Josua Simatupang
Josua Simatupang pelajar/mahasiswa

Student | Indonesian Literature | Ikatan Keluarga Pejuang | Writer, traveller, food hunter | Avanza Xenia Indonesia Club | Kawasaki Ninja Club https://www.facebook.com/simatupang.josua

Selanjutnya

Tutup

Jakarta

Henk Ngantung: Korban 1965 yang Terlupakan

20 April 2016   21:09 Diperbarui: 20 April 2016   21:11 431 1 1

[caption caption="Sesuai arah jarum jam: Henk menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Henk melukis, Henk angkat sumpah sebagai Gubernur DKI Jakarta, Henk bersama Presiden Soekarno"][/caption]Henk Ngantung, nama ini mungkin pernah terdengar namun kurang fenomenal. Nama lengkapnya adalah Hendrik Hermanus Joel Ngantung, merupakan seorang Wakil Gubernur DKI Jakarta tahun 1960-1964 dan Gubernur DKI Jakarta tahun 1964-1965 era Presiden Soekarno. Pria kelahiran Manado, 1 Maret 1921 adalah Gubernur DKI Jakarta non Muslim pertama. Sebelum menjadi seorang Wakil Gubernur, Henk di angkat Presiden Soekarno sebagai Deputi Gubernur di bawah Presiden Soekarno. Kesehariannya, beliau adalah seorang pelukis tanpa pendidikan formal, mendirikan Gelanggang bersama Chairil Anwar dan Asrul Sani. Henk memiliki satu orang istri bernama Hetty Evelyn Ngantung Mamesah dan empat orang anak yaitu Maya Ngantung, Genie Ngantung, Kamang Ngantung, dan Karno Ngantung.

Pada masa jabatannya di DKI Jakarta, baik Wakil Gubernur DKI Jakarta, Henk diharapkan oleh Presiden Soekarno menjadikan Jakarta sebagai kota budaya. Pada tahun 1962 Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games ke empat, Presiden Soekarno mempunyai gagasan untuk membangun sebuah monumen atau tugu di Jakarta, tentunya dengan alasan menyambut atlet-atlet yang berkunjung ke Indonesia. Ditetapkanlah posisi di depan Hotel Indonesia, tempat ini di pilih karena atlet-atlet akan menginap di hotel tersebut. Selain itu, alasan lainnya adalah dekat dengan kompleks Gelora Bung Karno (IKADA pada masa itu) yang berada di Senayan. Stadion Gelora Bung Karno pada saat itu merupakan stadion terbesar di Asia Tenggara. Bundaran Hotel Indonesia dengan Tugu Selamat Datang di buat tepat di depan Hotel Indonesia dan menjadi bundaran besar di antara empat jalan protokol. Tempat ini menjadi posisi strategis bagi Indonesia yang menjadikannya icon kepada dunia Internasional. Tugu tersebut dikerjakan oleh Henk ketika menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Pembuatan tugu ini memakan waktu satu tahun dan diresmikan Presiden Soekarno pada tahun 1962.

Karya lainnya Henk adalah membuat lambang DKI Jakarta dan KOSTRAD (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat) yang sayangnya hingga saat ini pemerintah tidak mengakuinya. Hal ini dikarenakan Henk dicap sebagai pengikut Partai Komunis Indonesia, sehingga pemerintah seolah mencoba mengapus namanya dari sejarah Indonesia. Henk menyelesaikan masa jabatannya pada tahun 1965, sepertinya ada indikasi bahwa Henk juga merupakan korban dari tragedi 1965. Polemik PKI sebagai musuh bangsa membuatnya kesulitan, namun ia tidak pernah dipenjarakan, disidang, dan diadili hingga akhir hayatnya.

Setelah turun dari jabatannya, Henk seperti dilupakan, dirinya menderita penyakit jantung dan glaukoma yang menjadika mata kanannya buta dan mata kirinya hanya berfungsi 30 persen saja. Keterpurukannya tidak hanya sampai di situ, Henk harus jatuh miskin dengan menjual rumah lamanya dan pindah ke Jalan Waru, Cawang, Jakarta Timur. Jalan Waru merupakan gang sempit, namun rumah Henk termasuk cukup luas untuk gang tersebut.

Kecintaannya terhadap dunia seni lukis terus dilakoninya hingga tutup usia, salah satu karya lukisnya yaitu Ibu dan Anak yang menjadi karya terakhir di masa hidupnya. Akhir 1980-an, ia melukis dengan wajah yang hampir melekat pada kanvas lukisnya dan harus menggunakan kaca pembesar. Sebelum wafat, pengusaha Ciputra memberikan sponsor kepada Henk untuk mengadakan pameran lukis pertama dan terakhir Henk selama hidupnya. Henk wafat pada 12 Desember 1991 dalam usia 70 tahun karena penyakit jantungnya. Hingga kini informasi mengenai Henk hanya sedikit, sejarah cukup membatasi informasi mengenai Henk. Henk hanya dikenal sebagai Gubernur DKI Jakarta ke tujuh.