Mohon tunggu...
Langit Muda
Langit Muda Mohon Tunggu... Daerah Istimewa Yogyakarta

Terimakasih Kompasiana, memberi kesempatan membaca dan menulis.

Selanjutnya

Tutup

Film

Keberanian Otokritik ala Bollywood

9 Oktober 2019   07:33 Diperbarui: 9 Oktober 2019   07:52 0 17 6 Mohon Tunggu...

"Bayangan mereka tidak boleh menutupi kita. Kita tidak memakan makanan yang telah mereka sentuh" (quote dari film Article 15)

Bollywood bukanlah sekedar berjoget dan bernyanyi. Film Article 15, cukup berani menyorot sistem kasta yang masih merupakan isu sensitif di India. Sejumlah negara bagian di India bahkan melarang penayangan film ini di bioskop.

Pasal 15 Konstitusi India 1950, dengan tegas melarang diskriminasi berdasarkan agama, ras, kasta, suku atau tempat lahir. Walau demikian sistem kasta bagaikan "apartheid terselubung" versi India. Meski di kota-kota besar sudah terkikis tetapi di kota kecil dan pedesaan sistem kasta masih sangat kental.

Kasta Dalit adalah kasta terendah di luar empat kasta (Brahma, Ksatria, Waisya, dan Sudra). Kasta Dalit sering memperoleh pekerjaan-pekerjaan yang dianggap kotor dan rendah, seperti menguliti bintang, berurusan dengan limbah dan sampah. Orang dari kasta Dalit bisa dipukuli bila masuk ke kuil dari kasta yang lebih tinggi. 

Terdapat istilah "untouchability", yaitu orang berkasta tinggi enggan melakukan kontak fisik dengan orang dari kasta Dalit. Dalam sejarah India, Doktor Ambedkar dikenal sebagai tokoh yang menentang diskriminasi kasta di India. Diyakini, Ambedkar jauh lebih vokal daripada Gandhi dalam menentang diskriminasi kasta.

Ayan, yang menjadi lakon utama dalam film Article 15, adalah perwira polisi yang dimutasi dari Delhi ke daerah pedesaan di Uttar Pradesh. Ayan, berasal dari kasta Brahmana, lama menjalani masa kecil di luar negeri, dan selama ini tinggal di kota besar. Karena itu, Ayan kurang memahami akan masih kuatnya penerapan sistem kasta di pedesaan.

Pikiran, perasaan, dan ucapan Ayan, seolah menjadi penyampai pesan dari pembuat film ini. Meskipun Ayan memiliki keteguhan dan kelurusan laksana Inspektur Vijay, film Article 15 bukanlah tentang baku hantam atau baku tembak ala Inspektur Vijay vs gangster. Memang di sini ada investigasi, tetapi film ini bukanlah genre film detektif dengan jalan cerita yang rumit.

Penculikan tiga orang remaja putri yang berasal dari kasta Dalit. Dua orang ditemukan mati, satu menghilang. Bawahan Ayan mencoba menggiring opini bahwa peristiwa itu adalah pembunuhan demi kehormatan yang dilakukan oleh orangtua mereka sendiri. Sementara itu, Anshu yang dicurigai oleh Ayan sebagai pelaku, adalah pengusaha lokal yang merupakan anak Ramlal Naharia, politisi berpengaruh.

Sebuah adegan menyesakkan ketika kedua ayah yang sudah kehilangan putrinya, malah ditahan dengan tuduhan pembunuhan. Mereka tak berdaya harus membuat pengakuan palsu karena keluarga mereka terancam. Sebuah pertunjukkan ketidakadilan yang sangat mengusik.

Ayan tetap teguh melanjutkan penyelidikannya untuk mengungkap kebenaran, meski dalam tekanan Panicker, petugas CBI (semacam FBI di India). Akhirnya, remaja yang hilang berhasil ditemukan hidup-hidup. Sementara Anshu mati ditembak oleh polisi korup yang panik konspirasi mereka bakal terbongkar.

Bagaimana implikasi politisnya? Ramlal Naharia tumbang. Apakah komunitas Dalit yang memperoleh kemenangan? Bukan. Mahantji, pesaing Ramlal, juga berasal dari kasta Brahmana, memenangkan pemilihan. Mahantji dan kroninya, Shanti Prasad, yang merupakan tokoh kasta Dalit, yang memperoleh keuntungan. 

Nishad, tokoh pemuda Dalit, yang selama ini melakukan perlawanan dan tulus memperjuangkan kepentingan Dalit, dalam sebuah adegan nampak diculik dan dieksekusi, entah oleh kubu mana, apakah kubu Ramlal, kubu  Mahantji atau sengaja dibungkam oleh oknum aparat.

Film-film Bollywood tidak kalah dari Hollywood, dalam keberaniannya melakukan otokritik kondisi bangsa sendiri. Sebenarnya beberapa film India juga berani menyoroti masalah kasta, meski tidak selalu menjadikannya secara frontal sebagai tema utama pada film mereka. 

Di film Manjhi:The Mountain Man, misalnya, digambarkan penduduk desa dari kasta rendah yang diperlakukan seenaknya oleh kasta yang lebih tinggi. Manjhi bahkan sempat dipukuli oleh penduduk berkasta tinggi karena dianggap tidak sopan.

Di film Swades, Mohan (dimainkan Shah Rukh Khan), yang ingin memperjuangkan pendidikan di desa menghadapi sejumlah masalah pelik. Mereka yang dari kasta Brahmana, tidak ingin anak-anaknya belajar bersama anak-anak dari kasta rendah. 

Mohan, berasal dari kasta Brahmana, selama ini tinggal di luar negeri dan bekerja di NASA, dia tidak mengerti mengapa tindakannya bekerjasama dengan orang-orang dari kasta rendah dianggap mengacaukan tatanan di desa. Mohan tercengang, ketika suatu kali ada bioskop keliling di desa, ia mendapati orang-orang dari kasta rendah, hanya bisa menonton dari belakang layar. 

Suatu ketika Mohan hendak menagih utang penyewa tanah Gita (teman masa kecil Mohan), tetapi niat tersebut batal, mendapati Haridas, si pengutang, dalam kondisi yang buruk. Haridas yang tadinya seorang penenun, beralih profesi menjadi petani karena usaha tenun kalah bersaing di zaman itu. Tetapi sistem kasta menghambatnya, perangkat desa memblokir aliran air hingga sawahnya kekeringan. Mungkin kita di sini berpikir betapa konyolnya pengaturan kasta tersebut, tapi itulah realita yang masih terjadi di India.

Saya ingat pernah menonton sebuah film India mengenai asmara beda kasta, maaf saya lupa judulnya mungkin karena ketiadaan bintang besar macam Amitabachan atau Shakh Rukh Khan. Singkat cerita, gadis dari kasta tinggi menjalin cinta dengan pemuda dari kasta rendah. Karena kisah cinta mereka tidak direstui oleh keluarga si gadis, maka pasangan kekasih tersebut memilih kabur dari desanya ke kota besar. Di sana mereka menikah dan memiliki anak. 

Tetapi keluarga besar si gadis ternyata belum memaafkan perbuatan pasangan tersebut, dan setelah bertahun-tahun akhirnya berhasil menemukan keberadaan rumah mereka di kota. Cerita berakhir tragis dengan dibunuhnya pasangan tersebut, sementara anaknya lolos dari maut karena sedang bermain di rumah tetangga. Mungkin kalau di Indonesia mirip-mirip lah dengan sinetron kisah cinta si kaya - si miskin yang tak direstui keluarga, hanya saja di Indonesia tanpa dibarengi acara bunuh-bunuhan.

Bicara soal diskriminasi, bergeser sedikit ke Hollywood, saya ingat salah satu adegan dalam film The Butler. Adegan itu bersetting situasi sekitar tahun 1930-an di sebuah perkebunan kapas milik orang kulit putih, dengan para buruh kulit hitam. Cecil Gaines kecil menyaksikan ibunya diperkosa oleh anak pemilik perkebunan. 

Sementara ayahnya yang mencoba membela, malah ditembak mati. Saya kadang membayangkan, kalau di bioskop di AS ada penonton orang kulit hitam yang duduk bersebelahan dengan orang kulit putih, apakah seusai nonton film tersebut mereka akan baku hantam? Tapi itu tidak terjadi. Mereka paham apa yang diungkapkan film tersebut adalah bagian dari sejarah bangsa yang bukan untuk ditutup-tutupi.

Ada sebuah pelajaran berharga yang bisa kita tarik. Luka sejarah perlu dibabar secara transparan. Permasalahan bangsa yang masih mengganjal, bukanlah untuk disembunyikan di bawah karpet. 

Relevan rasanya bila kita introspeksi diri dengan situasi yang terjadi saat ini. Kita memiliki Pancasila. Kita memiliki Bhinneka Tunggal Ika. Tapi apakah kita telah sungguh-sungguh melaksanakannya?


KONTEN MENARIK LAINNYA
x