Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Pilihan

"Jelang Eid Mubarak, Soft Drink, Stoples, dan Ketakutan"

13 Juni 2018   04:00 Diperbarui: 13 Juni 2018   04:12 774 24 14

Cepatnya perjalanan waktu tak terasa. Bulan suci akan segera berakhir. Sebentar lagi Muslim di berbagai belahan dunia akan merayakan hari kemenangan. Kata orang Indonesia sih Lebaran. Tapi, Young Lady lebih suka menyebutnya Eid Mubarak.

Jelang Eid Mubarak, mulai muncul keanehan tak diinginkan di rumah Young Lady cantik. Di satu sisi, bagian tengah rumah kotor dan berantakannya luar biasa. Rumah dipenuhi wangi kue dan tumpukan loyang. Lantai terasa kotor dan lengket kena tumpahan tepung. Mau ibadah saja jadi agak kurang konsen.

Malam-malam Ramadan yang mulanya bisa digunakan untuk berkumpul bersama, jadi agak sepi. Bagaimana tidak, my mom and dad sibuk menyiapkan rumah dan persiapan khas Eid Mubarak lainnya. Awalnya bisa tidur lebih awal demi mengejar Tahajud kini harus terganggu oleh bermacam persiapan menyambut hari raya. Yang bikin kuelah, mengecat rumahlah, memotong daginglah, menyiapkan hadiah Lebaran buat duafalah, dan segepok persiapan lainnya.

Dari luar, rumah Young Lady kelihatan rapi dan cantik. Eits, kalian tertipu seperti judul lagunya Hello. Tertipulah. Kalau kalian masuk ke dalam, kalian akan menyesal memuji rumah Young Lady. Dalamnya berantakan minta ampun.

Keanehan lainnya, menu sahur dan berbuka puasa jadi random. Without takjil, without vegetables. Beda, beda, beda banget sama minggu-minggu sebelumnya. Sibuk prepare buat Eid Mubarak jadi alasan untuk luput menghidangkan menu sahur dan buka yang seimbang. Yah bisa dimaklumi. Namanya jelang hari raya, pasti repot. Fokus perhatian terbagi.

Yang berikutnya bisa dibilang keanehan, bisa juga sesuatu yang menjengkelkan. Walaupun sibuk prepare jelang Eid Mubarak, kami tetap menjaga konsistensi berbagi hingga akhir Ramadan. So pasti harus turun ke jalan tiap sore, kan? Nah, jalanan depan kompleks perumahan kami macetnya tingkat dewa. Macet, macet, macet luar biasa. Mau kesal, percuma. Kan lagi puasa. Nanti pahalanya berkurang. Lebih baik diam saja menunggu kemacetan sambil berdoa.

Kata my mom, jalanan makin macet jelang Eid Mubarak sebab orang-orang sibuk berbelanja. Kebanyakan orang turun ke jalan di sore hari jelang Lebaran bukan lagi untuk ngabuburit dan berburu takjil. Tetapi untuk berbelanja keperluan Lebaran. Kepentingan telah bergeser. Kemacetan terus dan terus bertambah.

Kemacetan jelang hari raya menjadi gangguan menjengkelkan. Terkadang Young Lady ingin menculik para pengguna jalan itu satu per satu, mengambil isi otak mereka, dan menanamkan sugesti berbagi serta tidak berlebihan dalam merayakan Eid Mubarak ke pikiran mereka. That's impossible. Prinsip kan tidak bisa dipaksakan. Harus ada kesadaran dari masing-masing individu.

Satu keanehan lagi: rasa takut menjelang hari raya. Mayoritas umat beragama senang menyambut datangnya hari raya keagamaan yang mereka rayakan tiap tahun. Eid Mubarak, bagi umat Muslim, adalah hari kemenangan. Puncak kebahagiaan setelah berpuasa selama sebulan penuh. Di hari kemenangan, diri dan hati kembali suci. Orang-orang bergembira merayakannya.

Tapi bagi Young Lady tidak. Kompasianers, jujur ya. Young Lady takut dengan hari raya gegara peristiwa tahun kemarin. Sebuah peristiwa yang menimbulkan trauma di hari pertama Eid Mubarak. Sungguh, Young Lady takut. Takut bila peristiwa yang sama terulang lagi dengan lokasi dan pelaku yang berbeda. Aneh ya. Di saat semua Muslim berbahagia menyambut hari kemenangan, Young Lady malah takut. Takut, takut sekali. Oh...ini konyol sekali. 

Begitu takutnya sampai-sampai Young Lady melarang "Calvin Wan" memberi ucapan selamat saat Eid Mubarak nanti. Jauh-jauh hari Young Lady sudah melarangnya. Jelas saja "Calvin" keheranan dan bertanya-tanya, tetapi ia tidak memaksakan jawaban. Anehnya, ia tetap menemani Young Lady meski Young Lady sering bersikap aneh. Dan...sejak Mas Cinta meninggal, Young Lady jadi makin protektif pada "Calvin Wan".

Ya, itu tadi keanehan-keanehan jelang Eid Mubarak. Meski begitu, ada kesenangannya juga. Contohnya saja hari kemarin. My mom dapat sebotol soft drink sebagai hadiah Lebaran dari pedagang langganannya. Hadiah Lebaran itu spesial untuk my mom. Yah, Young Lady tahu pastilah gimana my mom. Orangnya royal, gampang kasihan, dan hampir tiap pedagang suka padanya. Sebab my mom tidak suka menawar harga dan membayar saja harga yang ditetapkan. Tidak seribet kebanyakan emak-emak zaman now lainnya. Justru sering kali my mom dapat harga lebih mahal. Tak tahu mengapa. Dikira orang kaya kali ya...padahal bukan.

Anyway, masih soal hadiah Lebaran, setengah lusin stoples yang terbeli minggu kemarin sudah disiapkan sebagai hadiah Lebaran untuk orang-orang yang membutuhkan. Stoples itu diisi kue-kue Lebaran. Young Lady sudah pernah cerita kan di salah satu artikel cantik? Lebih baik memberi makanan pada kaum duafa dari pada uang? Young Lady setuju apa yang diajarkan Pak Yusuf Hamka, Muslim keturunan Tionghoa yang berbagi seribu porsi makanan berbuka puasa tiap hari di depan Kelenteng Petak Sembilan. Insha Allah, kue-kue Lebaran itu akan diberikan sebelum Eid Mubarak.

Membicarakan kue, keluarga Young Lady cantik pun tak lupa menyajikan aneka jenis kue di hari raya Eid Mubarak. As usual, menu-menunya perpaduan antara Indonesia dan Holland. Indonesian food seperti rendang, bakso, dan opor ayam akan disiapkan. Tetapi lebih banyak western foodnya. Biasanya kami juga menyediakan pizza. Tahun ini ditambah sphagetti. Sedangkan pizza selalu menjadi olahan rutin yang tersaji tiap Eid Mubarak. Tak ketinggalan beberapa varian kue-kue dari Negeri Kincir Angin.

Nah, begitu kira-kira persiapan jelang Eid Mubaraknya Young Lady. Kalau Kompasianers yang lain bagaimana?

**      

Paris van Java, 13 Juni 2018

Tulisan cantik, dari Muslim cantik bermata biru.