Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Instagram, Matilah Kau Selamanya

16 Maret 2019   06:00 Diperbarui: 16 Maret 2019   06:01 651 35 19
Instagram, Matilah Kau Selamanya
Kompas.com

Kamis pagi, jagat Twitter diramaikan tagar Instagram Down. Apa pasalnya? Oh Dear, ternyata server Instagram mengalami gangguan...horeeee!

Beberapa teman Young Lady mendadak balik berjamaah ke Twitter. Yes, rasakan. Makanya jangan mabuk IG. Dikit-dikit IG, dikit-dikit IG. Iseng Young Lady membuka Instagram. Benar, tak bisa dibuka. Makin senang hati ini.

Anyway, Young Lady punya dua pengalaman buruk dengan platform berbagi foto ini. Pertama, saat Young Lady kesepian karena ditinggalkan teman-teman ke Instagram. Mereka lebih suka main di IG dibandingkan di Twitter. Sementara Young Lady selalu setia dengan Twitter, sejak 2012 hingga sekarang.

Kedua, Young Lady cantik pernah mendapat tawaran menjadi model iklan untuk brand pakaian. Tapi ternyata Young Lady ditipu. Project pemotretan gagal, akun Instagram brand yang mengontak Young Lady diprotect. Kzl kan? Ditipu di dunia modeling, sakitnya tuh di sini.

Sejak saat itu, Young Lady jadi ilfeel sama Instagram. Satu-satunya konten Instagram yang menginspirasi Young Lady hanyalah unggahan Ririn Ekawati tentang almarhum suaminya, Ferry Wijaya. Sosok Ferry Wijaya terus menginspirasi Young Lady hingga detik ini. Ferry Wijaya adalah pengusaha mualaf berparas tampan. Selama menikahi Ririn Ekawati, dia begitu mencintainya. Usia Ferry Wijaya tak panjang lantaran penyakit kanker darah. Kini ayah Abigael Cattaleya itu terbaring abadi di San Diego Hills. Entah mengapa, figur Ferry Wijaya mengingatkan Young Lady pada "Calvin Wan".

Ok, back to focus. Young Lady senang sekali bila Instagram down. Bahkan kalau perlu, down untuk selamanya. Akun penyanyi Virzha Besari mencuit. Ia menginginkan Instagram down selama seminggu ke depan. Biar para influencer merasakan jadi rakyat jelata. Bener, bener banget.

Instagram menjadi medsos ajang pamer. Pamer tubuh paling indah, pamer makanan enak, pamer tempat-tempat mewah, dan pamer kemesraan. Semua tersaji lengkap di sana. Hal ini menimbulkan kecemasan, depresi, dan kepercayaan diri yang rendah. Ada perasaan hidup orang lain jauh lebih sukses, lebih indah, dan lebih kaya. Tak sedikit wanita yang menggunakan fitur edit foto dan membuat sosoknya dalam foto menjadi langsing, putih, dan sempurna tanpa cela.

Instagram adalah media sosial paling buruk perusak mental. Hal ini diungkapkan lembaga survei di UK, Royal Society for Public Health. RSPH meneliti sebanyak 1,479 responden. Hasilnya, Instagram menempati peringkat media sosial terburuk. Peringkat terbaik didapat Youtube.

Tidak ada orang miskin di Instagram. Ya, itu benar. Seperti hasil riset Pew Research Center pada tahun 2015. Remaja dari keluarga berpenghasilan 100.000 USD per tahun lebih banyak main Instagram. Sedangkan remaja dari keluarga berpenghasilan 30.000 USD per tahhun lebih banyak pakai Facebook.

Akibat buruk Instagram lainnya adalah, rawan bullying. Perundungan bisa menyasar suku, etnis, agama, dan pilihan politik. Instagram juga memicu body shaming. Bagi mereka yang memiliki konten foto dengan tubuh tak sempurna atau fisik yang terbatas, rawan di-bodyshaming oleh rakyat Instagram.

Dan...jujur saja. Menurut Young Lady, Instagram tidak ramah untuk warga disabilitas netra. Instagram hanya memihak orang yang bisa melihat normal. Mereka yang tidak bisa melihat, get out saja.

Path sudah mati. Mungkin tinggal menunggu waktu sebelum Instagram menyusulnya. Ketika Instagram mati, ketika itulah jurang kesenjangan sosial bisa dipersempit. Kompasianer, setujukah kalian bila Instagram mati?