Mohon tunggu...
JTO
JTO Mohon Tunggu...

Berpengalaman mengelola perusahaan penerbitan media cetak dan televisi lokal. Sekarang penulis, pengajar dan pengelola rumah produksi. Memberi pelatihan jurnalistik untuk wartawan dan praktisi kehumasan. Memberi konsultasi bisnis media dan strategi komunikasi. Menulis buku Bisnis Gila (2004) dan Akal Sehat Dahlan Iskan (2014), Semua Orang Bisa Sukses (2015) dan Investasi Mulia (2016) email: intartosaja@gmail.com. Blog: www.catatanmuriddahlan.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Said Tuhuleley dan Klinik Apung

20 Desember 2016   13:02 Diperbarui: 20 Desember 2016   13:05 0 0 0 Mohon Tunggu...

Tidak ada hubungan antara nama ‘’Said Tuhuleley’’ dengan ‘’klinik apung’’ kecuali ‘’tiga M’’: Marginal, Maluku dan Muhammadiyah. Said Tuhuleley merupakan nama yang akan disematkan Muhammadiyah pada sebuah klinik apung untuk melayani masyarakat miskin di kepulauan Maluku dan Papua.

Pemilihan nama Said Tuhuleley untuk klinik apung pasti bukan sebuah kebetulan. Sebab, Said dikenal sebagai ‘’pejuang kaum marginal’’di lingkungan Muhammadiyah. Semasa menjadi Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) hingga berpulang pada 9 Juni 2015 lalu, Said gigih menjalankan berbagai program peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin.

Tidak hanya masyarakat miskin yang berduka dengan meninggalnya Said. Muhammadiyah pun merasa sangat kehilangan kader terbaik yang getol membumikan konsep ‘’dakwah sosial’’ itu dalam praktik sehari-hari itu. Untuk menghidupkan semangat melayani kaum dhuafa, Muhammadiyah menetapkan ‘’Said Tuhuleley’’ sebagai nama klinik apung. 

Klinik apung ‘’Said Tuhuleley’’ dibangun di atas sebuah kapal pesiar berukuran sekitar 3,5 meter x 33 meter. Klinik ini akan memberi pelayanan kesehatan kepada kaum miskin di wilayah kepulauan Maluku hingga Papua secara periodik.

Saat ini, pembangunan klinik apung ‘’Said Tuhuleley’’ tengah diselesaikan di sebuah galangan kapal di kawasan Cilincing, Jakarta Utara. Diharapkan, kapal bisa dioperasikan pada saat sidang Tanwir Muhammadiyah, Februari 2017.

Pembangunan klinik apung ‘’Said Tuhuleley’’ menghabiskan dana sekitar Rp 2 miliar. Biaya tersebut hanya meliputi konstruksi kapal, belum termasuk peralatan medisnya. Sumber dana diperoleh dari masyarakat yang menyalurkan donasinya melalui Lazismu.

Bagaimana dengan biaya operasionalnya? Direktur Utama Lazismu Andar Nubowo meyakini bahwa masyarakat akan akan terus bersimpati dengan memberikan donasinya untuk biaya operasional klinik terapung tersebut.

Keyakinan Andar tidak berlebihan. Sebab, masyarakat selama ini terbukti selalu mendukung program Lazismu yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan kaum dhuafa. ‘’Alhamdulillah, masyarakat percaya pada kredibilitas Lazismu sebagai lembaga pengumpul dan penyalur dana sosial,’’ jelas Andar.

Tertarik dengan program klinik apung? Salurkan infak, sedekah dan zakat Anda melalui Lazismu, atau kunjungi kantor layanan Lazismu terdekat.(jto)

KONTEN MENARIK LAINNYA
x