Mohon tunggu...
Kristianto Naku
Kristianto Naku Mohon Tunggu... Penulis Daring

Penulis Daring dan Blogger. Aktif menulis di blog pribadi, jurnal ilmiah, majalah, surat kabar harian, dan menjadi editor majalah dan jurnal ilmiah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Minggu Paskah VII: Jangan Lupa Berdoa

16 Mei 2021   08:54 Diperbarui: 16 Mei 2021   08:57 78 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Minggu Paskah VII: Jangan Lupa Berdoa
Pertapaan Sungai Kerik. Foto: Dok. Pribadi Kristianto Naku.

Ia menutup perjumpaan kali ini dengan sebuah closing statement. "Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat!" Kata-kata bernada harapan, tentunya untuk kami para murid-Nya. Tak hanya itu, Ia juga menjanjikan sesuatu untuk perjumpaan Minggu depan. Mungkin Roh Kudus. Iya, mungkin.

Kami sangat khusyuk dan hening ketika Ia menengadah ke langit dan berdoa. Ia mengumpulkan kami dan memohon belas kasih dari Bapa-Nya. Dalam doa-Nya, Ia menyampaikan permohonan ini: "Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita."

Aku tetap memejamkan mata sambil dengan jeli menyimak doa persekutuan itu kata demi kata. Ia kemudian melanjutkan permohonan-Nya. "Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku. Aku telah menjaga mereka, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa, selain dia yang ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci."

Kisah ini terjadi pasca peristiwa kebangkitan-Nya. Aku ingat betul bagaimana Ia mempersilahkan kami satu per satu untuk menyampaikan keluh kesah sebagai pengikut. Kami diminta berkumpul di luar Yerusalem. Kami mengambil jarak dari Yerusalem karena kota itu kini tak lagi nyaman untuk dihuni. Di sana ada Petrus sebagai ketua umum, ada Yohanes, ada Maria ibu-Nya, dan ada Maria Magdalena. Orang-orang yang saya sebutkan ini adalah kincir penggerak di balik pelayanan kami.

Pasca kebangkitan, Ia memang kerap kali membuat kelas-kelas khusus untuk para kami murid-Nya. Kadang kelas ini dibuat pagi hari, sore, maupun malam. Kontennya beragam. Satu Minggu yang lalu, kami sempat berbicara mengenai kasih. Tema ini sangat dekat dengan kehidupan kami. Saya sendiri merasa dibantu dan dikuatkan melalui Sabda-Nya. Dia bahkan meyakinkan kami semua sebelum selesai kelas mengenai ideal tindakan kasih. "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya."

Di antara kami, salah seorang murid sudah tak lagi bergabung. Ia memang tak dikeluarkan dari komunitas kami. Akan tetapi, ia sendiri merasa bersalah dan menarik diri dari bilangan komunitas. Menurut Petrus, kami harus menambahkan salah satu anggota yang baru. Kami harus menutup angka sebelas agar sempurna seperti sediakala. Kami mengusulkan dua nama, diantaranya Yusuf yang disebut Barsabas dan juga bernama Yustus dan Matias. Untuk kandidat baru itu, kami berdoa seperti yang pernah dicontohi-Nya saat ada bersama.

"Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang. Tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah jatuh ke tempat yang wajar baginya."

Usai berdoa bersama, kami membuang undi. Yang kena justru Matias. Dengan demikian, Matias dimasukkan ke dalam bilangan kesebelas rasul. Petrus memberi kesempatan kepada Matias untuk menyampaikan isi hatinya. Menurut Matias, kepengikutan itu tak hanya soal formasi lahiriah dan pengetahuan. Formasi lain yang tak kalah penting adalah formasi iman-spiritual. Dan, pendalaman iman-spiritual ini diupayakan melalui doa bersama.

Selama dua jam, kami mendengarkan doa-Nya. Betapa kasih seorang Guru benar-benar merangkul dan tak berhenti mendampingi. Bahkan, menurut Dia, relasi kami tetap dibangun jika kami saling menyisipkan doa khusus untuk setiap anggota komunitas. Komunikasi intim bersama-Nya adalah doa. Melalui doa, kami pun dipersatukan dan menanti dikuasai Roh Kudus. Perjumpaan kami berakhir sekitar pukul 11.00 WITA.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x