Mohon tunggu...
KSM Defensia
KSM Defensia Mohon Tunggu... Lainnya - Kelompok Studi Mahasiswa Defensia

KSM DEFENSIA merupakan sebuah kelompok studi yang didirikan sejak 14 Desember 2003 oleh mahasiswa hubungan internasional UPN Veteran Yogyakarta. Fokus kajian dalam kelompok studi ini adalah mengenai pertahanan dan keamanan internasional.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Upaya Denuklirisasi Korea Utara Masa Pemerintahan Joe Biden melalui Kerjasama Pertahanan AS-Korea Selatan

30 September 2022   14:23 Diperbarui: 30 September 2022   14:28 158 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Oleh Nobelia Salma

Ancaman terhadap keamanan di kawasan Asia Timur semakin meningkat sejak Korea Utara melakukan uji coba rudal secara reguler sebagai bagian dari program pengembangan senjatanya. Pyongyang telah melakukan serangkaian tes yang dirancang untuk mendiversifikasi dan memperluas persenjataannya dengan berbagai sistem rudal baru, sebagai bagian dari rencana lima tahun pemimpin Kim Jong Un untuk memperluas diversifikasi persenjataan nuklir nya. Diversifikasi persenjataan nuklir tersebut tidak hanya memungkinkan senjata tersebut menjangkau negara-negara di Kawasan Asia Timur, tetapi juga negara Amerika Serikat. Beberapa senjata tersebut misalnya Hwasong -14 Korea Utara memiliki potensi jangkauan 8.000 km, meskipun beberapa penelitian berpendapatan bahwa senjata tersebut dapat melakukan perjalanan sejauh 10.000 km jika ditembakkan pada lintasan maksimum. Dengan kemampuan untuk menempuh jarak tersebut, senjata rudal ini akan menjadi rudal balistik antar benua pertama milik Pyongyang yang mampu mencapai New York. Adapun rudal Hwasong-15 yang diyakini memiliki jangkauan hingga 13.000 km. Jangkauan tersebut juga memungkinkan rudal untuk mencapai Amerika Serikat. Tidak hanya itu, pada uji penembakan misil yang dilakukan pada 28 September 2021, Korea Utara mengklaim bahwa telah berhasil menguji coba rudal hipersonik baru yang disebut Hwasong-8. Rudal tersebut berpotensi menjadi salah satu senjata tercepat dan paling akurat serta dapat dilengkapi dengan hulu ledak nuklir. 

Meskipun berbagai upaya denuklirisasi melalui jalur diplomasi hingga penerapan sanksi dari Dewan Keamanan PBB telah dilakukan, Korea Utara masih terus melanjutkan program nuklirnya untuk menjamin keamanan rezim serta meningkatkan pengaruhnya dalam dinamika hubungan internasional. Hal ini menjadi tantangan bagi kebijakan luar negeri AS pada masa Joe Biden. Sejak terpilihnya Presiden AS ke-64 itu, pemerintahan Joe Biden harus mewarisi berbagai dampak dari kebijakan luar negeri Trump dalam upaya denuklirisasi Korea yang cenderung menerapkan pendekatan diplomasi yang tidak konvensional dengan membuat konsesi yang tidak tepat untuk Korea Utara dan hanya berhasil mencapai beberapa pencapaian dalam masalah denuklirisasi. Selain itu, pemerintahan Joe Biden juga berupaya mengembalikan AS yang menarik diri dari beberapa aliansi pada masa pemerintahan Donald Trump.

Korea Selatan telah berulang kali terkena dampak kebijakan luar negeri pemerintahan Donald Trump terhadap aliansi. Selama menjabat, Trump mempertanyakan nilai dari aliansi tersebut dan menyarankan agar sekutu seperti Korea Selatan dan Jepang melindungi diri mereka sendiri dengan mengembangkan senjata nuklir mereka sendiri. Selanjutnya, pemerintahan Trump juga menerapkan pendekatan transaksionalnya terhadap aliansi dengan menuntut peningkatan sebesar 150 persen atau setara $1,2 miliar per tahun terhadap Korea Selatan untuk mempertahankan kehadiran militer AS di Semenanjung Korea. Selama empat tahun terakhir, penghinaan Presiden AS Donald Trump terhadap aliansi AS-Korea Selatan telah merusak kemitraan dan menyebabkan kesenjangan kepercayaan yang lebar antara kedua belah pihak. 

Di sisi lain, upaya denuklirisasi Korea Utara pada masa Joe Biden menerapkan pendekatan praktis dan terkalibrasi yang terbuka untuk melakukan diplomasi dengan Korea Utara. Dalam pidatonya di sesi gabungan Kongres yang menandai seratus hari pertamanya menjabat bulan lalu, Presiden AS Joe Biden menggambarkan kebijakan Korea Utaranya sebagai kombinasi dari diplomasi serta tindakan pencegahan yang keras. Strategi tersebut merupakan kombinasi dari strategi yang diterapkan oleh Presiden Barak Obaa dan strategi oleh Presiden Donald Trump. Selanjutnya berdasarkan pernyataan  Sekretaris Jen Psaki, strategi tersebut juga akan berfokus pada membangun kembali kemitraan AS dengan Jepang dan Korea Selatan yang sempat dipertanyakan nilainya pada masa pemerintahan Donald Trump. Dalam hal membangun kembali hubungan AS dengan aliansinya, Presiden Joe Biden Biden mengeluarkan kesepakatan bersama dengan Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol pada kunjungan pertamanya ke Asia sejak menjadi presiden pada Januari tahun 2021. Kedua Presiden berpendapat bahwa tindakan uji misil Korea Utara dalam beberapa waktu terakhir menimbulkan kekhawatiran. Mengingat potensi masih munculnya ancaman nuklir Korea Utara, kedua pihak juga berdiskusi untuk memperluas cakupan kerjasama pertahanan dan mengadakan latihan militer gabungan di sekitar Semenanjung Korea. AS juga menegaskan kembali komitmennya untuk tetap mengerahkan aset militer strategis AS di Semenanjung Korea. Meskipun kesepakatan tersebut cenderung berorientasi untuk meningkatkan deterrence AS dan Korea Selatan terhadap Korea Utara, aliansi AS-Korea Selatan tetap berkomitmen untuk membuka lebar pintu menuju dialog dengan Korea Utara Presiden Yoon menguraikan visinya untuk menormalkan hubungan antar-Korea melalui rencana berani yang ditujukan untuk semenanjung Korea yang denuklirisasi dan makmur dan Presiden Biden menyatakan dukungannya untuk kerja sama antar-Korea. Kedua pemimpin menggarisbawahi pentingnya kerjasama trilateral Korea Selatan-AS-Jepang untuk menjawab tantangan nuklir Korea Utara, melindungi keamanan dan kemakmuran bersama, menegakkan nilai-nilai bersama, dan memperkuat tatanan internasional berbasis aturan.

DAFTAR PUSTAKA

Grabowski, Marcin. “Joe Biden’s Strategy in the Asia-Pacific Region: Change or Continuity. A Comparative Analysis.” Polish Political science Yearbook 50 (2021): 1–11. Accessed May 30, 2022. www.czasopisma.marszalek.com.pl/10-15804/ppsy.

Park, Sulgiye, Terry McNulty, Allison Puccioni, and Rodney C. Ewing. “Assessing Uranium Ore Processing Activities Using Satellite Imagery at Pyongsan in the Democratic People’s Republic of Korea.” Science and Global Security 29, no. 3 (2021): 111–144.

“As Biden Sets Sights on Asia, New South Korea Leader Awaits with Open Arms.” Accessed May 30, 2022. https://www.newsweek.com/biden-sets-sights-asia-new-south-korea-leader-awaits-open-arms-1707943.

“Biden, Yoon Embrace Policy of North Korea Denuclearization Backed by Deterrence, Not Concessions.” Accessed May 30, 2022. https://www.voanews.com/a/biden-yoon-embrace-policy-of-north-korea-denuclearization-backed-by-deterrence-not-concessions/6588368.html.

“North Korea: What We Know about Its Missile and Nuclear Programme - BBC News.” Accessed May 30, 2022. https://www.bbc.com/news/world-asia-41174689.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan