LeeTha Wibowo
LeeTha Wibowo Pelayan Publik

Penulis amatir dan pemerhati masalah air dan sanitasi yang menggemari olah raga lari

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Membangun Karakter Anak Bangsa Melalui Program Sanitasi

13 Februari 2018   09:55 Diperbarui: 13 Februari 2018   10:01 376 0 0
Membangun Karakter Anak Bangsa Melalui Program Sanitasi
Ilustrasi: www.scanregister.com

Sanitasi adalah upaya pemutusan mata rantai penyebaran bibit penyakit. Jika dalam kamus bahasa Indonesia arti kata sanitasi adalah usaha untuk membina dan menciptakan suatu keadaan yg baik di bidang kesehatan, terutama kesehatan masyarakat. 

Kegiatan yang dapat dilakukan berkaitan dengan hal-hal sanitasi antara lain : selalu mencuci tangan menggunakan sabun sehabis berakifitas yang berpotensi membawa kuman, mencegah terjadinya praktik Buang Air Besar Sembarangan (BABS), menjaga kebersihan toilet atau WC (water closet), menjaga kebersihan lingkungan dari sampah, genangan air kotor, menjaga kebersihan sumber air minum dan pengelolaan makanan yang sehat serta menjaga kebersihan saat menstruasi.

Dalam catatan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) bahwa setiap tahunnya tercatat korban jiwa mencapai 525 000 anak dibawah usia lima tahun yang meninggal akibat diare. Dan serangan diare terhadap anak-anak setiap tahunnya tercatat mencapai 1,7 juta jiwa. 

Umumnya dampak sanitasi buruk tidak cuma menyebabkan penyakit diare tapi juga kholera, disentri dan terhambatnya pertumbuhan (stunting). Di Indonesia sendiri Kejadian Luar Biasa yang disebabkan oleh diare mencapai 4203 jiwa dengan jumlah kematian 73 jiwa sebagai dampak dari sanitasi yang tidak layak (data Riskesdas, 2010). Bahkan kejadian baru-baru ini di Kabupaten Asmat, Papu tentang serangan gizi buruk dan campak di masyarakat salah satu penyebabnya adalah kondisi sanitasi yang kurang layak.

Jika di negara maju, sanitasi tidak lagi menjadi agenda penting dalam program pembangunan, karena perilaku masyarakatya yang sudah sangat peduli bahwa sanitasi adalah hak asasi manusia. Mereka tidak lagi dididik untuk memerangi BABS tetapi sudah dalam tahap penerapan teknologi memanfaatkan lumpur tinja dan air kotor dari aktifitas di toilet untuk bisa dimanfaatkan kembali tanpa berbau, layak digunakan dan tidak lagi mencemari lingkungan. 

Mereka sudah memiliki kepedulian bahwa jika sanitasi adalah hak asasi maka orang lain pun memiliki hak  yang sama untuk menikmati toilet bersih setelah meraka, menikmati lingkungan yang bersih dan sehat dari sampah, menikmati air minum yang layak dikonsumsi, serta bersama-sama memperhatikan dan mengawasi siapa saja yang melakukan praktik yang bertentangan dengan sanitasi sehat karena mereka dilindungi oleh undang-undang untuk melaporkan pelanggar / pembuat polutan.

 Hal yang mereka sadari mendapat keuntungan dari sanitasi adalah rendahnya alokasi negara bagi biaya kesehatan, rumah sakit sepi dari pasien yang menderita akibat sanitasi yang tidak layak, sehingga anggaran ini bisa dialokasikan kepada upaya mendorong infrastruktur ataupun teknologi yang lebih memadai sesuai kebutuhan dan peradaban manusianya.

Indonesia memang belum mampu menandingi apa yang telah dicapai oleh negara maju. Tetapi belajar dari mereka, bahwa perubahan perilaku memang wajib didorong untuk memperbaiki karakter dan menjadi gaya hidup bangsa untuk saling peduli bahwa hak untuk hidup sehat adalah milik semua orang, baik laki-laki atapun perempuan, penyandang cacat ataupun tidak. Karena itu penting untuk ditanamkan tentang sanitasi sehat sejak anak-anak (usia sekolah). 

Dari hal yang kecil mereka dididik untuk rajin mencuci tangan pakai sabun setiap selesai beraktifitas , sebelum makan, ataupun selesai keluar dari toilet. Mereka juga diajarkan bagaimana cara menghadapi periode menstruasi bagi remaja putri dan mendidik remaja putra untuk bertoleransi dan peka terhadap kawan putrinya yang sedang menghadapi menstruasi, mendidik anak anak untuk mau menyiram toilet sehabis digunakan tanpa meninggalkan bau ataupun jejak kotoran dari sepatu , diajarkan membuang sampah pada tempatnya dan apa yang wajib dilakukan saat mereka memegang sampah namun belum menemukan tempat sampah didekatnya.

Dalam pelaksanaan program ini, kerjasama lintas sektoral wajib didorong, kurikulum sekolah dibangun bekerja sama dengan dinas kesehatan dan dinas terkait yang memiliki tanggung jawab dalam program sanitasi. Jika sejak muda mereka dididik untuk peduli dengan lingkungan, maka Insha Allah, nilai -- nilai pembangunan karakter ini akan terbawa hingga mereka besar. Mereka akan menjadi karakter berkelas dunia yang memahami bahwa sanitasi adalah hak asasi semua orang, sehingga wajib bagi mereka untuk menjaga lingkungan bersih dan sehat untuk orang lain. Mereka akan paham bahwa jika mereka butuh hidup bersih dan sehat, tentu juga dengan orang lain. Dan mereka akan memahami bahwa tindakan pencegahan adalah jauh lebih baik daripada penanggulangan bencana.

Akhir kata, mari berjuang bersama, membentuk karakter anak bangsa melalui program sanitasi berbasis masyarakat. Sanitasi dari kita dan untuk kita, karena sanitasi memang untuk semua.

Salam Sanitasi