Kompasiana News
Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Esport Artikel Utama

Populer di Kompasiana, dari Wacana Memasukan Esport dalam Kurikulum Pendidikan hingga Bahaya Depresi

5 Februari 2019   05:24 Diperbarui: 10 Februari 2019   20:43 340 4 3
Populer di Kompasiana, dari Wacana Memasukan Esport dalam Kurikulum Pendidikan hingga Bahaya Depresi
Seorang anak sedang mencoba bermain game di Game Arena Poseidon (Foto: kompas.com/Wahyunanda)

Melihat begitu besarnya antusiame warga Indonesia pada Esport, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi berencana memasukkan aktivitas ini dalam kurikulum pendidikan. Khususnya akan disusun dan pada tingkat sekolah menengah.

Pasalnya, sebagai cabang olahraga, Esports disinyalir membutuhkan kecerdasan yang dapat terasah melalui pembelajaran yang kontinyu. Dan kalangan muda ialah sasaran usia yang baik karena memiliki banyak waktu untuk mempelajari sesuatu dalam jangka waktu yang panjang.

Menurut Presiden IESPL Giring Ganesha, setidaknya ada kurang lebih 50 juta pemain gim di Indonesia dan sebanyak 60% di antaranya gemar menyaksikan pertandingan gim.

Dengan semakin booming-nya Esports di tanah air, apakah sudah saatnya pemerintah kita memasukkan Esports dalam kurikulum pendidikan?

Selain rencana pemerintah memasukan Esport ke dalam kurikulum, masih ada topik menarik lainnya di Kompasiana selama sepekan kemarin. Di antaranya ialah tips  mewaspadai penyakit selesma saat musim hujan tiba dan bahaya depresi yang acapkali kita abaikan. Berikut ulasannya:

1. Apakah Sudah Saatnya E-Sports Masuk Kurikulum Pendidikan Kita?

Hingga saat ini, belum ada satupun negara yang memasukkan Esports dalam kurikulum pendidikan nasional. 

Di Amerika Serikat saja, menurut Himam Miladi, belum ada satu negara bagian yang menyetujui bermain gim dianggap sebagai "olahraga resmi" yang bisa dimasukkan dalam mata pelajaran olahraga di sekolah. Pihak sekolah dalam hal ini sebatas membentuk klub-klub Esport.

Himam Miladi pesimis terhadap rencana Menpora Imam Nahrowi yang ingin memasukkan olahraga elektronik ini ke dalam kurikulum sekolah (baca selengkapnya).

2. Musim Hujan, Flu, dan Selesma

Banyak penyakit yang mengancam kala badan sedang tidak sehat. Terlebih pada musim hujan.

Sakit kepala yang berkepanjangan, demam, tenggorokan sakit, meriang, serta hidung mampet kerap dialami oleh masyarakat kita. Tak jarang kita mendefinisikannya sendiri sebagai penyakit flu. Padahal, bisa jadi yang sesungguhnya kita derita ialah penyakit selesma. 

"Sebenarnya flu dan selesma adalah dua penyakit yang berbeda, meskipun mayoritas gejalanya mirip-mirip," tulis Irmina Gultom.

Baik flu (influenza) dan selesma (common cold), keduanya adalah penyakit yang menyerang saluran pernafasan akibat virus yang berbeda. Influenza disebabkan oleh virus Influenza, sementara selesma biasanya disebabkan infeksi virus jenis Rhinovirus. Jangan sampai keliru memilih penanganannya (baca selengkapnya).

3. Memaksa Menulis Tanpa Membaca

Membaca, bagi Bambang Trim, adalah sahabat karib menulis. Jika diibaratkan dengan makanan, membaca itu adalah nutrisi bagi para penulis untuk mampu berpikir dan berperasaan secara bermutu. 

Gejala "asal tulis" biasanya menjangkiti mereka yang mengaku-aku sebagai penulis. Dalam tulisan Bambang Trim, indikasinya dapat dilihat dari tulisan yang tidak ada "dagingnya" alias minus manfaat. 

Ada 5 jenis tulisan yang acapkali ditemui, yaitu minus manfaat; tulisan yang tidak jelas tujuannya; tulisan yang ngopi sana ngopi sini atau lebih banyak meniru tulisan orang lain; tulisan yang menyajikan data dan fakta yang keliru atau tidak terkonfirmasi. Yang kelima, yakni tulisan yang miskin gagasan  (baca selengkapnya).

4. Ancaman Depresi yang Kita Abaikan

Menurut Dr. Andri, salah satu masalah medis yang perlu kita beri perhatian di tahun 2020 ialah depresi. Depresi adalah penyakit umum di seluruh dunia, dengan lebih dari 300 juta orang terkena dampaknya.

"Gangguan Jiwa ini akan menempati nomor dua dari penyakit yang membebani secara global di dunia ini," lanjutnya.

Depresi dapat menjadi kondisi kesehatan yang serius, apalagi jika dibarengi kondisi medis umum lainnya seperti gangguan jantung, gangguan endokrin seperti kencing manis dan penyakit tiroid, serta gangguan jantung dan gangguan saraf. 

Namun, yang perlu diwaspadai dari gangguan jiwa ini adalah  dapat menyebabkan orang yang menderitanya mengalami kualitas hidup yang menurun dan berfungsi buruk di tempat kerja, di sekolah dan di keluarga. 

"Yang terburuk, depresi dapat menyebabkan bunuh diri," tulis Dr. Andri dalam artikelnya (baca selengkapnya).

5. Buruk Muka Golput Dibelah

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2