Kompasiana News
Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Mereka yang Abadi, Meski (akan) Gugur di Piala Dunia 2018

12 Juni 2018   08:05 Diperbarui: 13 Juni 2018   11:43 1704 4 1
Mereka yang Abadi, Meski (akan) Gugur di Piala Dunia 2018
thetelegraph.co.uk

Setiap manusia yang bertumbuh dan berakal, sering kali dihadapkan pada harapan yang berlebihan dari sejarah. Akibatnya, kita gagap dan takut --cenderung kecewa-- kepada zaman. Dan yang terburuk: kacau menatap masa depan.

Sejarah tidak dibuat dengan sembarang. Segala yang berlalu itu masalalu, bukan sejarah. Sejarah itu warisan yang merangsang semangat di masa depan. Untuk itulah setiap pembelokan sejarah, pada saat yang bersamaan, tengah membelokan atas apa yang telah dicita-citakan.

Namun harapan adalah candu terbaik yang manusia punya. Lalu sejarah sering kali dijadikan kendaraan paling tepat untuk ditukangi. Dan gugur, barangkali, cara terbaik untuk tidak terjebak di antara harapan dan sejarah itu sendiri.

Bunga menjadi contoh yang --tidak hanya baik tapi juga-- cantik untuk menerangkan yang gugur tadi. Begini.

Adakah bunga yang gugur dari ranting menjadi peristiwa bersejarah? Ya. Meski terus berulang pada satu tanaman, misalnya, namun bunga-bunga yang berguguran itu mewarisi masa depan yang lebih baik untuk tanaman tersebut. Jika bunga-bunga itu tidak gugur bisa saja malah membunuh tanaman itu sendiri.

Betapa mulia proses gugur itu, bukan? Tidak perlu dimaknai dengan negarif. Sebab (gelar) pahlawan, biar bagaimanapun, baru bisa disematkan ketika sudah tiada alias gugur.

Apakah kemudian menerka tim-tim mana saja yang akan gugur menjadi tidak baik? Semoga tidak. Sebab dalam sebuah kejuaraan (apapun cabang olahraganya) hanya membutuhkan satu juara. Sisanya, gugur dalam perjalanan perjuangan itu.

Arab Saudi

The Indian Express/Reuters
The Indian Express/Reuters
Datang dengan pesawat yang bertuliskan -"God Bless You" dalam bahasa Arab- tim nasional Arab Saudi tiba di St. Petersburg. 23 pemain beserta staf pelatih akan memulai laga perdana --sekaligus pembuka-- melawan tuan rumah, Rusia.

Meski datang dengan 3 kekalahan beruntun pada laga uji coba, namun Juan Antonio Pizzi optimis kalau skuatnya mampu memulai turnamen ini dengan baik-baik saja.

"Mereka tahu apa yang diharapkan di Rusia dan tahu apa yang kami harapkan dari mereka, jadi kami siap untuk tampil dengan kemampuan terbaik kami," ujar Pizzi, juru taktik timnas Arab Saudi.

Tapi, bukanlah hal mudah untuk bisa lolos dari Grup A di mana Rusia, Mesir, dan Uruguay sedang dalam penampilan terbaiknya.

Sedangkan dari timnas Arab Saudi nampaknya masih mengandalkan duet Mohammad Al-Sahlawi dan Fahad Al-Muwallad di lini depan. Catatan impresif kedua pemain itu cukup menjanjikan: 38 gol dalam 83 permainan.

Pizzi memang sangat serius menatap Piala Dunia ini. Kami sangat menantikan Piala Dunia tanpa rasa takut, katanya. Ya. Semoga Tuhan merahmati timnas Arab Saudi.

Australia

FIFA.com/Daniel Kalisz/Getty Images
FIFA.com/Daniel Kalisz/Getty Images

Lolos sebagai wakil dari wilayah Asia, nampaknya Australia akan jadi satu-satunya negara yang akan rutin lolos ke Piala Dunia. Apalagi sekarang tim Socceroos, julukan untuk Timnas Australia, telah kembali ke pendekatan yang lebih defensif dan lebih pragmatis.

Namun, yang menjadi persamalahan atau pekerjaan rumah untuk Angelos "Ange" Postecoglou adalah kualitas bertanding anak asuhnya. Australia akan menghadapi tiga tim yang sangat berbakat di Grup C: Perancis, Peru dan Denmark.

Ketiga lawan timnya di fase grup bukanlah lawan-lawan yang mudah dicari kesamaan gaya bermain di level Asia. Perancis dengan kekuatan kedua lini sayap; Peru dengan gaya bertahan yang kuat; dan Denmark pada pemain lini tengah yang amat mumpuni.

Solusinya seperti akan jatuh kepada pemain-pemain senior mereka: Tim Cahill, Jackson Irvine dan Mile Jedinak. Juga pemain tengah mereka yang bermain seperti pemalas di lapangan: Aaron Mooy.

Sebagai pemain tengah, ia bukan tipikal pemain yang lihai menggiring bola. Kekuatannya justru pada pemain yang selalu mendistribusikan bola dengan cepat ke jantung pertahanan lawan. Sepertinya itu akan sedikit membantu Australia sebagai opsi mereka dalam menyerang dan bertahan (di Piala Dunia 2018).

Panama

FIFA.com/AFP/STRINGER
FIFA.com/AFP/STRINGER
Seperti yang dilaporkan Indian Eksprees, Presiden Panama bahkan berpikir untuk mengumumkan hari libur umum pada hari-hari Panama memainkan pertandingan grup mereka tetapi kemudian memutuskan untuk tidak melakukannya.

Menjalani debut Piala Dunia, Timnas Panama nampaknya akan sedikit memberi warna pada kejuaraan kali ini. Sejarah akan dimulai ketika mereka bermain melawan Belgia --sebelum bertemu Inggris dan Tunisia.

Berada di peringkat 55 dunia, Panama telah membawa enam pemain berusia 33 tahun atau lebih. Menarik sekali. Ketika sepakbola mengandalkan kecepatan, Pelatih Panama malah berpikir tidak demikian.

"Saya yakin satu hal, tidak ada yang ingin memainkan tim kecil di Piala Dunia, terutama jika Anda adalah tim besar dan terutama di babak pertama," kata Stempel, kepala pelatih Panama.

Ia mengingatkan betapa tim mesti terorganisasi dengan baik. "Tetap pada rencana bermain, disiplin, dan kepercayaan yang ada dalam hati dan pikiran (ketika bermain)."

Lucunya, dengan sedikit merendah, ternyata Stempel malah sengaja tidak berharap apa-apa pada anak asuhnya. Harapan yang rendah, katanya, dapat memiliki manfaat juga.

Polandia

The Sun/AP.Associated Press
The Sun/AP.Associated Press

Polandia berhasil lolos ke Piala Dunia dengan memenangkan hampir semua laga. Dalang kesuksesan itu siapa lagi kalau bukan Robert Lewandowski.

Dalam 93 pertandingan di tim nasional Polandia, Lewandowski telah mencetak 52 gol. Itu termasuk 16 gol yang dicetaknya selama kualifikasi Piala Dunia 2018. Jauh meninggalkan torehan gol pemain lainnya.

Bukan tidak mungkin cara serupa akan digunakan lawan-lawannya di Grup H; Jepang, Kolombia dan Senegal: cukup menghentikan Lewandowski. Maka selesailah perkara.

Arkadiusz Milik mungkin bisa menjadi pertimbangan lain yang menarik sebagai rotasi pemain dan bermain Polandia. Namun kendalanya pada Piala Dunia ini adalah rentetan cedera di musim terakhir, dan menimbulkan pertanyaan, apakah ia cukup fit untuk diandalkan sebagai starter reguler.

Masih juga ada nama-nama lain seperti Kamil Grosicki, Piotr Zielinski dan penjaga gawang yang akan menjadi suksesor Buffon di Juventus; Wojciech Szczesny.

Swedia

skysports.com
skysports.com
Entah keajaiban seperti apa yang menaungi Swedia ketika bisa menghempaskan Italia di babak playoff. Ia tidak hanya mengalahkan Italia, tapi menutup asa Buffon untuk bermain di Piala Dunia terakhirnya.

Yang kentara dari pertandingan itu adalah permainan bertahan Swedia yang dipunggawai Janne Andersson yang telah mengumpulkan dan mengerahkan unit pertahanan tangguh.

Faktanya, ia telah mengawal pertahanan dengan baik, dari 12 pertandingan, Swedia hanya kemasukan sebanyak 9 kali.

Sedangkan dua pemain muda Swedia, Emil Forsberg dan Viktor Claesson sangat bisa diandalkan. Meski tanpa kehadiran Zlatan Ibrahimovic, semestinya Swedia masih bisa memberi lawan-lawannya di Grup F: Korea Selatan, Jerman dan Meksiko.

Sedikit-banyaknya grup ini merupakan yang tersulit di antara delapan grup lain. Apalagi jika melihat rekam jejak Swedia yang buruk. Skuad yang tidak selalu memiilki celah di segala lini, membuat prestasi Swedia akan tampak tanpa perubahan: lolos ke putaran final, lalu gugur.

***

Jadi tidak perlu kecewa dengan tim-tim yang (langsung) gugur di Piala Dunia 2018. Bisa jadi itu adalah cara paling tepat untuk tim yang benar-benar bermain baik bisa berjalan mulus.

Gugur, pada akhirnya, hanyalah soal waktu. Namun, jika boleh menyatir cerpen Seno Gumira GoKill, apapun yang membuatnya gugur ini sangatlah perlu. Ingat, sebab tidak baik menghalangi jalannya (tim) yang ingin mencapai cita-citanya.

(HAY/ibs)