Kuncoro Maskuri
Kuncoro Maskuri Freelancer di Pendidikan

Pembelajar Bahasa/Linguistik, Sosial Budaya, Pendidikan, dan Keagamaan. (email: dibyomaskuri@gmail.com)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Mengapa Kita Masih Sering Memakai Istilah Asing?

13 Maret 2018   10:35 Diperbarui: 13 Maret 2018   17:58 1461 11 5
Mengapa Kita Masih Sering Memakai Istilah Asing?
hellosehat.com

Dalam praktik berbahasa di tengah-tengah masyarakat acap kali kita jumpai individu ataupun kelompok menggunakan istilah-istilah asing atau dicampur dengan bahasa Indonesia untuk menyebutkan atau menamakan sesuatu. Istilah-istilah asing yang paling sering digunakan oleh masyarakat adalah dalam bahasa Inggris.  

Dan kira-kira mulai awal tahun 2000an masyarakat luas mulai sering juga menggunakan bahasa Arab. Gejala pemakaian bahasa asing ini bisa dijumpai di tempat-tempat umum di sekitar kita. Toko-toko, kantor-kantor atau fasilitas umum lainnya lebih sering mengggunakan bahasa Inggris/Arab untuk menunjukkan identitas tempatnya misalnya: Fashion Village, Diamond Residence, Solo Grand Mall, Matahari Department Store, Madu Al-Ghuraba, Toko Hijab Latifahdan lain-lain. 

Selain menggunakan kata-kata asing untuk menunjukkan tempat, masyarakat juga sering menggunakan kata-kata dalam bahasa Inggris untuk menunjukkan suatu produk, peristiwa atau kegiatan. Biasanya ini dilakukan oleh perusahaan-perusahaan, organisasi-organisasi kemasyarakatan, perkumpulan remaja/mahasiswa, bahkan juga instansi-instansi pemerintah, dan  lain-lain. 

Misalnya untuk menyebutkan peristiwa pemberian potongan harga besar-besaran, sebuah toko menggunakan istilah Great Sale, Gigantic Sale, atau Anniversary Sale. Contoh lain lagi, sebuah perkumpulan anak-anak muda menyebut K-Pop Night untuk menggambarkan sebuah kegiatan budaya/seni popular Korea yang diselenggarakan di malam hari, dan masih banyak lagi contoh yang lain.

Penggunaan kata-kata asing tidak hanya terjadi di dalam ragam bahasa tulis seperti di atas, terjadi juga dalam ragam bahasa lisan. Di kalangan anak muda ketika sedang bercakap-cakap dengan temannya bisa kita dengar tuturan-tuturan, misalnya: 'Lagi gak mood nih, males ikutan outbound' , 'Boring di rumah terus, yuk hang-out', 'Weekend di rumah saja', dan lain-lain. 

Di kalangan orang dewasa misalnya di kantor-kantor sering kita dengar ujaran-ujaran seperti: 'Acara meeting hari ini di-postpone sampai minggu depan' , 'Kapan launching produk baru dilakukan?, 'Budget marketing tahun ini meningkat', dan sebagainya. Kata-kata dalam bahasa Inggris seperti mood, outbound, boring, hang out, meeting, postpone, launching, budget, dan marketing sudah cukup akrab di telinga kita, bahkan cenderung meng-Indonesia.

Penggunaan kata-kata asing dicampur dengan bahasa Indonesia baik secara tulis maupun lisan  menunjukkan sebuah praktik kedwibahasaan yang terjadi di masyarakat, ini suatu gejala berbahasa yang sangat sulit dihindari. Hal ini mengingat semakin banyaknya istilah-istilah/kata-kata bahasa Inggris yang dikenali oleh masyarakat yang salah satunya diakibatkan oleh kemajuan pesat dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi. Sehingga ketika mereka melakukan percakapan akan menggunakan kata-kata asing  yang diketahuinya untuk maksud-maksud tertentu, inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa kata-kata asing lebih dipilih oleh mereka. 

Alasan-alasan penggunaan kata-kata asing dalam berkomunikasi/berbahasa terkait erat dengan fungsi bahasa. Menurut gagasan popper (1972), fungsi bahasa tidak melulu untuk menyampaikan keterangan/informasi kepada orang lain (fungsi informatif), ini fungsi yang paling umum dikenal masyarakat; ada fungsi ekspresif  yaitu untuk mengungkapkan keadaan-keadaan internal (perasaan dan pikiran) individu seperti dalam puisi, syair lagu, percakapan antar teman, percakapan antara psikolog dengan klien,  cerpen, dan lai-lain; ada fungsi deskripitif, yaitu untuk memaparkan suatu objek/benda-benda dalam  dunia eksternal: dan ada fungsi argumentatif, yaitu bahasa digunakan untuk menyajikan dan menilai alasan-alasan atau penjelasan, seperti dalam penulisan artikel ilmiah, skripsi, tesis, jurnal ilmiah, dan lain-lain.  

Dalam penerapannya, khususnya ketika berbahasa/berkomunikasi secara lisan, fungsi-fungsi di atas seringkali muncul secara bersamaan/terpadu. Namun seringkali ketika seseorang berbahasa/berkomunikasi ada motif, niat, atau maksud tertentu yang ingin dicapai misalnya untuk mendapatkan pengakuan/anggapan bahwa dia, misalnya, orang yang nasionalis, relijius, rendah hati, berkekuaasaan besar, sosiawan, lebih pandai, lebih penting, dan lain-lain. 

Dan untuk mewujudkan atau merealisasikan maksud tersebut dilakukan dengan cara-cara tertentu. Cara-cara ini merupakan suatu unsur di luar kebahasaan, misalnya dilakukan dengan cara membujuk, memuji, menyindir, memohon, mengajak, mengancam, mengintimidasi, memerintah, santun berbahasa dan sebagainya. Dengan mengenali fungsi-fungsi bahasa dan cara-cara mengungkapkan suatu maksud pembicaraan diharapkan akan bisa mengetahui alasan kenapa seseorang menggunakan campuran bahasa asing dengan bahasa lokal ketika bercakap-cakap.

Gejala berbahasa/bekomunikasi campuran bahasa Indonesia dan bahasa asing memang sulit dihindari, namun alangkah bijaknya bila memang apa yang ingin kita ucapkan (kata-kata) ada bahasa Indonesianya sebaiknya ya menggunakan bahasa Indonesia. Ini bukan sekedar untuk menunjukkan kecintaan atau kebanggaan berbahasa Indonesia. Lebih dari itu ini adalah satu upaya merawat/menjaga keberedaan dan martabat budaya bangsa sekaligus menunjukkan kuatnya karakter bangsa Indonesia sehingga akar budaya sendiri tidak tercabut.

(solo2113032018).