Mohon tunggu...
Trie Yas
Trie Yas Mohon Tunggu... Sehari-hari bekerja sebagai Graphic design, editing foto, editing video (motion graphic). Namun tetap menulis buat menyeimbangkan hidup.

Sehari-hari bekerja sebagai Graphic design, editing foto, editing video (motion graphic). Namun tetap menulis buat menyeimbangkan hidup.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Artikel Utama

Posisi Lembaga Sensor (Contoh Kasus Film 3 Hari untuk Selamanya)

1 November 2016   21:42 Diperbarui: 2 November 2016   09:59 863 1 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Posisi Lembaga Sensor (Contoh Kasus Film 3 Hari untuk Selamanya)
Riri Riza dalam diskusi dan nobar Film 3 hari untuk selamanya yang ia sutradarai tahun 2007 mendapat sensor dari LSF.

Film dalam era globalisasi dapat menjadi alat penetrasi kebudayaan sehingga perlu dijaga dari pengaruh negatif yang tidak sesuai dengan ideologi Pancasila dan jati diri bangsa Indonesia. Di situlah letak tugas, fungsi, dan wewenang Lembaga Sensor Film (LSF). Ironisnya, dalam pemotongan LSF sering dirasa mematikan kreativitas sineas di Indonesia. Nilai penting yang ingin disampaikan sutradara justru kena sensor. Membuat alur cerita menjadi sulit dimengerti karena cerita bisa menjadi terkesan melompat-lompat.

Seperti yang dialami film 3 Hari Untuk Selamanya karya sutradara Riri Riza. Film yang dibintangi Adinia Wirasti dan Nicholas Saputra ini mendapat pemotongan adegan terpenting dalam film. Sehingga ketika film dilempar di bioskop, penonton tidak mendapatkan inti keseluruhan cerita.

"Saya merasa dihukum waktu itu. LSF seperti sengaja membiarkan bagian depan film utuh. Masuk ending langsung dipotong tanpa dikasih cela sedikit pun. Sehingga penonton sengaja dibuat tersesat," ujar Riri Riza setelah pemutaran Film 3 Hari Untuk Selamanya di Kineforum (30/10).

Film 3 Hari Untuk Selamanya tayang di bioskop pada tahun 2007 dan merupakan road movie yang masih belum seproduktif genre lainnya. Film ini bercerita tentang perjalanan sepasang sepupu bernama Yusuf (Nicholas Saputra) dan Ambar (Adinia Wirasti) dari Jakarta menuju Jogja.

Dalam perjalanan, terjadi berbagai peristiwa, beberapa dialog, saling curhat masalah, yang akhirnya membuat perjalanan tersebut menjadi berkesan dan ditempuh selama 3 hari. Padahal dalam perjalanan normal, Jakarta-Jogja tidak sampai sehari.

Tokoh utama film ini masih berusia anak kuliahan, usia-usia mencari jati diri. Dialog yang dibangun terkesan vulgar dan tidak mendidik seperti tentang kehidupan pernikahan, seks, narkoba, hingga agama, tetapi terasa mengena dan jujur.

Banyak adegan ngelinting ganja, menghisap ganja dan rokok, serta minum alkohol lulus sensor. Namun, memasuki bagian akhir adegan seks dipotong dengan kasar, bahkan adegan ciuman. Potongan itu membuat beberapa bagian film tiba-tiba gelap dan menyisakan ruang kosong buat penonton.

Duet Mira Lesmana dan Riri Riza tidak diragukan lagi di perfilman Indonesia. (Foto: Trie yas/aka.lanang)
Duet Mira Lesmana dan Riri Riza tidak diragukan lagi di perfilman Indonesia. (Foto: Trie yas/aka.lanang)
Riri dan Mira Lesmana selaku produser, menggambarkan film ini bagi kaum muda yang pada realitasnya saat itu, gaul, hidup penuh gejolak dan gelisah. Karena itu mereka melabeli film 3 Hari Untuk Selamanya untuk 21 keatas. Ternyata LSF meloloskan untuk penonton 18 ke atas dengan pemotongan kasar di bagian adegan penting sebagai keutuhan cerita tanpa terlebih dahulu melakukan diskusi.

Seluruh anggota LSF dan Tenaga Sensor, dalam menjalankan tugasnya berpedoman pada UU Perfilman Tahun 2009 dan PP No. 18 Tahun 2014. LSF bukan lembaga 'jagal film', oleh karena itu seharusnya anggota LSF mengadakan pendekatan dialog dengan sineas terlebih dahulu sebelum melakukan pemontongan dan sensor.

Tujuan dan patokan LSF untuk memotong dan menyensor film sampai sekarang masih dipertanyakan. Sudah menjadi rahasia umum, dalam mekanis sensor ada aturan yang tidak diperbolehkan tetapi ternyata semua berbalik kepada tergantung tim yang penyensor.

"LSF itu dibagi oleh beberapa regu, jadi nasib film tergantung dapat tim yg mana. Jika dapat tim yang intelek mungkin akan memainkannya dengan intelek. Jika dapat tim yang konservatif, yang sudah itulah yang sudah diputuskan," ujar sutradara kelahiran Makassar tersebut. Ia mengaku film 3 Hari Untuk Selamanya tidak ada panggilan kedua seperti yang ia alami ketika memproduksi film Gie.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x