Kompasiana News
Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Mulai Bekali Diri dengan Infomasi Kebencanaan Sedini Mungkin

21 Februari 2019   23:01 Diperbarui: 21 Februari 2019   22:58 18 1 0
Mulai Bekali Diri dengan Infomasi Kebencanaan Sedini Mungkin
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Mulyado, memberikan pembekalan kebencanaan bersama dengan 6 ahli bencana lainnya pada Kamis, (21/02/2019) di Gedung Graha BNPB. (Foto: Pavel/Kompasiana)

Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Mulyado, memberikan pembekalan kebencanaan bersama dengan 6 ahli bencana lainnya pada Kamis, (21/02/2019) di Gedung Graha BNPB. Hal ini dilakukan untuk memberikan informasi kepada masyarakat, khususnya media, tentang potensi kebencanaan di wilayah Indonesia.

"Tangguh saja tidak cukup, jika tidak diberikan informasi" ujar Doni dalam pembukaan konfrensi pers tadi pagi.

Doni juga mengatakan bahwa perlunya pembekalan informasi bencana kepada masyarakat sehingga ia membutuhkan media untuk menyebarkan informasi agar masyarakat harus selalu siap dan sigap dalam menghadapi bencana.

Bersama dengan Dr. Danny Hilman (Potensi Bencana Gempabumi), Dr. Widjo Kongko (Potensi Bencana Tsunami), Ir. Kasbani (Potensi Bencana Gunungapi), Ir. Ridwan Yunus (Penggunaan InaRisk), R. Hadianto (Latihan Perlindungan Diri dari Ancaman Bencana) masing-masing memberi bekal potensi-potensi bencana yang sedang melanda Indonesia.

Menurut UU Nomor 24 Tahun 2007, bencana di Indonesia memiliki 3 sumber, yakni penyebab manusia, penyebab non-alam, dan penyebab alam.

Di Indonesia, bencana-bencana ini telah memakan 4.814 korban jiwa per tahun 2018, 3.475 diantaranya meninggal dan hilang karena gempa dan tsumami.

Doni mengatakan, bahwa banyaknya korban saat bencana ini dikarenakan kurangnya informasi para masyarakat tentang bencana di Indonesia. Masyarakat kurang mendapatkan edukasi tentang penanggulanan bencana, dan simulasi bencana di daerah mereka.

"Yang tidak diketahui mayarakat adalah kita hidup di atas patahan lempeng dan di sekitar cincin api. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat Indonesia untuk bisa memahami keberadaan setiap daerah tertentu sangat mungkin mengandung resiko." ujar Doni.

Jokowi pernah mengatakan, "Lakukan edukasi kebencanaan. Tahun ini harus dimulai. Terutama di daerah rawan bencana," pada pembukaan Rapat Koordinasi Nasional 2019 Penanggulanan Bancana di Surabaya, Sabtu (2/2/2019).

Data Sumber Bencana di Indonesia. (Foto: Pavel/Kompasiana)
Data Sumber Bencana di Indonesia. (Foto: Pavel/Kompasiana)
"Banyak sekali mata pelajaran yang ada hubungannya dengan kebencanaan, seperti biologi, geografi. Kita bisa melihat dari burung-burung yang tiba-tiba berdatangan, hewan peliharaan yang tidak bisa diam. Biasanya kita sadar setelah pasca kejadian, kalau hal-hal tersebut adalah pertanda bencana. Oleh karena itu, masyarakat harus bisa belajar dari alam juga, bisa jadi program pendidikan, tapi setiap daerah kan pasti berbeda-beda," jawab Doni menanggapi edukasi yang pernah dikatakan Pak Jokowi.

Tim dari BNPB pun telah membuat aplikasi yang membantu para masyarakat untuk sadar dan berhati-hati akan bencana disekitar mereka. Aplikasi inaRisk Personal ini dijelaskan oleh Ridwan Yunus dan sangat efektif untuk mengetahui kemungkinan bencana disekitar kita.

Seperti dikutip dari laman inarisk.bnpb.go.id kalau aplikasi ini dibangun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana dengan dukungan dari Kementerian ESDM, Kementerian PU-Pera, dan BMKG serta lembaga lain terutama dalam penyediaan data.

Aplikasi "inaRISK Personal" akan terus dikembangkan dan berevolusi untuk memenuhi kebutuhan pembaharuan data, informasi, dan metodologi yang dapat memberikan manfaat kepada masyarakat.

Tentu saja, dengan semakin banyaknya informasi masyarakat kita bisa semakin tangguh menghadapi bencana.