Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Penulis - Penulis
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Kamu bintang besar! Apa yang akan menjadi keberuntungan Anda jika Anda tidak memiliki sesuatu yang membuat Anda bersinar? -Friedrich Nietzsche-

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Manusia: Narasinya adalah Konsekuensi?

11 Juli 2020   11:54 Diperbarui: 14 Juli 2020   17:00 492
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar: theduran.com

Ketika orang berbicara, apa yang salah dari pembicaraan itu? Mungkin benar, tidak semua konsep apa yang menurut satu manusia ideal, "ideal" juga menurut manusia lain. 

Dalam hal ini menjadi dilema mungkin ada, mengapa dikatakan sebagai suatu dilema? Karena tidak ada yang pasti dalam manusia bersudut pandang, semua serba apa yang baik menurut penafsirsanya sendiri.

Peradaban yang memilih mungkin pantas disematkan sebagai acuan yang akan terus dikumandangan manusia abad 21. Bukan apa, pesatnya teknologi, mode, dan pemikiran mengenai kehidupan sendiri begitu maju diabad ke-21 ini.

Sepertinya kondisi inilah yang membuat saya juga memilih sebagai manusia umumnya manusia di dalamnya, yang berpikir dengan cenderung menimbang apa saja yang penting untuk hidup saya sendiri. 

Apakah sesuatu yang "memilih" itu hanya akan menjadi kesia-siaan belaka? Atau malah menambah beban hidup yang ada? Pikiran saya dalam sesegukan pertanyaan dalam pemikiran-pemikiran ini.

Memilih memang bukan perkara gampang, seperti memilih dalam menulis topik-topik apa yang belum tersentuh oleh kebanyakan pemikir lainnya. Atau tulisan-tulisan dengan kadar harus dibaca dua atau tiga kali untuk paham konten yang disajikan dari penulis kepada pembaca.

Tetapi perkara bentuk dari apa pilihan itu, tidak lepas adalah konsekwensi yang harus ditanggungnya sendiri, bagaimana melihat pahit di dalam manis sebagai konsekwensi dari pilihan itu dalam memilih.

Memang menjadi manusia bukan hanya harus ditangguhkan pada pilihannya, tetapi juga memilih dengan apa yang ingin dipilihnya sendiri. Tentang berbagai pengetahuan di sana, apakah menjadi sebuah rujukan untuk manusia dalam menentukan pilihannya? Sebagai keputusan hidup yang harus dipilih mereka pada akhirnya dalam menjalani hidup ini?

Semacam menjadi ajang untuk renungan. Bawasannya; "Manusia bukan hanya memilih yang akan baik untuk dirinya sendiri, tetapi memilih siapa saja yang akan hadir dalam hidupnya juga merupakan bentuk dari pilihan hidup yang tidak harus manusia kesampingkan, baik dalam menjadi diri sendiri atau setiap saat ada di dalam kerumunannya".

"Hanya menjadi pengumbar kata obsesi sebenarnya menjadi manusia; "orang lain menjadi penimbang apa yang disesalkan dengan keputusan orang-orang lainnya yang menurutnya ganjil". Tetapi di sini apakah ada orang yang mampu mendengarkan orang lain, yang lebih lagi dari itu, menuruti apa pendapat orang lain?

Jelas sebagai pertanyaan sendiri ini sudah menjadi sesuatu yang gamblang. Konsep dari ideal itu sendiri tidak mungkin akan bertumbuh dari pemikiran manusia lain selain dirinya sendiri."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun