Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mencari Energi Daya Hidup

25 September 2019   17:24 Diperbarui: 1 Oktober 2019   18:57 0 1 0 Mohon Tunggu...
Mencari Energi Daya Hidup
sumber gambar: bioenergi.co.id

Siang yang tidak diinginkan kini, terus terang aku ingin menghela nafas yang panjang untuk mengumpulkan sedikit-sedikit energi yang hilang itu. Ketenangan dan kesendirian: apakah benar itu menjadi sesuatu yang baik? Tentang berbagai tanya: aku ingin bertanya, apakah aku "manusia " yang tidak dapat tertebak energinya, bahkan aku sendiri yang membacanya tidak dapat: aku mengerti?

Berbagai kutipan, berbagai pelarian, dan berbagai apapun cara menyembuhkan diri itu sendiri. Rasa-rasanya manusia harus mencari, bahkan akupun terus dikaitkan untuk sesegera mungkin mewujudkannya. Bukan saja aku dituntut sebagai penghibur bagi dan dari diriku sendiri, tetapi aku juga ditutut sebagai peyembuh  dari dan bagi diriku sendiri.

Tentang kesenangan disana, mereka berlari-lari dengan dirinya, berbagai macam barang itu seperti sepedanya; apakah benar  keterikatan pada sesuatu harus dicari agar manusia tidak menjadi kebingungan di dalammnya? 

Misalnya keterikatan diriku dengan menulis karena aku tidak cukup berani untuk melepaskan diriku begitu saja? Tentu energi yang hilang itu, manusia memang harus mencari, tetapi bagaimana dengan seseorang yang lelah dengan dirinya sendiri mengekspresikan segala bentuk macam aktivitasnya?

Tidak cukupkah dimengerti bahwa; sesuatu yang hilang itu; termasuk daya-daya hidup, akankah menjadi barang yang dicari dan menjadi harta karunia yang paling besar dalam hidup ini? Berbagai ketenangan batin itu, roh-roh seperti ingin menari menanggapi apa yang menjadi pikiranya kini. 

Keadaan yang dingin dan musik instrumental yang sedang aku dengarkan; seperti bentuk pelarian-pelarian itu yang harus mencapai sepadan bahwa: "menjadi manusia seperti menjadi suasana hatinya, yang terkadang merekapun tidak dapat menebaknya untuk menemukan jawaban akan rasanya sendiri".

Gunung-gunung, kesunyian, dan  energi-energi dalam diam mencari kepositifan jiwa lelah untuk menjadi kuat pada akhirnya. Karena itu, aku kembali, aku kembali menjadi diriku yang menginginkan ketenangan sebagai daya hidup, menghentikan sejenak pikiran, dan mengamati apa sebenarnya  menjadi suara hati itu? 

Tanpanya; "suasana hati yang baik" manusia seperti tidak akan menjadi manusia yang utuh, berbagai gelombang, apakah akan terus dirasakan sebagai diri yang tidak dapat dimengerti itu?

Lambaian tangan dari seseorang disana, tentang semua hal yang mempengaruhi, mungkinkah kedalaman hati itu dapat terekspresikan dengan baik melalui berbagai obrolan-obrolan intim disetiap harinya tersebut antara manusia satu dan lainnya? 

Dengan bekas luka, dengan bekas-bekas derita yang menerjang manusia, tidakah ini menjadi suatu pertanda bahwa: "seseorang dituntut untuk saling menguatkan diri pada akhirnya didalam mimbar kehidupan yang rapuh, cenderung tidak terima pada dunia, dan rasa ketidaksukaaan pada keadaanya sendiri sebagai manusia?

Tetapi berbagai dasar dari semua, apakah manusia-manusia mengetahuinya, dan memang benar-benar tahu: bagaimana menjadi dirinya sendiri? 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x