Mohon tunggu...
Find Leilla
Find Leilla Mohon Tunggu... Administrasi - librarian

seperti koinobori yang dihembuskan angin

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Belajar Baca Tulis Untuk Anak Usia TK

22 Mei 2014   02:22 Diperbarui: 23 Juni 2015   22:16 14680 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Digital. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

‘Anakku belum bisa baca-tulis. Gimana?’

‘Umur berapa?’

‘TK Besar.’

‘Lah, aku dulu baru bisa baca kelas 1 SD. Udah biarin aja gak papa.’

Dan dia melotot membelalakkan mata.

Wah. Jujur, memang dulu saya baru bisa membaca saat sudah duduk di kelas satu SD. Saat itu seorang teman tiap hari membacakan sebuah buku cerita untuk saya. Berawal dari duduk bersama dan mendengar cerita itu entah bagaimana lama kelamaan saya jadi ketularan bisa membaca.

Mendekati akhir tahun pelajaran dari kelas TK Besar menuju kelas satu Sekolah Dasar, wajar jika teman ini begitu panik mendapati bahwa anaknya tak kunjung bisa menulis dan membaca. Kalo jaman kami dulu biar kata buta huruf saat lulus TK, di kelas satu kami semua baru diajar untuk membaca. Bacaan anak SD jaman dulu sangat mudah, bunyinya cuma ‘ini budi’ ‘ini ibu budi.’ Gitu doang. Dan guru saya dulu begitu telaten mengajar anak-anaknya satu persatu belajar membaca. Semua begitu mudah kelihatannya. Ibu saya juga nggak pernah ribut oprak-oprak ‘saya kecil’ untuk belajar membaca atau malah mengikutkan saya les privat (faktor ekonomi juga). Berbanding terbalik dengan aturan penerimaan siswa baru di beberapa sekolah sekarang. Keponakan saya jauh hari sebelum kelulusan TK, ibunya malah sudah ribut mencari guru les untuk mengajarkannya calistung.

Alih-alih mencari guru les, sebenarnya para ibunda bisa mencoba beberapa cara berikut untuk melatih agar anak lebih mudah belajar menulis dan membaca.

Satu hingga dua huruf per minggu

Pengenalan huruf bisa dilakukan dengan membantunya menghafal bentuk-bentuk secara bertahap. Biasanya anak akan mudah menghafal bentuk bila diajarkan secara berulang. Misalnya hari ini mengenalkan huruf A, maka buat sebuah gambar yang menunjukkan bunyi A tersebut dengan ornamen gambar angsa, misalnya. Setelah itu minta anak untuk menyambung dot/titik-titik untuk membentuk hurufnya. Setelah proses menyambung titik selesai, selalu tanyakan pada anak apa bunyi huruf yang sudah dibuat tadi dan minta anak untuk menulis ulang di bukunya. Sebaiknya tidak perlu tergesa menambah huruf baru jika anak belum mahir menghafal. Semua butuh waktu, tidak bisa instan. Biarkan anak secara matang menguasai cara menulis dan menyebut bunyi huruf yang dimaksud dengan benar.

Alat bantu

Lagu ABCDEFG. Menyanyi juga bisa digunakan sebagai media belajar, dan lagu ABC ini satu lagu yang tepat untuk membantu si kecil melafalkan bunyi-bunyian. Ada baiknya saat menyanyikan lagu ini bersama ibunda sambil menghadap poster atau tulisan abjad yang runtut dari A-Z. Saat menyanyi, biasakan anak menunjuk huruf sesuai syair lagu yang dinyanyikan. Dengan demikian akan sangat membantu memori untuk mengingat bentuk huruf-huruf yang ada dengan baik. Belajar mengenal huruf juga bisa dilakukan melalui aneka tayangan CD interaktif yang banyak ditemui di pasaran. Isi CD ini kebanyakan berisi tentang pengenalan huruf dan angka juga. Namun yang perlu diingat adalah kumpulan tayangan tersebut hanya membantu anak untuk mengenal bentuk huruf saja; bukan untuk membiasakan anak menuliskannya. Amati perbedaannya. Anak perlu belajar lebih dari sekedar menatap layar.

Pola cetakan huruf. Saat mengenalkan huruf, ajarkan anak untuk mengikuti bentuk huruf menggunakan jari telunjuk. Untuk mempertajam ingatannya, buatlah cetakan huruf menggunakan dua jenis kertas yang berbeda, misalnya kertas karton dua warna atau cetakan huruf yang terbuat dari kertas ampelas halus yang ditempel di media karton manila. Segera setelah anak menyebut bunyi abjad yang dimaksud, minta anak untuk menelusur abjad tersebut menggunakan jari telunjuk. Proses menelusur menggunakan jari pada permukaan media kertas yang berbeda dapat mempermudah anak untuk mengingat ke arah mana jari harus bergerak saat menulis.

Lotto vokal dan konsonan. Lotto adalah alat bantu belajar yang berupa guntingan kertas berukuran sama yang bisa diisi satu gambar, abjad, atau angka. Setelah si kecil sudah dapat menghafal seluruh abjad A-Z, orangtua dapat membimbing anak untuk masuk ke tahap berikutnya, membaca satu atau dua suku kata. Untuk mempermudah ingatan mereka, sediakan lotto berisi huruf vokal dan konsonan. Minta si kecil untuk mengatur lotto tersebut sehingga berbunyi ba, bi, bu, be, bo. Kemudian menggabungkannya menjadi baba, bibi, bubu, dstnya.

Lembar kerja. Menyediakan lembar kerja mengajarkan anak untuk memahami apa yang disebut sebagai kegiatan belajar. Menyelesaikan satu per satu lembar kerja juga membantu orangtua untuk menilai kemajuan yang sudah dicapai oleh si kecil. Bentuk lembar kerja bisa beraneka ragam, mulai dari mengurutkan huruf A,B,C hingga hitungan angka 1, 2, 3 dan lain-lain soal sesuai kebutuhan, termasuk lembaran untuk mewarnai.

Satu kunci keberhasilan mengajarkan anak belajar menulis dan membaca adalah konsistensi dan kreativitas masing-masing ibunda. Konsistensi dalam hal ini adalah membiasakan anak memiliki jam belajarnya sendiri yang tidak berubah-ubah waktunya. Anak harus tahu saat-saat dimana ia harus duduk diam untuk belajar. Sedangkan kreativitas ibunda dibutuhkan saat membuat lembar soal yang harus dikerjakan. Belajar bersama anak usia TK tidak bisa monoton dengan hanya mengajaknya untuk menghafal dan menulis saja, selingi beberapa waktunya dengan kegiatan mewarnai atau bermain puzzle. Atur waktunya, misalnya, setelah mengerjakan dua lembar kerja diikuti dengan satu kegiatan mewarna, demikian seterusnya. Dengan banyak latihan yang konsisten, anak akan lebih siap untuk memasuki jenjang kelas berikutnya yaitu bangku Sekolah Dasar.

Salam Kompasiana.

.

beberapa sudah dimuat dalam blog pribadi saya.. http://playgroupku.blogspot.com/

#gambar masih belum mau nempel yak..

.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan