Langit K.
Langit K.

World in my hands. World citizen. Born 1991 in Bonn. Grew up in East Java. Studying in DE.\r\n\r\nID/DE/EN/MY/FR/ES/NL/JV

Selanjutnya

Tutup

Sosial Budaya

Nasib Orang "Indo" (keturunan Indonesia-Belanda) di Indonesia Kini

14 Maret 2014   09:06 Diperbarui: 24 Juni 2015   00:57 17 0 0
Nasib Orang "Indo" (keturunan Indonesia-Belanda) di Indonesia Kini
1382810018431393598

Pada kurun waktu 1945 sampai dengan 1950 saat Indonesia yang dulunya bernama Nederlands-Indie mulai berbenah setelah mendeklarasikan kemerdekaannya dari Kerajaan Belanda, stabilitas Indonesia masih simpang siur. Namun Belanda tidak mengakui kemerdekaan negara Indonesia, sehingga pada saat itu terjadilah perang mempertahankan kemerdekaan, yang menyebabkan teror kepada orang-orang berkulit putih di Indonesia pada saat itu yang didominasi oleh orang Belanda. Banyak gedung-gedung pemerintahan yang terbakar, sehingga dokumen-dokumen penting juga ikut lenyap. Pada saat itu kebanyakan orang Belanda meninggalkan Indonesia untuk kembali ke negeri Belanda, karena mereka sudah tidak mempunyai kekuasaan lagi di Indonesia. Pemerintah Indonesia yang dipimpin presiden Soekarno memberi pilihan kepada orang-orang keturunan Belanda yang disebut 'Indo'. Mereka boleh menetap di Indonesia atau pergi ke Belanda selamanya. Sedangkan orang-orang 'Indo' yang pada saat itu berada di Belanda tidak bisa kembali lagi ke Indonesia karena pemerintah mencabut paspor mereka (saat itu mereka masih berkewarganegaraan Hindia-Belanda). Namun untuk meninggalkan Indonesia tidaklah mudah, karena Indonesia masih dalam situasi pernag mempertahankan kemerdekaan dan banyak gedung-gedung dan rumah-rumah yang terbakar, sehingga banyak juga orang yang kehilangan dokumen penting mereka seperti paspor. Sehingga banyak orang 'Indo' yang tinggal di Indonesia dan tidak bisa kembali ke negeri Belanda. Kebanyakan orang 'Indo' pada berkewarganegaraan Belanda, namun mereka tidak bisa membuktikan kewarganegaraan mereka tersebut dengan suatu dokumen, karena mereka kehilangan dokumen (paspor) mereka. Akibatnya mereka harus menetap di Indonesia dan kehilangan hak mereka sebagai warna negara Belanda, seperti uang pensiun, uang tunjangan sosial dan lain-lainnya yang lazim diterima warga negara Belanda. Inilah akar masalah mereka mengapa mereka tidak bisa kembali ke Belanda pada saat itu, yaitu karena mereka kehilangan atau tidak mempunyai dokumen yang menyatakan bahwa mereka adalah warga negara Belanda. Orang 'Indo' pada umumnya memiliki nama Belanda dan banyak dari mereka yang mengalami diskriminasi karena penampakan fisik mereka yang berbeda dengan orang pribumi Indonesia. [caption id="attachment_287955" align="aligncenter" width="768" caption="Leida dan Ruud Sellier"][/caption] Banyak orang 'Indo' yang tinggal di kota-kota besar di Indonesia seperti di Surabaya. Mereka pada umumnya hidup di bawah garis kemiskinan dan luput dari perhatian masyarakat (Belanda). Mereka pada umumnya memiliki nama Belanda dan masih bisa berbahasa Belanda, meski dengan aksen bahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Di Surabaya ada sepasang orang 'Indo' yang kebetulan bernasib baik yaitu Leida dan Lutz Sellier, mereka mendirikan suatu perkumpulan orang 'Indo' di Surabaya yang gunanya untuk mendata dan menolong orang-orang 'Indo' yang ada di Surabaya. Menurut mereka, ada sekitar 800 orang Indo yang tersebar di seantero Surabaya. Pada umumnya orang 'Indo' di Surabaya hidup di bawah garis kemiskinan ataupun karena sudah tua mereka mengalami sakit tua. Namun mereka tidak mempunyai uang untuk berobat ke dokter. Mereka juga tinggal di rumah-rumah yang sangat jauh dari layak. Komunitas 'Indo' inilah yang kemudian membatu mereka. Berikut ini adalah kisah beberapa orang 'Indo' di Surabaya yang tidak bernasib baik: Herman de Pauw (81 tahun) Herman tinggal sendiri di rumah sempit di sebuah gang. Dia sebenarnya mempunyai 6 anak, tapi mereka tidak bisa membantu dia karena mereka juga tidak punya uang. Dengan bahasa Belanda yang berlogat Indonesia kental dia bercerita bahwa dia sedang sakit tua, sehingga dia tidak bisa kemana-mana. Dia hanya memperoleh Rp. 800.000,- per bulan, jumlah uang yang sangat sedikit menurut dia. Ketika masa perang kemerdekaan ibunya sudah meninggal, sedangkan ayahnya masih hidup. Pada masa penjajahan Jepang di Indonesia dia ditembak oleh tentara Jepang, sampai sekarang luka tembakan itu masih membekas di tubuhnya. [caption id="attachment_287959" align="aligncenter" width="300" caption="Herman de Pauw"]

13828103221704062206
13828103221704062206
[/caption] Ketika Indonesia merdeka pada tahun 1945, Herman dipenjara 2 tahun. Namun dia masih merasa beruntung karena banyak orang 'Indo' yang dibunuh oleh orang Jepang pada saat itu, tuturnya dalam bahasa Belanda yang kental dengan logat bahasa Jawa. Banyak orang 'Indo' yang pernah dipenjara oleh orang Jepang kembali ke Belanda, mereka kemudian mendapatkan bantuan finansial dari pemerintah Belanda yang jumlahnya tidak sedikit. Namun Herman tidak menerima sepersen uangpun, karena dia tetap tinggal di Indonesia dan tidak bisa membuktikan bahwa dia berkewarganegaraan Belanda. Herman merasa didiskriminasikan, karena dia tidak menerima uang pensiun atau tunjangan dari pemerintah Belanda. Winnie Masius Wanita renta yang berwajah 'Indo' di ujung sebuah gang kecil di kota Surabaya. Rumahnya sangat sempit dan hanya terdiri dari satu ruangan saja yang dia gunakan sebagai dapur, kamar tidur dan sebagainya. Dia menempati rumah reyot itu sejak tahun 1960. Di rumahnya yang kecil itu cahaya matahari tidak bisa masuk karena rumah itu tidak memiliki jendela, sehingga di dalam rumah itu gelap. Dia menjelaskan keadaannya dalam bahasa Belanda yang kental dengan logat Jawa. Sesekali dia berbicara dalam bahasa Indonesia. Menurutnya rumah kecil yang ditempatinya ini sangat panas apabila malam hari, karena tidak ada sirkulasi udara. Wanita tua yang mengidap penyakit gula dan darah tinggi ini bercerita, kalau sebenarnya semua saudaranya ada di Belanda. Mereka semua juga sudah tua dan tidak memiliki kontak lagi dengan mereka. Dia menuturkan, bawa ibunya adalah seorang Jawa yang berkebangsaan (berpaspor) Belanda dan ayahnya seorang Belanda. Ketika mereka diberi pilihan untuk pergi ke Belanda pada saat Republik Indonesia baru merdeka, ibunya tak mau pergi ke Belanda mengikuti ayahnya, karena mereka berdua sudah bercerai pada saat itu. Menurutnya, dia menyesal mengapa pada saat itu ibunya menolak diajak ke Belanda, karena orang-orang 'Indo' yang pergi ke Belanda bernasib jauh lebih baik dari pada dia. Sehari-hari Winnie membuka warung kecil di depan rumahnya. Dia menjual kopi dan gorengan-gorengan serta makanan kecil lainnya. Veronica Petronella van Gent van Schmidthamer (88 tahun) Veronica yang berumur 88 tahun ini hanya bisa tergeletak lemah di tempat tidur kecilnya. Dalam bahasa Belanda yang juga berlogat Jawa dia bercerita bahwa sebelum dia sakit dia pergi ke gereja setiap hari Minggu. Rumahnya yang sangat berdekatan dengan rel kereta api ini memang sudah permanen, namun apabila musim hujan dan banjir, genangan air akan sampai ke dalam rumahnya setinggi lutut orang dewasa. Sebenarnya dia harus dibawa ke rumah sakit dan dioperasi, namun dia tidak mempunyai uang. Dia tinggal dengan adiknya yang juga 'Indo' yang bernama Sigfreid. Sanitasi di sekitar rumah tinggal mereka juga kurang baik, karena mereka tinggal di daerah kumuh di dekar rel kereta api. Dortje Samuel (87) wanita tua renat yang buta ini masih sering memikirkan tentang negeri Belanda yang jauh di sana. Seperti kebanyakan orang 'Indo' liannya, dia juga bisa berbahasa Belanda namun dengan logat Jawa yang kental. Selain buta Daortje juga mengidap penyakit tua, dia hanya bisa tinggal di rumah petak kecilnya di kawasan perkampungan di Surabaya. Dia bercerita, ketika Indonesia merdeka, ayahnya yang berasal dari Belanda masih menetap di Indonesia, kemudian dia memutuskan untuk kembali ke negeri Belanda. Ibunya adalah wanita Jawa yang dinikahi ayahnya ketika dia bekerja di militer Hindia Belanda. Ayahnya meninggalkan mereka begitu saja. Dortje menikah dengan seorang Indonesia. Dalam kesehariannya dia berbicara bahasa Indonesia, sehingga lama-kelamaan dia lupa bahasa Belanda. Dia masih merasa bersyukur, karena dia mendapat sedikit uang pensiun dari suaminya yang telah meninggal dunia. Sekarang dia tinggal sendiri di sebuah rumah kecil dengan perabotan tua dan seadanya. Dia mempunyai 8 orang anak, namun hanya dua saja yang masih hidup. Dia masih sangat ingin pergi ke Belanda, meskipun ayahnya telah meninggalkan dia dan menikah lagi serta mempunyai dua anak. Ibunya pernah beberapa kali menulis surat ke ayahnya di Belanda, namun tidak pernah ada jawaban. Saat ayahnya meninggalkan Indonesia, Dortje mengantarkan ayahnya ke pelabuhan. Pada saat itu kapal menjadi alat transportasi dari Indonesia ke Belanda. Pesawats sangat mahal dan hanya pejabat atau orang-orang tertentu saja yang bisa membeli tiket pesawat ke Belanda. Dortje masih sering bernyanyi dalam bahasa Belanda... Usman Usman adalah anak seorang tentara Belanda dan dilahirkan pada tahun 1948 dan ibunya adalah seorang wanita Jawa. Dalam kesehariannya dia berjualan makanan kecil, minuman ringan dan rokok berkeliling mengunakan gerobak dorong kecil di kawasan Surabaya kota. Namun dia tidak lagi bisa berbahasa Belanda sama sekali. Dia juga memiliki anak, namun mereka sendiri juga miskin dan tidak bisa membantu Usman. Dia tidak mempunyai tempat tinggal, dia tidur di sembarang tempat pada malam hari. Demikian beberapa kisah orang 'Indo' yang kebanyakan orang tidak lagi mengetahui... Sumber: http://www.youtube.com/watch?v=79neW7ytJqY