Abdul Salam Atjo
Abdul Salam Atjo Penyuluh Perikanan

Karyaku untuk Pelaku Utama Perikanan

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Pra Inspeksi ASIC sebagai Pembelajaran Petambak Udang

27 Februari 2019   13:25 Diperbarui: 27 Februari 2019   13:54 78 0 0
Pra Inspeksi ASIC sebagai Pembelajaran Petambak Udang
Tim Pra Ispeksi ASIC di Tambak Desa Waetuoe

Dalam rangka penerapan budidaya perikanan berstandar internasional di kabupaten Pinrang maka tim dari Asian Seafood Infrovement Colloborative (ASIC) melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di sentra budidaya udang di kelurahan Lanrisang dan desa Waetuoe kecamatan Lanrisang, Pinrang kemarin.

Inspektor Asic, Dr. Jack Morales di dampingi Direktur PT Atina, Harry Yuli Susanto bersama staf dan penyuluh perikanan selama dua hari mengunjungi kawasan pertambakan udang di Lanrisang dan di desa Waetuoe. Hary menjelaskan, kunjungan inspeksi ini bertujuan untuk melihat dan mengetahui secara langsung kondisi praktek budidaya udang yang dilakukan petambak di kabupaten Pinrang. 

Selain itu, juga dapat memberi pemahaman kepada petambak tentang cara budidaya udang windu yang berstandar internasional. "Agar udang windu yang diproduksi oleh petambak sesuai standar yang diinginkan oleh pasar global," kata Hary.

Dalam pertemuan pembudidaya udang dengan tim Asic dan Atina, Rabu, kemarin, Hary menjelaskan, volume ekspor udang windu ke Jepang sulit untuk ditingkatkan. Karena itu sebelum melakukan pelebaran pasar ke Amerika dan Uni Eropa maka perlu dilakukan sertifikasi kepada pembudidaya agar dapat menghasilkan komoditas udang windu sesuai dengan standar yang dipersyaratkan oleh pasar luar negeri. 

Kedatangan tim Asic kemarin merupakan pra isnpeksi untuk menelusuri dan mencocokkan cara budidaya udang yang dilakukan oleh petambak dengan standar yang telah dibuat oleh Asic.

Ada beberapa pertanyaan dari inspektor Asic terkait dengan praktik budidaya udang yang dilakukan petambak di Pinrang. Pertanyaan tersebut antara lain terkait dengan legalitas kepelikan lahan tambak, pencatatan dalam manajemen budidaya dari mulai persiapan tambak, proses budidaya hingga panen dan pasca panen. Semua yang ditanyakan kepada petambak harus memerlukan pembuktian dengan pencatatan dan dolumentasi. 

"Belum ada penambak yang ditemui memeiliki bukti catatan yang lengkap terkait kegiatan budidaya tambak misalnya, pencacatan kapan dilakukan persiapan tambak, memasukkan airm memupuk dan bukti nota pembelian pupuk, saponin, benur dan lainnya semua belum dimilki petambak," ungkap Hary.

Pencatatan-pencatatan tersebut sangat dibutuhkan dalam sertifikasi. Demikian juga dalam membasmi hama di tambak yang menggunakan bahan kimia sangat bertentangan dengan Asic. Harry mengatakan, paling tidak ada tujuh point penting yang akan ditanyakan kepada petambak. Pertama, ketertelusuran ( tracebility) meliputi legalitas tambak, kesesuaian standar budidaya udang yang benar, dokumen tambak dan lainnya. 

Kedua, manajemen kesehatan udang, meliputi pemataun kesehatan udang, kualitas air, penggunaan antibiotik dan obat kimia. Ketiga, sumber benur, meliputi ketelusuran dokumen penerimaan benur, identifikasi penyedia benur dan lainnya. Keempat, penyediaan sumber pakan, kelima dampak lingkungan. Keenam, aspek sosial dan ketujuh, standar pembenihan udang.

"Paling penting bagi petambak melakukan pencatatan tentang kegiatan yang dilakukan di tambak dari mulai persiapan lahan, penebaran, pengelolaan kualitas air, proses panen hingga pasca panen dan menyimpan semua dokumen pembelian sarana produksi dan dokumen bukti penjualan udang," pungkas Hary.