Mohon tunggu...
Nalendra Satyatama
Nalendra Satyatama Mohon Tunggu... Guru - Guru SMA

Menyelami hikmah dalam semesta

Selanjutnya

Tutup

Foodie Pilihan

Buru-Buru Berburu Bubur

19 November 2023   19:06 Diperbarui: 19 November 2023   19:10 78
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foodie. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Setiap sore pada masa sekolah dasar (SD) awal '90-an, saya mulai menikmati bubur ayam. Pak Kumis penjualnya. Bisa ditebak, kumisnya yang melintang menjadi ciri khas. Pak Kumis berjualan dengan sepeda. Setiap sore ia sudah mangkal di dekat rumah kami. 

Beberapa tahun kemudian, Pak Kumis juga berdagang pagi. Ini saya tahu karena saat itu saya kelas 1 SMP masuk sekolah siang. Saya pun tak kehilangan menikmati bubur ayam Pak Kumis pagi hari karena biasanya sudah habis saat saya pulang sekolah sore. 

Bubur Pak Kumis layaknya bubur ayam standar. Ayam, cakwe, seledri, kecap asin, merica, kecap manis, dan ini ciri khasnya: ceker ayam. Untuk mendapatkan ceker ayam ini, tidak dikenakan harga tambahan pastinya. Bisa dikatakan, hampir setiap hari saya menikmati bubur ayam Pak Kumis. 

Setiap malam minggu, masih waktu usia SD, kami biasa jalan-jalan bersama keluarga. Dengan menaiki Minicab tahun '80-an milik ayah, kami bahagia bisa menikmati keliling kota dengan kaca dibuka lebar-lebar karena tidak ada AC di mobil itu. 

Minicaba itulah yang mengantarkan kami ke bubur ayam Cikini, Jakarta Pusat. Beberapa kali orang tua kami mengajak makan bubur ayam di sana. Saya baru menemukan bubur ayam pakai emping. Saya tidak suka emping. Saat kesempatan berikutnya ke tempat itu, saya pesan tidak pakai emping. 

Selain Pak Kumis, ada beberapa penjual bubur di lingkungan rumah kami. Kebetulan agak jauh sedikit dari tempat Pak Kumis mangkal, ada tukang bubur juga. Warga biasanya memanggilnya Bang Komeng. Bubur Bang Komeng ini berbeda dengan bubur Pak Kumis yang saya tahu sebelumnya. 

Bang Komeng memakai bumbu kuning dan kerupuk. Selain itu, ada tambahan ati ampela dan sate telur puyuh yang tentunya ada harga tambahan. Saya pun menjadi pelanggan bubur Bang Komeng. Dia juga berjualan pagi dan sore. 

Biasanya saya sisati, pagi makan bubur Pak Kumis dan sore bubur Bang Komeng karena biasanya masih kebagian pas saya pulang sekolah. Setelah punya penghasilan sendiri dengan mengajar di bimbingan belajar saat mahasiswa, gairah berburu bubur tambah semangat. Jika ada rekomendasi bubur enak, saya coba sempatkan untuk menikmatinya. 

Pertanyaan klasik penikmat bubur adalah diaduk atau tidak. Awalnya, selama bertahun-tahun, saya berada di kubu tidak diaduk. Ada kenikmatan melihat bubur dari tengah atau pinggir lama-lama habis tersantap. 

Namun, kira-kira setahun lalu, fondasi tidak mengaduk bubur yang sudah tertanam bertahun-tahun rubuh seketika saat makan bubur dengan mantan kepala sekolah saya saat mengajar di satu sekolah. Saya sangat menghormati beliau. Walau tidak lagi bersama di satu sekolah sejak beberapa tahun lalu, minimal setahun sekali saya sempatkan bersilaturahmi ke rumah beliau. 

Pada satu waktu,  saat kunjungan ke rumahnya, beliau mengajak makan bubur bersama. Sebelum makan, beliau bertanya termasuk yang diaduk atau tidak. Saya bilang tidak. Beliau bilang coba diaduk, rasanya lebih enak. Mungkin karena beliau yang bicara, bubur saya aduk dan entah kenapa ada sugesti menyeruak dalam diri saya bahwa lebih enak diaduk saat saya menyantap bubur itu suap demi suap.  Begitulah kemudian saya berpindah ke kubu diaduk.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun