Mohon tunggu...
Kristogonus Tadeus
Kristogonus Tadeus Mohon Tunggu... mencitai kebijkasanaan

kristo

Selanjutnya

Tutup

Bola

Diego Maradona, Bagiku Hanyalah Seorang Pecundang

30 November 2020   06:09 Diperbarui: 30 November 2020   07:07 32 1 0 Mohon Tunggu...

Saking terkenal seorang Maradona saya tidak lagi persis ingat kapan saya pertama kali mengenalinya. Sejak saya masih kanak kanak nama Maradona sudah populer. Permainan sepak bola adalah permainan favorit masa itu. Nama Maradona sering disebut. Walau saya dan anak anak seusia saya saat itu tidak pernah menyaksikan kepiawaian sang legendaris mengolah si kulit bundar.  Maklum tv adalah barang mewah dan langka bagi kami jaman itu.

Saya pribadi hanya sekali saja menyaksikan langsung Maradona bermain ketika piala dunia 1994. Niat untuk melihat lebih banyak penampilan harus terhenti karena Maradona ketahuan menggunakan doping di babak penyisihan. Seingat saya sejak peristiwa itu, Maradona memutuskan kan tuk tidak lagi "merumput". Maradona memilih aktif di dunia sepak bola dari "pinggir" lapangan entah sebagai pelatih atau pun pengamat.  

Seingat ku juga Maradona belum pernah menorehkan prestasi gemilang dalam karyanya sebagai pelatih. Malah kasusnya yang tersandung narkoba lah yang sering mencuat ke permukaan. Saya tidak menemukan sisi lain dari seorang Maradona yang dapat memberikan inspiratif.

Ketika sang legendaris menghembuskan nafas terakhirnya 25 November lalu, saya tidak menemukan berita yang mengupas sisi lain dari seorang Maradona. Maradona hanyalah seorang pemain sepakbola fenomenal. Tidak lebih.

Saya pribadi heran sekaligus miris, kenapa ya orang melihat hanya dari satu sisi, tidak dari sisi lain. Media media nasional khususnya di negara sebagai panggung sepak bola mengungkapkan kehilangannya. Ingatan media hanya tertuju pada kelihaian dalam di lapangan hijau.

Terlebih dari negara asalnya Argentina menjadi hari berkabung nasional. Padahal dari beberapa media saya baca, Maradona kurang menunjukkan sikapnya sebagai seorang beriman katolik. Beberapa kali dia melontarkan kritik kepada gereja Katolik hanya karena persoalan sepele.

Bagi saya, tidak semua orang bisa mengikuti jejak Maradona di lapangan hijau. Tetapi semua orang termasuk Maradona bisa melakukan karya karya kemanusiaan. Dengan kepopuleran yang dimiliki nya, orang dengan mudah meniru bahkan meneladaninya. Saya berharap seandainya Maradona berpikir bahwa orang tidak hanya sekedar fans kepadanya tetapi mau meneladaninya. Dan itu tidak mungkin melalui bola tetapi dari sikap dan karya. Sepertinya hal ini yang tidak saya temukan dari seorang Maradona.

Saya jadi teringat gelar "tangan Tuhan" yang disematkan padanya. Maradona seakan merasa berhasil mengelabui dan membohongi dunia berkat aksinya itu. Bagi penggemar fanatiknya, aksi "tangan Tuhan" seolah olah menjadi kelebihan yang harus dikenang dan dipuja puji. Pada hal itu adalah sebuah kecurangan yang mesti dikritik bila perlu diadili.

Bagiku, aksi "tangan Tuhan" telah menodai keindahan sepak bola. Dan yang lebih dari itu menodai nilai nilai kejujuran. Maradona tetaplah Maradona. Semua orang boleh berpendapat tentangnya termasuk saya. Bagiku Maradona adalah pecundang.

VIDEO PILIHAN