Kompasiana News
Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Hukum Artikel Utama

Ironi Ahmad Dhani

12 Februari 2019   02:31 Diperbarui: 12 Februari 2019   21:20 2995 8 3
Ironi Ahmad Dhani
sumber foto: kompas.com/gary andrew lotulung

Kicauan Ahmad Dhani Prasetyo di media sosial Twitter berujung bui. Ahmad Dhani divonis satu tahun enam bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (28/01/2019).

Kasus ini menuai banyak kontra di masyarakat. Banyak masyarakat menilai vonis ini cacat hukum, terlalu dipaksakan, berbau politis, dan serta dampak dari pasal karet bernama UU ITE.

UU ITE kini masih menjadi polemik dan perdebatan. Undang-Undang ini semula dimaksudkan untuk menjerat para pelaku kejahatan transaksi elektronik. Namun kian kemari justru dijadikan alat memidakan.

Pakar Hukum Pidana Prof. Andi Hamzah pun mengatakan bahwa ujaran kebencian sudah diatur di KUHP Pasal 154 sampai 158.

Ia pun berpendapat, UU ITE ini seharusnya masuk ranah administrasi, bukan pidana. Dan ranah administrasi tidak boleh mengancam pidana berat.

"Paling tinggi satu tahun kurungan. Karena bukan untuk menghukum orang. Tapi untuk mempertahankan aturan itu tetap ditaati." katanya di ILC TV One (05/02/2019).

Tapi apa mau dikata, vonis tak bisa lagi dielakkan. Seperti diberitakan Kompas.com, Hakim menilai Dhani melanggar Pasal 45A Ayat 2 Juncto Pasal 28 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang ITE Juncto Pasa 55 Ayat 1 KUHP.

Ahmad Dhani adalah sosok fenomenal. Demikian juga dengan karya-karyanya. Majalah The Rolling Stone yang merupakan rujukan perkembangan musik dunia, menobatkan Ahmad Dhani sebagai salah satu dari "The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa." Tidak berlebihan jika kita menyebut Dhani sebagai musisi jenius. Sebab Dhani lah front man penggerak band Dewa 19.

Sebagai pemusik jenius, sudah banyak lagu yang diciptakan Ahmad Dhani menjadi hits dan merajai tangga lagu. Komposisi musiknya mampu mengantarkan grup musiknya, Dewa 19, atau grup lain yang berada di bawah asuhannya, menjadi beken dan terkenal.

Kemahiran Dhani dalam menghasilkan karya-karyanya dan mengasuh bibit-bibit musikus berpotensi tak perlu diragukan. Kita tentu ingat, ketika Ari Lasso harus didepak karena kasus narkoba, Dhani masih mampu menggerakan nama Dewa hingga melambung kembali dengan menggaet Elfonda Mekel (Once) menjadi vokalis.

Bukan hal mudah dalam sebuah band yang sudah memiliki nama demikian besar dan menghasilkan karya yang begitu laris masih tetap laku dan diakui ketika mengganti sang vokalis. Dan Dhani berhasil. Dewa dengan vokalis Once mampu menelurkan album-album laris. Siapa yang tak pernah bergoyang dan berdendang ketika lagu-lagu seperti Separuh Nafas, Risalah Hati, Roman Picisan diputar. Lagu-lagu ciptaan Dhani saat itu tidah hanya terkenal begitu romantis tetapi juga menggelitik, dan nakal serta memiliki makna dalam.

Namun Dhani juga tak lepas dari segala kontroversinya. 2014 lalu Dhani pernah dihujani hujatan lantaran menampilkan lambang Nazi dalam sebuah video klipnya. Selain itu ia juga menggubah salah satu lagu grup musik papan atas dunia, Queen, We Will Rock You, tanpa izin. Terlebih untuk kepentingan politik.

Gitaris Queen, Brian May pun mengamini. "Yes of course this is unauthorised by us. Bri," tulis Brian lewat akun Twitternya @DrBrianMay (25/06/2014).

Lagu lainnya yang mendapat anggapan sama yakni Jika Surga Dan Neraka Tak Pernah Ada. Lagu yang dinyanyikan bersama (almarhum) Chrisye ini dianggap menjiplak lagu Glory Box, Portishead.

Meski begitu, banyak juga yang menilai Ahmad Dhani hanya terinspirasi, tak berniat untuk plagiat.

Karya lain yang tak kalah mendapat sorotan publik adalah Laskar Cinta. Lagu ini syarat akan isi pesan-pesan positif untuk menebarkan benih-benih cinta guna menjunjung perdamaian, dan kritik fundamental yang tengah menjadi perhatian publik ketika itu.

Tak sedikit yang menilai lagu ini berisikan semangat toleransi dengan mengedepankan nilai kemanusiaan atas nama cinta sebagai sebuah kritik tajam terhadap kelompok-kelompok masyarakat yang menggunakan kekerasan atas nama agama.

Ditambah, ketika itu Dhani dan Dewa 19 didukung penuh untuk menyebarkan "virus-virus" cintanya oleh golongan Nahdlatul Ulama (NU). Karenanya, lagu--sekaligus nama album ketujuh Dewa 19--ini disukai banyak orang.

Tapi tidak dengan Front Pembela Islam (FPI). Laskar Cinta justru memancing amarah kelompok masyarakat yang bermarkas di Petamburan, Jakarta Barat ini. Sebab, sampul album yang terpampang mirip dengan kaligrafi Allah.

Kemudian sampul album itu juga pernah menjadi dekorasi panggung saat Dewa 19 manggung di sebuah stasiun televisi sehingga terinjak-injak oleh para personil.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2