surabaya, 14 Januari 2021.
~saat airmata-ku menemani darasan doaku bagimu. Selamat jalan.~

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x