Humaniora Pilihan

Kalau Ngga Bisa Bahasa Inggris Salah Siapa?

26 November 2017   14:27 Diperbarui: 26 November 2017   14:29 486 1 0

Duh kalau ngomongin anak sekarang kayaknya kudu marah deh. Yang katanya anak zaman digital eh ngomong Inggris aja antipati. Coba deh kalau kita tanya anak satu per satu pasti dijamin senyum-senyum, kayaknya udah biasa. Biasa ga bisa maksudnya. Padahal ketika ditanya sudah berapa lama kalian belajar Bahasa Inggris. Jawabannya beragam. Ada yang dari TK. Sejak SD. Berarti kan sudah lebih dari sepuluh tahun! Etung-etungan orang belajar selama itu pasti sudah mahir.

Coba kita bandingin pada zaman penjajahan dulu. Zamannya nenek kakek buyut kita dulu. Zaman susah. Hanya orang-orang berduit yang bisa mengenyam bangku sekolah. Bahasa Belanda termasuk salah satu mata pelajaran yang diajarkan. Konon orang-orang pada berlomba pinter berbahasa Belanda hehe bukan Inggris. Kan yang menjajah kita bangsa Belanda ya ngikut aja bahasanya sang penguasa kan. 

Kenapa pada berlomba-lomba yak karena semakin pinter berbahasa Belanda semakin gampang cari kerja semakin banyak gajinya semakin tinggi gengsinya. Tak pelak lagi tiap-tiap keluarga juga menerapkan penggunaan Bahasa Belanda ini dalam kehidupan sehari-hari. Sama persis dengan negara tetangga kita nih. Singapura. Ga tau kan gimana riwayatnya Singapura jadi sedahsyat ini.

Setelah berlepas diri dari Malaysia di tahun 1967, Singapura yang terdiri dari tiga etnis mayoritas; Urdu, Melayu, dan China ini mulai deh nentuin identitas diri bagi negara barunya. Termasuk bahasa resmi yang mau dipakai berkomunikasi sehari-hari. Lalu disayembarain tuh bahasa mana yang mau dipakai buat pemersatu warga. Nah yang menang tu bahasa Inggris, ngalahin bahasa Urdu, Melayu sama Mandarin. Nah terus pemerintahnya nih keukeuh sama pendiriannya.

Semua warga kudu pinter berbahasa Inggris. Semua sekolah wajib menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Sekolah Melayu boleh mengajarkan bahasa Melayu, sekolah Cina boleh mengajarkan Bahasa Mandarin, sekolahnya India boleh mengajarkan bahasa Urdu tapi hanya sebagai pelengkap. Bahasa Inggris tetap menjadi bahasa utama.

Dalam perekrutan tenaga kerja juga begitu. Salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh para pencari kerja adalah kemampuan berbahasa Inggris. Siapa yang pandai berkomunikasi dalam bahasa Inggris dia pula yang akan menempati posisi strategis. Konsekwensinya ya gaji dan penghasilan jadi gede lah. Itu kenapa semua berjuang untuk mahir berbahasa Inggris.    

Nah anak kita kenapa ga bisa ngomong Inggris alasannya karena ga mau berlatih. Berlatih kan ga harus di sekolah. Bisa di kamar mandi. Iya ngomong sendiri gitu. Lihat sabun langsung yang muncul di otak kita kata "soap". Gimana mau berlatih. Dengar penjelasan guru saja enggan. Masuk telinga kiri keluar lagi deh lewat telinga kiri. Mental dong jadinya. Ditolak. Kalau sudah ditolak sudah sungkan dong si materi mau nyamper di otak kita.

Masih mending kalau masuk telinga kiri keluar di telinga kanan. Masih ada endapan dikit. Tetapi endapan ini bila tidak diberdayakan dengan berlatih ya pasti ogahlah berlama-lama di situ. Jadi frozen alias beku. Ga bisa dipakai dong. Harus dipanasin dulu. Diurai dulu materi demi materi. Dicoba sedikit demi sedikit. Berlatih juga begitu dimulai dari yang sederhana dulu.

Padahal yang dikasih oleh guru kan materi. Materi itu adalah teori agar kita mahir berbahasa. Teori itu salah satunya menyangkut persoalan tata bahasa. Masing-masing bahasa punya tata bahasa sendiri-sendiri kan. Contohnya ni mau bercerita tentang kegiatan kita kemarin. Kita harus menggunakan pola kalimat Simple Past Tense. Yang harus pakai kata kerja bentuk kedua lah, yang berakhiran --ed lah. Nah kalau teorinya saja sudah lenyap gimana mau bener prakteknya.

E udah gitu gurunya juga ga mau melatih. Kenapa coba. Guru zaman sekarang harus mengajar minimal 24 jam seminggunya. Belum lagi masih dikejar-kejar masalah administrasi. Tau kan administrasi itu momoknya guru. Yang bikin silabus lah, program tahunan, program semester, bikin rencana pelaksanaan pembelajaran. Untuk penilaian juga harus bikin soalnya, kisi-kisinya terus dianalisis. Yang nilainya baik dikasih pengayaan yang nilainya di bawah KKM dilakukan remidi.

Padahal ada empat ketrampilan berbahasa yang musti dikembangkan guru di kelas.  Eh nyatanya cuma satu ketrampilan saja yang diseriusin. Membaca. Ketrampilan menyimak ujungnya juga membaca. Ketrampilan berbicara eh ga melatih ketrampilan berbicara, tetapi membaca. Karena siswa hanya disodori soal-soal untuk dikerjakan. Guru menyelesaikan tugas administrasi. Nah lo.

Pas guru nyoba nanyain murid pakai Bahasa Inggris, si murid cengir-cengir aja. Diam. Pada nunduk. Ga da jawaban. Duh siapa yang mau nunggu berlama-lama. Gurunya capek juga kan. Setelah didesak e minder katanya. Takut salah. Takut ditertawakan. Loh loh loh yang namanya belajar kan boleh salah. Tapi kan ga sampai masuk penjara. Jadi sah sah aja untuk salah. Yang penting ada usaha.

Orang bisa maju, bisa pintar kan karena punya ambisi. La kalau murid ga punya ambisi untuk bisa bagaimana dong. Murid ga ngerti buat apa dia pinter bahasa Inggris. Yang penting ga bolos sekolah aja sudah bagus. Gugur dah kewajibannya. Padahal sudah banyak contoh kan anak-anak bangsa yang sukses salah satunya karena pinter berbahasa Inggris. Contohnya ni Latifah, anak Boyolali yang kemarin sempat menginjakkan kaki di negeri paman Sam. Dia menang di ajang lomba penelitian tingkat nasional. Dapat tiket lolos ke Amerika. Dia berhak mempresentasikan karya tulisnya di sana. Pakai Bahasa Inggris juga kan. Dapat penghargaan juga lo. 

Makanya murid harusnya tahu kelak dia mau jadi apa. Guru boleh dong meminta murid menyampaikan cita-citanya di kelak kemudian hari. Yang belum punya ya didorong agar bercita-cita sesuai dengan passionnya. Punya ketrampilan berbahasa Inggris pasti akan jadi nilai lebih saat kita mencari kerja juga kan. Sering kan kita dapati iklan lowongan pekerjaan yang mencantumkan kemampuan berbahasa Inggris sebagai salah satu syaratnya.

Tetapi memang sih jadi murid zaman sekarang itu berat. Banyak banget mata pelajaran yang harus dikuasai. Ga boleh jelek nilainya. Harus KKM. Sesuai nilai standar minimal yang dicanangkan pihak sekolah. Di SMA tu satu anak harus paham lebih dari empat belas mata pelajaran lo. Karena masing-masing yang berkepentingan pengin nitipin pesan lewat pendidikan. Ya lewat materi dalam mata pelajaran itu.  

Beban murid makin berat aja. Gimana ga berat kan masing-masing mata pelajaran itu khas. Punya ciri sendiri gitu. Masih lagi ada pekerjaan rumah. Mepet lagi waktunya. Ini buat  kepentingan guru juga sih. Untuk penilaian kognitif lah, praktek lah, proyek lah, produk lah sebagaimana tertuang dalam Permendikbud No 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar.

Murid juga ga punya semangat juang yang tinggi. Maunya si membelajarkan murid untuk punya semangat bekerja keras, karakter kesungguhan, kedisiplinan e malah berujung kekonyolan di bui. Tragis bukan. Masih ingat kan kasus guru di Pare-pare yang meminta siswanya untuk mau solat berjamaah. Karena bandel dipukullah si anak tadi dengan mukena. Eh sang guru dapat ganjaran tiga bulan penjara.

Coba kalau murid punya motivasi intrinsik. Itu tu motivasi dari dalam diri mereka sendiri. Mereka ga akan anggap tugas sebagai beban yang berat. So murid akan senang melakukannya. Jadi penyemangat dan penguat hasil belajarnya. Kata Ghufron (2011) motivasi intrinsik ini bisa lo memberi kekuatan batin bagi si individu itu sendiri. Ga perlu disuruh murid akan senang berlatih berbahasa Inggris.

Guru nih tampaknya juga belum berada di posisinya. Belum  sesuailah dengan tugas pokok dan fungsinya. Guru kan sesungguhnya adalah pendidik profesional. Dia bersertifikat. Lalu tugas utamanya ni mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi murid. Nah guru ni baru di tataran sekadar transfer ilmu. Yang penting materi di kurikulum telah tersampaikan. Selesai.

 Jumlah jam mengajar di dalam kelas juga tak berbanding lurus dengan jumlah materi pembelajaran yang harus disampaikan. Mata pelajaran Bahasa Inggris Wajib nih misalnya. Per minggunya hanya dua jam. Materi yang harus disampaikan ada sekitar  lima unit. Kompleks juga sih. Habis waktu buat membahas materi. Kapan prakteknya. Wajar kan kalau kompetensi murid ga terjamah semuanya.

Bila guru ga bisa menyelesaikan materi nih seperti dikejar-kejar rasa bersalah. Sudah begitu ada rasa khawatir murid ga mampu mengerjakan soal penilaian harian maupun penilaian semester. Padahal yang namanya penilaian ini sudah dijadwalkan. Lagi-lagi soal yang disajikan hanya mengedepankan kompetensi membaca (reading). Kompetensi yang lain pun jadi terabaikan.

Guru jadi kurang peduli sama muridnya saking banyaknya kelas dan murid yang diampu. Ga banyak deh guru yang paham betul akan kompetensi muridnya. Lebih-lebih hubungannya dengan ketrampilan menulis dan berbicara. Guru sih ga akan sanggup melakukan pelatihan per individu. Guru hanya sanggup membenahi kekurangan anak semisal kesalahan tata bahasa, pengucapan, maupun intonasi itu secara klasikal.

Guru memang belum sepenuhnya menjiwai profesinya. Profesi guru masih dianggap semata-mata sebuah pekerjaan. Setelah bekerja lalu akan mendapat gaji atau penghasilan seperti profesi lainnya. Kalau menilik Permen No 16 tahun 2017 sebenarnya ada empat kompetensi yang harus dipunyai guru; kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

Kompetensi pedagogik tu kaitannya dengan cara mengajar di kelas, paham teori-teori belajar, mengembangkan kurikulum, mengembangkan potensi murid, maupun kepahaman terhadap karakteristik masing-masing individu. Kompetensi kepribadian hubungannya dengan tingkah lakunya termasuk etos kerjanya, tanggung jawabnya pun rasa bangga menjadi guru.

Kompetensi sosial kaitannya dengan komunikasinya dengan teman kerja dan masyarakat. Guru ga boleh bersikap eksklusif maupun diskriminatif. Sedangkan kompetensi profesional kaitannya dengan kepahaman materi sesuai dengan mata pelajarannya termasuk juga mengembangkan keprofesionalannya. Diantaranya adalah menulis artikel, membuat laporan penelitian tindakan kelas, dan karya inovasi.

Bila guru sudah menjiwai profesinya nih kekurangan siswa akan menjadi salah satu perenungannya. Guru akan mikir bagaimana memperbaiki proses pembelajaran dan penilaiannya. Guru juga akan banyak baca referensi bagaimana membikin suasana dan lingkungan yang kondusif. Murid bisa senang, nyaman, dan damai bersama guru yang mendampinginya.

Guru juga bisa kan menerapkan model, metode, maupun teknik pembelajaran. Terus kalau pembelajaran yang dilakukan itu terbukti bagus. Bahkan bisa mendongkrak kompetensi murid bisa saja kan didokumentasikan dalam bentuk laporan penelitian tindakan kelas. Bisa juga ditulis dalam bentuk artikel. Dijurnalkan. Dapat poin lagi untuk penilaian Karya Ilmiah. Nabung lagi buat naik pangkat periode berikutnya.

Emang sih persoalan murid susah berbahasa Inggris itu dilematis. Muaranya dari dua kutub. Murid dan guru. Namun yang utama ya dari murid itu sendiri. Murid kudu punya kemauan untuk maju. Pengin mengembangkan diri. Guru tinggal genjot kasih fasilitas dan penguatan. Seperti hukum Newton ada aksi ada reaksi. Gaya yang ditimbulkan pun akan makin besar. Muridnya berusaha guru ikhlas membantu dan melatih . Hasilnya. Semua kembali ke masing-masing pribadi, bukan.