Mohon tunggu...
Lanjar Wahyudi
Lanjar Wahyudi Mohon Tunggu... HRGA

Menulis itu mengalirkan gagasan dengan segala riak dan gelombangnya, sampai akhirnya menjadi lautan tulisan yang luas dan indah. Bisa hubungi saya di: lanjar.w77@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Membingkai Ulang Makna Idiom "Usul Mikul"

23 Januari 2021   15:52 Diperbarui: 28 Januari 2021   03:35 282 27 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Membingkai Ulang Makna Idiom "Usul Mikul"
ilustrasi memikul | Gambar oleh Sasin Tipchai dari Pixabay

Semua orang sama, hanya apa yang mereka yakini yang membedakan mereka, tidak penting apa yang orang lain pikirkan. -Miyamoto Musashi-

Usul mikul adalah sebuah ungkapan bahasa Jawa yang bermakna barang siapa menyampaikan ide atau gagasan maka ia pula yang harus menjalankannya.

Idiom ini berasal dari kata usul yang artinya adalah mengajukan ide, gagasan atau pendapat, dan mikul yang artinya memikul beban atau memanggul beban dengan pundaknya. 

Makna ini berkesan bahwa jika Anda mengajukan ide atau gagasan tentang sesuatu maka Anda harus siap untuk menjadi orang yang melaksanakannya dan menanggung segala kerepotan yang timbul dari usaha-usaha untuk merealisasikan ide tersebut. 

Contoh dalam suatu organisasi atau kelompok, Anda memiliki usul untuk mengadakan acara piknik bersama bagi seluruh anggota kelompok, maka biasanya 90% bisa dipastikan bahwa Anda akan menjadi ketua panitia pelaksana acara piknik tersebut, berat bukan? Walaupun sebenarnya menjadi ketua panitia masih rada ringan sebab hal-hal teknis akan dikerjakan oleh seksi-seksi yang dibentuk kemudian. 

Ketua panitia bertanggungjawab untuk mengkoordinasi, dan mengarahkan agar seksi-seksi bisa bekerja sesuai rancangan yang dibuat dan diharapkan oleh ketua panitia atas sepengetahuan pembina atau tetua organisasi.

Yang berat justru ketika organisasi tidak terbiasa bekerja secara sistematis alias tidak memiliki sistem kerja yang baik, sehingga praktis Anda akan menjadi pemikir dan pelaksana dari kegiatan tersebut. 

Akibatnya Anda menjadi sangat sibuk, dan akhirnya kelelahan sendiri. Selain itu apabila terjadi ketidak sempurnaan atau kekurangan di sana-sini yang mengakibatkan ketidakpuasan orang lain, maka resiko akan Anda tanggung sendiri. Sudah penat, capek dan lelah, masih ditambah sakit hati dan perasaan karena dikritik dan dikomplain banyak orang.

Fenomena ini berlangsung di masyarakat sudah sangat lama, sehingga muncullah idiom dalam bahasa Jawa "Usul Mikul" tersebut. Biasanya dampak dari fenomena sosial ini adalah tumbuhnya sikap pasif dan apatis dalam diri individu-individu pada kelompok atau organisasi, maupun pada masyarakat secara luas. 

Sehingga jangan heran apabila dalam suatu momen pertemuan, ketika pemimpin menyampaikan kesempatan apakah ada ide solusi atas sebuah permasalahan maka kebanyakan orang akan diam. Mengapa diam? Sebab tidak mau repot. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN