Mohon tunggu...
Lanjar Wahyudi
Lanjar Wahyudi Mohon Tunggu... Cepat mendengar, lambat berkata-kata: terapinya dengan menulis.......

Semua orang bisa bicara, namun tidak semua orang bisa menulis; didalam menulis ada proses berpikir, merenung, dan memutuskan sebuah gagasan. Itulah asyiknya menulis. Bisa hubungi saya di lanzarw@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Artikel Utama

Belajar dari Falsafah Bisnis "Obah Mamah, Ana Dina Ana Upa"

14 Agustus 2019   04:00 Diperbarui: 15 Agustus 2019   03:33 0 6 2 Mohon Tunggu...
Belajar dari Falsafah Bisnis "Obah Mamah, Ana Dina Ana Upa"
ilustrasi merancang baju perempuan. (sumber: justdial.com)

"Obah Mamah Ana Dina Ana Upa, Siapa mau berusaha maka setiap hari ia akan mendapatkan rezekinya" 

Di Jawa ada pepatah yang kerap diungkapkan oleh para tetua zaman dulu yaitu "obah mamah, ana dina ana upa" kalau diartikan kata per-kata adalah sebagai berikut, obah berarti bergerak atau berusaha, mamah berarti makan, ana dina artinya ada hari, ana upa artinya ada butir nasi. 

Sehingga kalau dirangkai menjadi kesatuan makna berarti siapa mau bekerja maka ia akan mendapat makan, atau secara lebih luas bisa diartikan siapa mau berusaha maka setiap hari ia akan mendapatkan rezekinya. 

Para tetua seringkali mengucapkan ini untuk anak-anaknya yang sedang dalam kondisi putus asa karena kondisi ekonomi yang terpuruk, panen yang gagal, kemarau panjang yang mematikan tanaman pangan, diberhantikan dari pekerjaan, usaha dagang yang menemui kebangkrutan, hutang yang mencekik,  yang itu semua membuat kondisi papa.

Dibelahan dunia lain, para ahli mengungkapkan teori tentang Adversity Quotient  (AQ)yaitu sebuah kecerdasan yang dimiliki manusia untuk mengatasi permasalahan hidup dan sanggup bertahan menghadapinya. 

Permasalahan hidup yang sering menyebabkan tekanan dalam diri seseorang  misalnya kematian pasangan, putus hubungan, sakit menahun, kehilangan pekerjaan, beban tugas atau pekerjaan yang berat, atau kecemasan karena kondisi keuangan yang buruk. 

AQ bukan hanya membuat seseorang  mampu menghadapi permasalahan hidup, tetapi juga membuat ia memiliki daya kreativitas yang lebih untuk dikembangkan dalam rangka keluar dan bebas  dari jerat permasalahan yang ada.

Setidaknya dua hal ini -yaitu pepatah tetua Jawa dan Adversity Quotient- yang terbersit dalam pikiran saya ketika beberapa hari ini mengamati aktivitas Eci, anak pertama kami. 

Saya tidak yakin Eci yang sekarang duduk di kelas 5 SD ini tahu tentang pepatah bijak tetua Jawa diatas apalagi teori tentang AQ, karena saya belum pernah menceritakan kepadanya. 

Mengamati rutinitasnya sepulang sekolah dalam dua minggu ini sangat menarik bagi kami, ada kesibukan baru yang dikerjakannya dengan semangat. Kesibukan baru itu adalah membuat stiker heeee..... 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x