Mohon tunggu...
Kompasiana News
Kompasiana News Mohon Tunggu... Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana: Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Polemik Kalung Antivirus hingga Pengalaman Perpanjang SIM saat Pandemi

12 Juli 2020   04:25 Diperbarui: 12 Juli 2020   04:27 1363 16 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Polemik Kalung Antivirus hingga Pengalaman Perpanjang SIM saat Pandemi
Ilustrasi eucalyptus (SHUTTERSTOCK/J.CHIZHE via kompas.com)

Benar-benar mengejutkan ketika Kementerian Pertanian (Kementan) berencana memproduksi massal kalung antivirus corona (Covid-19). Kalung tersebut dibuat dari tanaman eucalyptus, antivirus yang dipercaya bisa ampuh mematikan virus corona.

Hal tersebut, tentu saja, sontak menjadi perbincangan warganet. Sebab, kalung itu diklaim sudah teruji di laboratorium Balitbangtan.

Kemudian banyak yang mempertanyakan, seperti apakah kalung ini benar-benar bisa digunakan hingga membandingkan kalung eucalyptus tadi alangkah baiknnya digunakan dalam bentuk minyak.

Bagaimana sebenarnya penelitian yang dilakukan Kementan terkait kalung antivirus?

Selain polemik yang terjadi perihal kalung antivirus, masih ada konten menarik lainnya seperti cerita mengurus SIM saat pandemi hingga kisah guru honorer di kampung terpencil.

Inilah 5 konten menarik dan terpopuler di Kompasiana dalam sepekan:

1. Kalung Antivirus Corona dan Apatisme Publik

Netizen heboh. Semua gara-gara Kalung Antivirus Corona. Dari 700 jenis eukaliptus, katanya, pohon kayu putih, ada satu jenis yang bisa mematikan virus corona.

Andai Kavirna benar-benar moncer bin mujarab bin manjur, menurut Kompasianer Khrisna Pabichara sebagaimana klaim Menteri Pertanian, setidaknya pada September 2020 nanti Indonesia sudah merdeka dari cengkeraman virus corona.

Apalagi setelah niat untuk memproduksi massal kalung tersebut, sontak memicu ragam kritik sampai olok-olok masyarakat.

"Yang penting kita tangkap esensinya: apatisme publik, bisa juga disebut ketidakpercayaan publik, merupakan buah dari pohon yang ditanam sendiri oleh pejabat publik," tulis Kompasianer Khrisna Pabichara. (Baca selengkapnya)

2. Financial Freedom, Benarkah Ajaran Ini?

Seseorang baru bisa dianggap memiliki kebebasan secara finansial itu ketika mencapai pada suatu keadaan tertentu dan sudah terbebas dengan keuangannya karena seluruh kebutuhan hidup dapat ditanggung oleh aset yang dimilikinya tanpa harus bekerja.

Bahkan, tulis Kompasianer Kris Banarto, ada seorang pengusaha dan motivator kondang yang mengatakan orang disebut telah mencapai kebebasan finansial apabila seluruh kebutuhan hidup keluarganya dari bunga melalui bunga yang diperoleh dari aset atau simpanan yang ia miliki.

Sayangnya banyak yang keliru atas hal tersebut sehingga kerap kali tidak benar untuk mencapai kebebasan finansial tersebut.

"Finacial freedom bukan suatu keadaan atau kondisi, tetapi perspektif mengenai uang agar tidak terjerat olehnya dan hidup dalam kebebasan keuangan," lanjutnya. (Baca selengkapnya)

3. Pengalaman Mengurus Perpanjangan SIM di Masa Pandemi

Selama pandemi ini, meski kita diminta untuk tidak keluar rumah, tetapi selalu ada saja hal-hal yang mesti diurus seperti memperpanjang SIM (Surat Izin Mengemudi).

Kebetulan sekali Kompasianer Meirri Alfianto belum lama ini sudah habis masa berlakunya pada 21 Mei 2020.

Setelah layanan SIM kembali dibuka, tulisnya, orang berbondong-bondong menyerbu kantor-kantor pembuatan SIM baik di gerai-gerai SIM maupun Satpas SIM di Polres.

"Akhirnya saya memutuskan untuk mengurus SIM di Satpas Pembantu SIM Rajeg, Kabupaten Tangerang. Sudah sejak pukul 6 pagi saya sudah merapat," lanjutnya, mengisahkan pengalaman mengurus perpanjang SIM. (Baca selengkapnya)

4. Kisah Sedih Guru Honorer di Kampung Terpencil

Hanya seorang Ibu guru yang berjuang menaklukan enam kelas. Kelas satu hingga kelas enam, dengan murid-murid yang hampir semua hiperaktif, maklum mereka adalah anak-anak kecil, dunia bermain adalah keseharian mereka.

Memang agak rumit masalahnya untuk guru honorer yang bertugas di distrik-distrik terpencil (Kecamatan) di Papua.

Untungnya, tulis KOmpasianer Andi R Rumbiak, anak didik di sini cukup baik, mereka sering mengantarkan hasil kebun dan beberapa ikat kayu bakar untuk memasak tiap hari.

"Pada akhirnya sebagian guru yang bertahan di kampung ini menjadi sangat akrab, senasib sepenanggungan. Mereka saling membantu dalam keterbatasan mereka," lanjutnya. (Baca selengkapnya)

5. Apakah Cowok Ganteng Masih Menarik di Zaman Ini?

Seseorang yang tinggi dalam sapiosexuality mungkin lebih suka pasangan IQ yang sangat tinggi dan semakin tinggi akan semakin baik dan menarik bagi individu tersebut.

Hal itu bisa dibenarkan, pasalnya menurut Kompasianer Cindy Carneta, ketika pasangan itu memiliki daya tarik fisik atau keterampilan sosial yang lebih rendah daripada pasangan potensial kecerdasan rata-rata lainnya.

Di sisi yang berlawanan, lanjutnya, individu lain dengan sapiosexuality yang lebih rendah cenderung akan lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar mereka pada sifat-sifat lain pada pasangan terlebih dahulu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x