Mohon tunggu...
Find Leilla
Find Leilla Mohon Tunggu... librarian

seperti koinobori yang dihembuskan angin

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Irritated Seborrhoic Keratosis: Ketika Kutil Mulai Gatal dan Berdarah

29 April 2018   16:40 Diperbarui: 29 April 2018   17:00 2283 3 1 Mohon Tunggu...

Pernah punya  'tahi lalat' yang menonjol, lama-lama membesar, berbentuk bulat, berwarna hitam, permukaannya licin, tidak sakit, namun terasa gatal dan jika digaruk berdarah? Saya pernah. Tapi sekarang tidak lagi ^^

Setahun lalu saya yang resah mengetahui adanya sebuah 'tahi lalat' (yang belakangan saya ketahui bukan disebut 'tahi lalat,' tapi 'kutil') di sekitar bahu mulai membesar dan saat digaruk seringkali mengeluarkan darah, berkeluh kesah ke dokter keluarga. Merasa ada yang aneh, beliau merujuk saya untuk diobservasi lebih lanjut ke dokter kulit di sebuah rumah sakit. Saat bertemu dengan dokter kulit, yang cantik, saya diminta menceritakan tentang riwayat 'tahi lalat' yang bermasalah.

Sejatinya di tubuh saya memang terdapat beberapa tahi lalat menonjol yang berwarna kehitaman, di samping bintik hitam bulat yang datar saja seperti tahi lalat pada umumnya. Entah sejak kapan tahi lalat yang menonjol itu mulai bermunculan. Yang saya ingat beberapa diantaranya muncul diawali dengan rasa gatal. Ringan saja gatalnya tidak sampai berat.

Mengingat ibu juga memiliki beberapa tahi lalat timbul yang sama, saya acuh saja. Masalah baru muncul saat lama kelamaan tahi lalat yang berada di sekitar bahu saya itu kemudian membesar dan terasa gatal. Lebar tahi lalat yang timbul itu tadinya tidak sampai setengah senti, namun lama kelamaan bentuknya jadi lebih membesar dan bertambah tinggi, hingga saya jadi ketakutan sendiri. Ini tahi lalat hidup, kata beberapa orang teman. Dan di benak saya mulai gentayangan pikiran buruk tentang tumor dan kanker kulit.

Perubahan tahi lalat dari yang semula kecil saja ukurannya dan kemudian menjadi besar itu memang tidak terjadi dalam tempo singkat. Kalau saya lihat lagi dari dokumentasi foto pribadi, prosesnya bisa lebih dari tiga tahunan. Namun yang terjadi sepanjang tahun 2017 kemarin memang sudah diluar batas kewajaran. 

Tahi lalat yang biasanya hanya terasa gatal di waktu-waktu tertentu, bisa jadi terasa gatal setiap hari tak mengenal waktu. Saat tak tahan dengan rasanya, biasanya saya garuk dan kemudian benjolan itu mengeluarkan darah. Tak jelas darah muncul dari tepian sebelah mana, namun yang pasti warnanya merah segar meski tak banyak jumlahnya. Saat keluhan tak berhenti selama satu-dua bulan itulah saya baru berkunjung ke dokter lantaran takut infeksi.

Dokter, yang cantik, mendengarkan semua cerita saya dengan seksama. Setelah melihat permukaan tahi lalat saya yang bermasalah, beliau mengatakan bahwa benjolan itu bukan murni disebut tahi lalat, melainkan gangguan kulit seperti kutil. Penyebab munculnya kutil yang menghitam itu bisa jadi karena kelebihan pigmen yang muncul keluar. Karena berwarna gelap, orang sering menyebutnya sebagai tahi lalat. Ini semacam  tumor jinak. Bukan kanker, katanya. Pengen sujud syukur rasanya saat mendengar bahwa 'tahi lalat' itu tidak dicurgai sebagai kanker kulit atau melanoma.

Karena namanya susah, dokter, yang cantik itu, akhirnya menuliskan diagnosanya pada selembar kertas. Irritated Seborrhoic Keratosis. Iritasi kutil yang tumbuh di atas permukaan kulit ini biasanya dapat diatasi dengan memberikan salep untuk mengurangi rasa gatal. Dokter mengatakan jika keberadaa kutil ini dianggap mengganggu, tindakan yang disarankan adalah menghilangkannya lewat bedah listrik (electrocauter). Mendengar bentuk tindakan itu membuat saya jadi bergidik sendiri. Belum apa-apa sudah membayangkan bau daging yang gosong, haduh.

Melihat dahi saya mengernyit, dokter memberikan alternatif lain dengan menggunakan tindakan bedah di ruang operasi (menggunakan pisau). Jadi bedanya jika teknik electrocauter bisa dilakukan di ruang tindakan, maka bedah menggunakan pisau harus dilakukan di ruang operasi dan menggunakan standard operasi bedah kulit pada umumnya. Lagi-lagi saya bergidik tak ingin memilih keduanya.

"Jadi ini sebetulnya tidak berbahaya, ya, Dok?" tanya saya memastikan penjelasannya. Saat dokter mengangguk dan menjelaskan bahwa kutil yang saya kira tahi lalat tersebut bisa saja tidak berbahaya, namun jika dirasa mengganggu lantaran terus gatal dan berdarah, saya diberi pilihan untuk menghilangkan bagian yang bermasalah itu dengan menggunakan satu diantara dua jalan bedah seperti yang disebutkan tadi. Dan saya mantap menjawab, "Baik, Dok, nanti saya pikir-pikir lagi."

Lewat kurang lebih lima bulan setelah pertemuan itu, kembali saya dibuat cemas oleh perubahan terhadap kutil hitam saya. Entah mengapa tiba-tiba kutil yang membesar itu bentuknya jadi menyusut. Lama kelamaan ia mengering dan akhirnya berkerak. Saat terasa gatal dan terpaksa harus digaruk, lapisan kulit yang kering tersebut terlepas sedikit demi sedikit, hingga akhirnya 'copot' seluruhnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x