Cocon Sidiek
Cocon Sidiek Perencana dan Penulis Lepas

Seorang Perencana, Penulis lepas, Pemerhati masalah lingkungan hidup, sosial dan budaya

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Membangun Akuakultur yang Bertanggung Jawab

15 Mei 2018   19:21 Diperbarui: 16 Mei 2018   20:52 786 0 0
Membangun Akuakultur yang Bertanggung Jawab
Ilustrasi: Shutterstock

Sebagian besar insan akuakultur pasti tidak asing lagi jika mendengar istilah perikanan budidaya berkelanjutan (sustainableaquaculture). Istilah tersebut bahkan hampir disetiap kesempatan seringkali digaungkan, walaupun mungkin sebenarnya tidak sedikit diantara kita yang justru tidak tahu apa makna dari prinsip sustainability

Kita seringkali salah kaprah dalam memakani prinsip sustainable aquaculture, dengan seringkali menyamakan makna keberlanjutan (sustainability) dengan keberlangsungan (continuity). 

Padahal istilah keberlanjutan dengan keberlangsungan merupakan dua makna dalam konteks yang berbeda. Keberlanjutan lebih mengedepankan aspek lingkungan, sedangkan makna keberlangsungan lebih mengedapkan aspek bisnis. Kesalahan persepsi inilah, sehingga dalam implementasinya kegiatan usaha budidaya seringkali hanya mempertimbangkan faktor ekonomi semata.

Dalam sejarah perkembangan pola pendekatan pembangun pada negara-negara di dunia, kita bisa lihat sejak deklarasi stockholm tahun 1972, bahwa mulai ada pergeseran paradigma pola pengelolaan sumberdaya alam yang lebih mempertimbangkan prinsip eco-sentris yaitu dengan melahirkan sebuah konsep pendekatan yang dinamakan pembangunan berkelanjutan (sustainable development)

Prinsip inilah yang kemudian diadosi pada berbagai sektor baik yang berbasis sumberdaya alam (naturalresources) maupun industri (manufacturing).

Dalam konteks akuakultur, prinsip sustainability harus dimaknai sebagai upaya pengelolaan sumberdaya akuakultur secara bertanggungjawab dengan tetap menjamin kualitas lingkungan dan upaya konservasi sumberaya alam.

Tantangan Akuakultur di Masa Yang akan datang

Produksi akuakultur dunia mengalami trend peningkatan yang signifikan. Kita bisa lihat misalnya data FAO yang merilis bahwa dalam kurun waktu tahun 2006 hingga tahun 2011 telah mengalami lonjakan produksi dari sebesar 4,73 juta ton pada tahun 2006 menjadi 63,6 juta ton pada 2011, disatu sisi dalam kurun waktu yang sama produksi perikanan tangkap justru menujukkan adanya trend yang konstan (FAO, 2012). Tidak salah jika FAO memprediksi ke depan akuakultur akan menjadi andalan bagi pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat global.

Namun disisi lain, akuakultur juga dihadapkan pada suatu tantangan besar yaitu bagaimana memenuhi kebutuhan pangan yang kian meningkat ditengah permasalahan penurunan kualitas sumberdaya alam dan lingkungan global. 

Perubahan iklim dalam hal ini fenomena pemanasan global (globalwarming)) dan berbagai masalah lingkungan saat ini telah berdampak langsung terhadap penurunan tapak ekologis (ecologycalfootprint) secara signifikan termasuk di dalamnya fenomena permasalahan yang dihadapi akuakultur, kondisi ini sudah barang tentu akan berpengaruh besar terhadap perwujudan ketahanan pangan masyarakat global (global food security) yang justru ke depan akan semakin bergantung pada sumber gizi ikani.

Tantangan lainnya, sebagaimana dalam buku "Challenging the Aquaculture Industry on Sustainability", edisi Maret 2008 yang diterbitkan Greenpeace International", justru menyampaikan fakta bahwa industri akuakultur turut memberikan kontribusi potensi dampak negatif terhadap fenomena perubahan lingkungan global saat ini.  

Dampak negatif tersebut antara lain berkaitan dengan alih fungsi lahan (land conversion), emisi, biodiversity, pencemaran akibat polutan (nutrien, dan bahan kimia), dan isu lain yang berkaitan dengan konflik pemanfaatan sumberdaya air.

Apapun itu, nampaknya fenomena tersebut sudah harus menjadi bahan pertimbangan bagi titik balik pola pengelolaan akuakultur yang lebih bertanggungjawab. Indonesia sebagai salah satu penopang terbesar produk akuakultur dunia harus segera menentukan langkah-langkah konkrit sebagai upaya antisipasi dini dalam menghadapi tantangan akuakultur ke depan dengan memperkuat interaksi akuakultur dengan lingkungan sebagai bagian yang tak terpisahkan.

Dimensi lingkungan sebagai dasar SustainableAquaculture

Dari bahasan di atas, sebenarnya muara dari prinsip sustainability adalah pada aspek lingkungan. Artinya, tidak bisa sebuah pengelolaan usaha budidaya dikatakan berkelanjutan tanpa mempertimbangkan aspek lingkungan di dalamnya.  

Dengan kata lain, lingkungan dimaksud bukan hanya lingkungan yang terfokus pada on farm, tapi lingkungan dalam arti luas yang berkaitan dengan jaminan keseimbangan siklus alamiah yang membangun sebuah ekosistem secara keseluruhan.

FAO Sebagaimana dalam Code of Conduct for Responsible Aquaculture telah memberikan guiden kepada negara-negara bagaimana melakukan pengelolaan akuakultur secara bertanggungjawab dengan menjamin kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan. Merujuk pada apa yang telah diamanatkan dalam FAO-code of conduct di atas, kita dapat memetakan terkait interaksi antara akuakultur dengan dimensi lingkungan sebagai salah stu indikator sebuah pengelolaan usaha budidaya bisa dikatakan sustain.

Dalam konteks dimensi lingkungan, secara umum beberapa indikator sustainability yang patut menjadi bahan acuan pengelolaan akuakultur yang berkelanjutan adalah sebagai berikut :

Pertama, konversi lahan (landconversion). Pengembangan kawasan akuakultur tidak boleh mengorbankan kawasan penyangga, kawasan konservasi, dan kawasan-kawasan lain yang bersifat vital sebagai penopang ekosistem secara keseluruhan. 

Dalam penetapan kawasan budidaya tambak, misalnya, maka pelaku usaha wajib menyediakan spare minimal 20% dari total lahan potensial untuk kawasan penyangga (bufferzone), begitupun dengan jenis budidaya lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4