Gayahidup

Review Selebriti Mikro dan Self Presentation : Analisis Konten Video Youtube Karin Novilda

14 September 2017   14:36 Diperbarui: 14 September 2017   14:51 453 0 0

SELEBRITI MIKRO DANSELF-PRESENTATION:

ANALISIS KONTEN VIDEO YOUTUBE KARIN NOVILDA

Lidwina Mutia Sadasri, SIP., MA.

Departemen Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM

lidwina.mutia@ugm.ac.id

 

Review

Eksistensi celebrated individual ini makin mudah ditemui, tak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia, eksistensi selebriti mikro memberi problematikanya tersendiri, salah satunya muncul dari akun Karin Novilda yang populer di ASK.fm, Twitter, Instagram, dan YouTube. Akun dari Karin Novilda atau @awkarin terbilang kontroversial dengan konten yang dimilikinya. Beragam media juga meliput pemilik akun tersebut untuk menggali keterangan sejumlah informasi terkait seluk beluk pengelolaan konten yang dinilai dapat membawa dampak negatif bagi anak-anak. Karena pengikut dari @awkarin paling banyak berasal dari usia kurang dari 16 tahun.

Banyak orang tua yang resah karena menganggap @awkarin atau Karin Novilda memberikan dampak buruk bagi anak-anaknya. Karin Novilda kerap memposting bagaimana kehidupan sehari-harinya, berfoto dengan memegang rokok bahkan alkohol dan gaya hidupnya yang terbilang bebas. Selain aktif di media Instagram Karin Novilda juga aktif di media Youtube. Karin Novilda memanfaatkan Youtube sebagai media untuk membagian Video Blognya, serta merilis singlenya. salah satu video

musik fenomenalnya, yakni "BADASS" sampai Bulan Maret 2017 telah ditonton sebanyak 4.120.982 kali. Analisis semiotika terhadap konten video yang diunggah Karin Novilda ditujukan untuk dapat memahami beragam tanda dan simbol yang digunakan generasi digital nativedalam menunjukkan eksistensi dirinya melalui video. Selain itu juga untuk melihat bagaimana self-presentationdirepresentasikan oleh selebriti mikro di hadapan subscribersnya, sekaligus sebagai bahan rujukan pemahaman konteks selebriti mikro yang berasal dari kalangan kaum muda.

            Dalam video yang diunggahnya, Awkarin tidak sungkan untuk mengucapkan katakata

kotor, seperti alat kelamin laki-laki atau istilah untuk berhubungan intim dalam

bahasa slang. Bahkan ia juga dengan berani menampilkan video ia tengah dicium oleh

pacarnya terdahulu -- Gaga Muhammad. Karin merilis sebuah video berjudul "Gaga's

Birthday Party and My Confession", yang disaksikan lebih dari 2,2 juta kali setelah dua

minggu dirilis (Triyono, 2016). Karin juga mengatakan bahwa di vlog-nya ada banyak

video tapi yang boomingmalahan video pengakuan itu. Beragam foto dan video yang diunggah oleh Awkarin berikut kontroversi yang

mengikutinya menimbulkan pertanyaan terkait pemaknaan konten media sosial online

yang dimilikinya. Secara spesifik, hal apakah yang sebenarnya ingin Ia tunjukkan? Atau

dalam tulisan ini, bagaimana bentuk self-presentationyang ada pada akun YouTube

miliknya? Self-presentationsebagai sebuah konsep dapat dijadikan panduan analisis sebelum sampai pada kajian identitas. Hal ini sejalan dengan yang dinyatakan oleh Ellison

(2013) bahwa selective self-presentationmerujuk pada fakta bahwa individu dapat

memilih aspek identitas mana yang akan dinyatakan dalam dunia online(Ellison, 2013:5).

            Video yang menjadi objek untuk di teliti adalah dengan judul "#KVLOG 11 --

TAHUN BARUAN DI BALI BERSAMA ANYA GERALDINE (VERI VERI

EXPLICIT)". Video Karin ini jika dibedah menjadi 87 scene,namun tidak semua scene

yang berfokus pada Karin Novilda yang menjadi fokus kajian pada riset ini. Jika dibedah

berbasis konsep self-presentationmilik Jones & Pittman (1982),mayoritas

penggambaran yang diunggah dalam potongan sceneAwkarin tersebut masuk dalam kategori exemplification,selanjutnya disusul self-promotion,dan paling sedikit

ditunjukkan adalah kategori self-handicapping.

           Dalam bagian ini hanya akan disajikan sejumlah contoh analisis scene.

1. SceneAwkarin bertemu penggemar di Bandara Jakarta (05:07)

Scene ini menampilkan Karin dan penggemar dari Makassar yang bertemu secara

tidak sengaja di bandara Jakarta. Karin sebagai sosok micro-celebritymenunjukkan sisi

popularitasnya dengan dikenal oleh kaum awam. Selain itu juga Ia menyambut hangat

penggemar dengan tidak menolak diajak berfoto bersama penggemar. Pada bagian teks yang terpampang dalam video tersebut, tertulis "yey masuk vlog

awkarin" diteruskan dengan audio anak-anak yang sedang berteriak gembira. Hal tersebut

menunjukkan sejumlah poin, diantaranya makin menjelaskan ada perbedaan posisi antara

Awkarin dan perempuan berhijab abu-abu dan berkacamata bingkai hitam tersebut, yakni

relasi selebriti dan penggemarnya. Ikut tampil dalam video yang diunggah selebriti mikro

tersebut dianggap sebagai sesuatu yang membahagiakan, atau suatu prestasi, sehingga

tepat jika diekspresikan dengan teriakan atau sorak sorai yang dimanifestasikan dalam

teks ataupun audio. Letak atau lokasi pengambilan foto pun juga impromptuatau dilakukan langsung

seketika penggemar meminta foto. Kedua partisipan tidak berpindah lokasi atau memilih

lokasi lain untuk pengambilan foto. Hal ini menunjukkan signifikansi partisipan utama,

yakni Awkarin, dibandingkan dengan atmosphereatau lingkungan lokasi tempat mereka

berfoto. Melalui analisis tersebut diperoleh pemaknaan bahwa video ini mengandung tipe

presentasi diri exemplification,yang memosisikan diri Karin sebagai sosok yang ramah

di depan penggemarnya.

2. Scene Awkarin menyebut videonya sebagai kata kunci fenomenal

(03:39).

Sceneini menunjukkan Awkarin yang telah mengenakan kacamata hitam,

membawa ponsel, berjalan menuju liftbersama teman-temannya, yakni Anya Geraldine,

Oka, dan Okky. Anya Geraldine yang juga merupakan micro-selebritydan memiliki kanal

sendiri merupakan teman Karin yang selalu diunggulkan dan disanjung olehnya. Bahkan

dalam sceneini, secara eksplisit Ia mengatakan bahwa Awkarin, Anya Geraldine, dan

Bali merupakan tiga keywordyang sangat fenomenal. Penanda yang ada pada level denotasi adalah partisipan, Karin dan Anya Geraldine

sebagai fokus utama dan berjalan beriringan. Sementara pemaknaan konotasi adalah

relasi antar micro celebrityyang terjalin diantaranya, berikut penunjukkan fokus scene

pada dirinya dan Anya sebagai diri yang signifikan. Maka dari itu petanda audiovisual

dalam bagian ini dapat dikategorikan dalam tipe presentasi diri self-promotion.

3. Awkarin dan Anya memakai "koyo" (30:59)

Dalam sceneini terlihat Karin dan Anya berinteraksi dengan saling melekatkan

"koyo". Pada scenesebelumnya ditunjukkan Karin sedang menempelkan "koyo" di

bagian tengkuk Anya. Setelah itu Anya melekatkan "koyo" di punggung Karin, seperti

terlihat dalam potongan scenedi atas. Karin sebagai sosok micro-celebritymenunjukkan

sisi lainnya ketika berteman degan Anya Geraldine. Tak hanya sisi bermain dan berjalanjalan

sepanjang pantai atau berwisata bersama teman-temannya, namun dalam sceneini

juga menunjukkan solidaritas pertemanan diantara mereka. Tidak ada teks yang terpampang pada sceneini, namun Oka, pacar Karin pada saat

itu, mengatakan secara eksplisit bahwa "Ini Karin, masangin koyo Anya Geraldine.

Indonesia harus tahu ini". Hal ini makin menunjukkan sisi popularitas kedua microcelebrity

sebagai orang populer di Indonesia. Melalui analisis tersebut diperoleh

pemaknaan bahwa potongan video ini mengandung tipe presentasi diri supplication. Di

sisi lain, narasi yang disampaikan Oka dan menjadi konten video tersebut menyatakan

sisi self-promotion.

Penanda dalam tingkat denotasi adalah partisipan Karin dan Anya yang berada

dalam posisi duduk dan berdiri. Sementara pemaknaan konotasi adalah saling bantu

dalam menolong teman sesama micro-celebrityyang kesulitan. Maka dari itu petanda

audiovisual yang diperoleh adalah bentuk presentasi diri Karin yang membiarkan dirinya

terlihat tidak mampu melekatkan obat secara mandiri sehingga mendapat bantuan dari

Anya Geraldine atau supplication.

           Temuan tersebut membuktikan bahwa meski micro-celebrity,dalam hal ini

Awkarin sebagai fokus dalam konten video YouTube yang diunggahnya, memiliki fokus

dalam bisnis atau menjadikan dirinya dan nilai popularitasnya sebagai komoditas yang dapat mendongkrak usahanya di dunia online,ternyata tipe self-promotiontidak muncul

se-intens exemplification.Meski demikian, semua tipe self-presentationyang dapat

teridentifikasi menunjukkan signifikansi permainan peran yang perlu dibangun seseorang

untuk dapat diterima oleh audiensnya, seperti yang dinyatakan Goffman. Pada tataran dinamika media, budaya, dan masyarakat, kajian ini menunjukkan

potongan fenomena yang terjadi dikarenakan relasi perilaku manusia dengan media baru.

Konsep diri micro-celebritysebagai sosok yang dipopulerkan oleh media baru, dan

kembali ingin ditunjukkan melalui media baru menjadi makin beragam bentuknya dan

makin sulit jika dipilah. Meski demikian, temuan ini makin menandaskan bahwa identitas

diri yang salah satunya dibangun melalui konsep self-presentationbukanlah sesuatu yang

statis, melainkan dinamis, dan juga mendapatkan pengaruh dari kehadiran media baru.