Mohon tunggu...
Lia Wahab
Lia Wahab Mohon Tunggu... Penulis Lepas

Ibu rumah tangga yang pernah berkecimpung di dunia media cetak dan penyiaran radio komunitas dan komunitas pelaku UMKM yang menyukai berbagai jenis kerja kreatif

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Berbagi Cerita Hidup di Lokasi Rawan Bencana

7 Januari 2019   10:20 Diperbarui: 7 Januari 2019   10:53 180 1 0 Mohon Tunggu...

Saya, bukan ahli gempa ataupun tsunami, hanya ingin berbagi pengalaman ketika hidup di wilayah rawan gempa dan tsunami, kota Meulaboh dan Banda Aceh. Pernah beberapa kali saya mengalami peristiwa gempa cukup besar di sana (pasca gempa tsunami 26 Desember 2004), saya dan tetangga sekitar harus mengamankan diri di tengah situasi panik. 

Saat saya di Meulaboh, terjadi gempa 7,5 SR di lepas pantai barat Aceh, saya mengendarai motor dengan sahabat saya Ema Zulnifa untuk mencari lokasi terjauh dari bibir pantai. Gempa baru terjadi sekitar 10 menit, kami pun berangkat meninggalkan tempat tinggal kami yang hanya sekitar 200 meter dari garis pantai Meulaboh. 

Warga berhamburan di jalan, listrik telah dipadamkan dan sinyal operator mati. Di tengah arus warga di jalanan terdengar teriakan "air laut naik" dan kebetulan saat itu saya di depan sebuah sekolah dasar yang siswa-siswanya baru akan dievakuasi oleh pihak sekolah, anak-anak berhamburan di sisi jalan dan menangis. 

Tak lama kemudian banyak kendaraan yang memaksakan laju kendaraannya hingga di persimpangan jalan beberapa tabrakan tak bisa dihindari. Padahal nyatanya tak ada air naik bahkan air surut yang menunjukkan gejala tsunami. Itulah, di tengah situasi yang rawan kepanikan, selalu ada pihak yang menambah buruk keadaan dengan menebar informasi palsu. 

Sebagai spontanitas, wajarlah warga yang awam panik berlebihan, tak heran baru 15 menitan gempa terjadi sudah ada yang mengungsi dengan membawa kasur dan perabotan rumahnya.

Saat di kota Banda Aceh, saya pernah tinggal hanya 50 meter dari bibir pantai, bahkan suara ombak selalu terdengar dari pintu belakang rumah saya. Saat itu saya sedang memiliki satu anak yang masih berusia 10 bulan. Gempa yang sering terjadi membuat saya siaga dengan selalu menyiapkan tas ransel berisi surat2 penting, bahan makanan darurat, air mineral, perlengkapan kebersihan tubuh, selimut tipis, popok bayi dan baju ganti kami. 

Setiap kali ada gempa, saya langsung keluar rumah menjauhi bangunan  atau tanah retak. Begitu situasi aman saya pantau sekitar saya yang merupakan desa nelayan. Soal tsunami, intuisi nelayan lebih kuat. Kalau menurut mereka harus mengungsi, saya langsung menggendong anak saya dan membawa ransel evakuasi tersebut. 

Di saat mengungsi ke tengah kota lagi-lagi ada pihak yang memperkeruh situasi dengan menyebar info air laut yang sudah naik. Setelah dicek dari atas gedung berlantai tiga, dipastikan info itu hoaks semata.

Peristiwa gempa dan tsunami di daerah yang jauh dari ibukota yang merupakan pusat komando penanganan bencana biasanya informasinya lambat sampai ke media. Saya pernah merekam situadi gempa dan saat ingin mengirimnya ke media saya terhalang koneksi internet dan telepon yang terputus. Jadi, perlu kesabaran menunggu kabar situasi terakhir dari area bencana dan di titik ini rawan tersebarnya info palsu.

Selama tinggal di Indonesia, kita memang berada dalam lingkaran rawan (ring of fire) bencana gempa, tsunami dan erupsi karena patahan lempeng benua yang melingkar dari barat ke timur dan gugusan gunung api yang ada di tanah ini. Menghindari bencana tidaklah mungkin, kita hanya harus memperkecil resikonya dan dengan bijaksana menjadikan kerawanan ini 'sahabat' kita sehari-hari. 

Kepanikan bisa kita antisipasi dengan pengetahuan cukup mengenai kebencanaan. Jangan pernah lupa untuk mengutamakan keselamatan jiwa daripada harta benda.  Jauhkan menebar atau menerima informasi yang belum jelas kebenarannya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN