Kompasiana News
Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Mereka yang Abadi, Meski (akan) Gugur di Piala Dunia 2018

12 Juni 2018   08:05 Diperbarui: 15 Juli 2018   23:55 2217 4 1
Mereka yang Abadi, Meski (akan) Gugur di Piala Dunia 2018
thetelegraph.co.uk

Setiap manusia yang bertumbuh dan berakal, sering kali dihadapkan pada harapan yang berlebihan dari sejarah. Akibatnya, kita gagap dan takut --cenderung kecewa-- kepada zaman. Dan yang terburuk: kacau menatap masa depan.

Sejarah tidak dibuat dengan sembarang. Segala yang berlalu itu masalalu, bukan sejarah. Sejarah itu warisan yang merangsang semangat di masa depan. Untuk itulah setiap pembelokan sejarah, pada saat yang bersamaan, tengah membelokan atas apa yang telah dicita-citakan.

Namun harapan adalah candu terbaik yang manusia punya. Lalu sejarah sering kali dijadikan kendaraan paling tepat untuk ditukangi. Dan gugur, barangkali, cara terbaik untuk tidak terjebak di antara harapan dan sejarah itu sendiri.

Bunga menjadi contoh yang --tidak hanya baik tapi juga-- cantik untuk menerangkan yang gugur tadi. Begini.

Adakah bunga yang gugur dari ranting menjadi peristiwa bersejarah? Ya. Meski terus berulang pada satu tanaman, misalnya, namun bunga-bunga yang berguguran itu mewarisi masa depan yang lebih baik untuk tanaman tersebut. Jika bunga-bunga itu tidak gugur bisa saja malah membunuh tanaman itu sendiri.

Betapa mulia proses gugur itu, bukan? Tidak perlu dimaknai dengan negarif. Sebab (gelar) pahlawan, biar bagaimanapun, baru bisa disematkan ketika sudah tiada alias gugur.

Apakah kemudian menerka tim-tim mana saja yang akan gugur menjadi tidak baik? Semoga tidak. Sebab dalam sebuah kejuaraan (apapun cabang olahraganya) hanya membutuhkan satu juara. Sisanya, gugur dalam perjalanan perjuangan itu.

Arab Saudi

The Indian Express/Reuters
The Indian Express/Reuters
Datang dengan pesawat yang bertuliskan -"God Bless You" dalam bahasa Arab- tim nasional Arab Saudi tiba di St. Petersburg. 23 pemain beserta staf pelatih akan memulai laga perdana --sekaligus pembuka-- melawan tuan rumah, Rusia.

Meski datang dengan 3 kekalahan beruntun pada laga uji coba, namun Juan Antonio Pizzi optimis kalau skuatnya mampu memulai turnamen ini dengan baik-baik saja.

"Mereka tahu apa yang diharapkan di Rusia dan tahu apa yang kami harapkan dari mereka, jadi kami siap untuk tampil dengan kemampuan terbaik kami," ujar Pizzi, juru taktik timnas Arab Saudi.

Tapi, bukanlah hal mudah untuk bisa lolos dari Grup A di mana Rusia, Mesir, dan Uruguay sedang dalam penampilan terbaiknya.

Sedangkan dari timnas Arab Saudi nampaknya masih mengandalkan duet Mohammad Al-Sahlawi dan Fahad Al-Muwallad di lini depan. Catatan impresif kedua pemain itu cukup menjanjikan: 38 gol dalam 83 permainan.

Pizzi memang sangat serius menatap Piala Dunia ini. Kami sangat menantikan Piala Dunia tanpa rasa takut, katanya. Ya. Semoga Tuhan merahmati timnas Arab Saudi.

Australia

FIFA.com/Daniel Kalisz/Getty Images
FIFA.com/Daniel Kalisz/Getty Images
Lolos sebagai wakil dari wilayah Asia, nampaknya Australia akan jadi satu-satunya negara yang akan rutin lolos ke Piala Dunia. Apalagi sekarang tim Socceroos, julukan untuk Timnas Australia, telah kembali ke pendekatan yang lebih defensif dan lebih pragmatis.

Namun, yang menjadi persamalahan atau pekerjaan rumah untuk Angelos "Ange" Postecoglou adalah kualitas bertanding anak asuhnya. Australia akan menghadapi tiga tim yang sangat berbakat di Grup C: Perancis, Peru dan Denmark.

Ketiga lawan timnya di fase grup bukanlah lawan-lawan yang mudah dicari kesamaan gaya bermain di level Asia. Perancis dengan kekuatan kedua lini sayap; Peru dengan gaya bertahan yang kuat; dan Denmark pada pemain lini tengah yang amat mumpuni.

Solusinya seperti akan jatuh kepada pemain-pemain senior mereka: Tim Cahill, Jackson Irvine dan Mile Jedinak. Juga pemain tengah mereka yang bermain seperti pemalas di lapangan: Aaron Mooy.

Sebagai pemain tengah, ia bukan tipikal pemain yang lihai menggiring bola. Kekuatannya justru pada pemain yang selalu mendistribusikan bola dengan cepat ke jantung pertahanan lawan. Sepertinya itu akan sedikit membantu Australia sebagai opsi mereka dalam menyerang dan bertahan (di Piala Dunia 2018).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3