Linda Erlina
Linda Erlina pelajar/mahasiswa

Pharmacist || Blogger || Sociopreneur at EMCEKAQU (Empowering Community through Economy & Health Quality Improvement). || Find out our new updates and activities at Website: http://emcekaqu.com, Facebook: https://www.facebook.com/emcekaqu , Instagram: @emcekaqu and Twitter: @EmcekaQu.

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Jelajah Jakarta Fair 2018, Saya Pergi untuk Kembali

12 Juni 2018   19:58 Diperbarui: 13 Juni 2018   16:42 2391 3 2
Jelajah Jakarta Fair 2018, Saya Pergi untuk Kembali
(KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO)

Sebagai orang Bekasi yang "seharusnya" deket sama Jakarta, saya merasa "malu" nih. Bayangkan, seumur-umur hidup baru kali ini saya menjejakkan kaki di event Jakarta Fair yang setiap setahun sekali diadakan. Norak ya? Gapapa deh daripada tidak sama sekali. Tiada kata terlambat katanya kan. Hehehe.

Sebelum pergi, saya punya ekspektasi bahwa Jakarta Fair "mungkin" seperti bazaar biasa pada umumnya. Jeng..jeng..yang namanya ekspektasi memang beda sama realitas. Ini kejadian banget. Bayangan saya pupus sudah, selamat tinggal bayangan Jakarta Fair hanya sekadar bazaar biasa. Terkesimak pastinya, saat masuk lewat pintu 9 yang merupakan zona ungu. Sale-sale bertebaran up to 70%, bayangkan siapa yang ngga ngiler lihat produk "branded" banting harga. Luar biasa!

Yuk rasakan Semarak Libur Lebaran di Jakarta Fair 2018 (Sumber: www.jakartafair.co.id)
Yuk rasakan Semarak Libur Lebaran di Jakarta Fair 2018 (Sumber: www.jakartafair.co.id)
Pemberhentian pertama: sepatu!

Nah saat saya masuk ke Hall A, salah fokus pertama dimulai dari produk sepatu. Tulisan sale up to 50% memanggil saya jauh lebih kuat dari apa yang saya bayangkan. Weleh-weleh, harga sale dengan prosentase tinggi ini juga dibarengi dengan kualitas tinggi kok, jadi tidak perlu khawatir bahwa "jatuh harga" identik dengan barang yang kualitasnya rendah. 

Gimana cocok ngga ya sepatu ini buat saya? (Sumber: Dok. Pri)
Gimana cocok ngga ya sepatu ini buat saya? (Sumber: Dok. Pri)
Jujur saya belum bisa menentukan pilihan nih walaupun muter-muter di bagian sepatu ini hampir 1 jam lamanya. Semuanya saya suka dan bagus nih, tapi untuk memutuskan sebuah pilihan memang sulit ya, sama kayak nemu jodoh *ups.

Pemberhentian kedua: surganya elektronik

Setelah puas dimanjakan oleh pilihan sepatu yang "kece", beberapa sepatu sudah masuk ke wish list dalam otak saya. Saatnya berburu barang selanjutnya yang juga saya butuhkan yaitu laptop. 

Tenang, disini banyak cicilan 0% loh dengan harga yang oke punya (Sumber: Dok Pri)
Tenang, disini banyak cicilan 0% loh dengan harga yang oke punya (Sumber: Dok Pri)
Sebagai salah seorang akademisi yang kerjaannya mainan sehari-harinya docking dan molecular dynamic, saya membutuhkan laptop dengan spesifikasi yang tertentu dan cukup tinggi. 

Adapun spesifikasi yang saya butuhkan antara lain: Intel Core minimal i5, RAM 4GB, hard disk up to 1TB, DDR3 atau DDR4, graphic card (NVIDIA Geforce), baterai yang tahan lama dan kalau bisa yang punya internal cooling supaya tidak cepat panas. Spesifikasi yang mendekati untuk kebutuhan saya ini sebelas dua belas dengan laptop yang biasanya digunakan untuk main game

Beberapa laptop sudah saya lihat dan review, petugasnya pun ramah dan paham banget ketika saya mulai "cerewet" tanya ini itu. Akhirnya saya mempunyai kandidat "andalan" produk beberapa merk seperti Acer, Asus, dan HP.

Pemberhentian ketiga: jelajah Indonesia dan aroma kopi espresso khas Aceh
Pemberhentian kali ini merupakan salah satu favorit saya selama berkunjung di Jakarta Fair. Saya suka karena suasananya lebih "syahdu" apabila dibandingkan dengan area lainnya. 

Di sini pengunjung dimanjakan dengan produk-produk khas dari daerah dari beberapa provinsi di Indonesia yang dibuat dengan konsep anjungan. Kece banget kan! Jadi berasa lagi keliling Indonesia deh. 

Anjungan Daerah Istimewa Jogjakarta (Sumber: Dok.Pri)
Anjungan Daerah Istimewa Jogjakarta (Sumber: Dok.Pri)
Saat masuk ke Anjungan Daerah Istimewa Yogyakarta, alunan musik Katon Bagaskara yang judulnya "Yogjakarta" membuat saya "lupa" kalau lagi di Jakarta. Pernak-pernik batik menghiasi anjungan Yogyakarta ini, berasa lagi di Malioboro pokoknya. Kualitasnya, jangan ditanya ini semua buatan khas daerah kok, pastinya jadi terobati rasa rinduku yang sudah lama ngga main ke Jogja. 

Selain anjungan Jogja, saya juga sempet lihat lihat ke anjungan Kabupaten Lebak Banten, Sumatera Utara, Sulawesi, Bangka Belitung (kampung halamanku) dan Aceh. Saat ke anjungan Aceh, saya agak lama di sini karena ada atraksi barista kupi Aceh yang sedang beraksi.

Wuih, ini dia nih atraksi Barista Kopi Saring khas Aceh, mantap! (Sumber: Dok. Pri)
Wuih, ini dia nih atraksi Barista Kopi Saring khas Aceh, mantap! (Sumber: Dok. Pri)
Nah ini dia nih namanya Kopi Saring khas Aceh, cara pembuatannya unik, setelah bubuk kopi diseduh dengan air panas akan disaring beberapa kali dengan ketinggian yang fantastis (sambil mikir itu gimana caranya bisa ngga tumpah). Ketika ditanyakan dengan baristanya yang asli orang Banda Aceh ini, katanya jumlah berapa kali penyaringan tidak menjadi patokan karena akan ada semacam "feeling" aja gitu. 

Unik banget ya! Selain kopi khas Aceh yang diseduh untuk minuman ternyata juga digunakan untuk parfum loh. Wanginya jangan ditanya, enaakkkkk banget! Kopi banget deh! Dari beberapa rasa eh, bau parfum kopi biasa dan espresso, saya suka bau yang espresso. Bau parfum kopi espresso berasa kopi banget deh, jangan-jangan nanti saya minum lagi kalau lagi haus, hehehe. 

Harganya juga terjangkau kok untuk ukuran parfum 30 ml harganya 130 ribu saja. Kenapa bisa agak tinggi ya, karena proses ektraksi biji kopi untuk dijadikan bibit parfum memerlukan proses yang tidak mudah loh, semakin baunya kuat semakin tinggi konsentrasi biji kopi yang digunakan. 

Harga seimbang dengan kualitas, dijamin! Ssst..buat kamu yang punya kun Bank DKI bisa download aplikasinya loh, langsung dapat voucher senilai 20 ribu yang akhirnya saya gunakan untuk membeli gantungan kunci ondel-ondel khas Jakarta.

Pemberhentian keempat: saatnya menghibur organ pencernaan

Wah, kalau pemberhentian kali ini jangan ditanya deh. Lapar mata asli! Bayangin aja deh satu area full isinya makanan semua loh mulai dari kerak telor sampai makanan korea. Nah, inilah kelebihannya Jakarta fair, di setiap sudut dapat dengan mudah kita temui booth makanan dan minuman, dijamin perut kenyang belanja tenang deh.

Saking banyaknya makanan saya sampai bingung juga, mau makan apa yaa? Akhirnya saya dan teman-teman memutuskan untuk nyobain makanan yang antimainstrim dari Korea, yeay. 

Menu Korean Food Spicy Odeng
Menu Korean Food Spicy Odeng
Namanya spicy odeng, bahan utamanya telur diracik dengan tepung, digoreng dan kemudian diberi saus pedas khusus yang membuat lidah menari-nari. Endess pokoknya! Nah menariknya lagi, di Korean Food ini kita bisa nyobain dan berfoto dengan hanbok loh (baju tradisional khas Korea). Taraaa...seketika saya merasa dikawal oleh oppa-oppa Korea nih.

Asik banget bisa nyobain pakai Hanbok ditemenin sama oppa Kebayoran sama oppa Blok M (Sumber: Dok. Valka)
Asik banget bisa nyobain pakai Hanbok ditemenin sama oppa Kebayoran sama oppa Blok M (Sumber: Dok. Valka)
Pemberhentian kelima: belanja lagi yuk!

Perut kenyang belanja tenang menjadi motto saya selama di Jakarta Fair nih. Habis makan terbitlah keinginan belanja lagi, nah saatnya eksplorasi lebih jauh ke bagian Gambir Expo. 

Di sini saya melihat banyak sekali baju (kaos, kemeja), celana (jeans, chino), sepatu (formal, kasual, olahraga) yang branded tapi harganya bersahabat banget di kantong. Bayangin aja kemeja kece harganya 200 ribu dapat 3, hayo apa kamu ngga ngiler tuh? Celana juga kisaran harganya dari 80 ribuan sampai 200 ribu saja loh. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2