Mohon tunggu...
Lailatul Usriyah
Lailatul Usriyah Mohon Tunggu... Guru - laila lahir di Banyuwangi, 16 Juli 1978 menikah dengan Ali Makrus mempunyai 3 anak bertempat tinggal di Milenia C5/15 Jember. pendidikan terakhir S3 Prodi Manajemen Pendidikan Islam di UIN K.H. Achmad Siddiq Jember tahun 2020

sebaik baik manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

KKN UIN Khas Jember Sambangi Nelayan Pancer Banyuwangi

5 Juli 2022   23:40 Diperbarui: 6 Juli 2022   00:37 88 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dusun Pancer merupakan salah satu dusun yang berada di selatan kabupaten Banyuwangi, tepatnya di Desa Sumberagung. Secara geografis letak Dusun ini berbatasan langsung dengan Samudra Hindia, sehingga mayoritas profesi warga setempat adalah sebagai nelayan.

Dokpri
Dokpri

Pada tanggal 2 Juli 2022 sebanyak 15 mahasiswa KKN dari UIN KHAS Jember yg tergabung dalam kelompok 93 melakukan wawancara dengan penduduk setempat yang di sambut dengan hangat oleh warga setempat. Salah satunya adalah bapak Santoso yang sedang memprediksi cuaca untuk berangkat melaut.

"Untuk lebih jelasnya, sebelum menuju ke Dusun Pancer ini,  terdapat sebuah tempat wisata ternama yaitu Pulau Merah. Sedangkan di sebelah selatan Dusun Pancer ini adalah Samudera Hindia. Wilayah dusun Pancer terdiri dari pemukiman warga, sedangkan disebelah utara merupakan sedikit perkebunan dan dataran tinggi." Ujar Bapak Santoso, salah satu warga setempat yang bekerja sebagai nelayan.

Dokpri
Dokpri

Mayoritas hasil mata pencaharian adalah lobster, ikan tongkol, ikan tuna, dan cumi-cumi. Sebagian hasil penangkapan tersebut di ekspor ke beberapa negara, salah satunya Malaysia. Sedangkan sebagian hasil lainnya di jual ke pasar lokal dan di konsumsi pribadi.

Hasil laut tersebut di ekspor ke beberapa negara karena dinilai lebih bernilai tinggi sehingga dapat meningkatkan pendapatan warga Dusun Pancer yang berprofesi sebagai nelayan.


Strategi pencarian menurut Bapak Ran adalah menggunakan alat pancing dan jaring dengan menggunakan umpan baby cumi karena lebih ramah lingkungan dan tidak merusak ekosistem laut. Untuk lebar jaring disesuaikan dengan perahu yang digunakan oleh nelayan.

Menurut pendapat pak Ran, sekali melaut para nelayan membutuhkan waktu 3 hingga 7 hari. Tentunya mereka melaut dengan membawa perbekalan yang cukup untuk meminimalisir resiko yang akan terjadi di tengah laut# #t.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan