Kompas.com
Kompas.com

Kompas.com merupakan situs berita Indonesia terlengkap menyajikan berita politik, ekonomi, tekno, otomotif dan bola secara berimbang, akurat dan terpercaya.

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Penjelasan BMKG soal Cuaca Panas di Jakarta

11 Oktober 2018   19:44 Diperbarui: 11 Oktober 2018   19:48 216 0 0
Penjelasan BMKG soal Cuaca Panas di Jakarta
Seorang perempuan menggunakan tangannya untuk menahan sinar matahari agar tidak kepanasan di siang hari yang terik

JAKARTA, KOMPAS.com - Cuaca panas menerpa wilayah Jakarta selama beberapa hari terakhir.

Mengutip situs accuweather, suhu udara tertinggi di Jakarta sejak awal Oktober berada di kisaran 33 hingga 35 derajat celcius.

Kepala Bagian Humas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Hary Tirto Jatmiko mengatakan, fenomena tingginya suhu udara di Jakarta merupakan fenomena yang alamiah terjadi.

Baca juga: BMKG Pastikan Angin Kencang di Semper Barat Jakut Bukan Puting Beliung

"Fenomena cuaca panas dan terik merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi. Kejadian cuaca panas dan terik lebih sering terjadi pada pada bulan-bulan puncak musim kemarau dan masa pancaroba," kata Hary, kepada Kompas.com, Kamis (11/10/2018).

Hary menuturkan, ada dua faktor yang menyebabkan tingginya suhu udara tersebut. Faktor pertama adalah gerak semu matahari yang kini berada di sekitar khatulistiwa.

"Sehingga radiasi matahari yang masuk cukup optimum. Hal ini ditandai dengan hasil monitoring suhu udara maksimum berkisar antara 34,0-37,5 derajat celcius," kata Hary.

Hary menyebut, angka tersebut masih terbilang normal dalam data klimatologis selama 30 tahun terakhir.

Faktor kedua, lanjut Hary, yakni aliran udara dingin dan kering yang berasal dari Australia menuju wilayah Indonesia.

Baca juga: BMKG: Mohon Jadi Agen Pemutus Hoaks Bencana

"Aliran massa udara dingin dan kering yang bergerak dari Australia menuju wilayah Indonesia sebelah selatan khatulistiwa, terutama di sekitar Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara," kata dia.

Hary menuturkan, aliran massa udara itu menyebabkan rendahnya kelembaban udara yang kini berada di bawah angka 60 persen di ketinggian 3-5 kilometer di atas permukaan.

Hary menambahkan, cuaca panas yang terjadi di Jakarta juga berlangsung di sepanjang Pulau Jawa, Bali, hingga wilayah Nusa Tenggara.